JATIMTIMES – Upaya penurunan stunting di tingkat nasional belum sepenuhnya menandakan selesainya persoalan gizi kronis pada anak. Fakta di lapangan menunjukkan, penanganan stunting membutuhkan pendekatan lebih komprehensif, tidak hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga penguatan pengetahuan serta peran komunitas di tingkat desa.
Hal ini tercermin dari pelaksanaan program promosi dan pencegahan stunting berbasis desa yang dijalankan PT Cargill Indonesia selama empat tahun terakhir melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Program yang dimulai sejak 2022 itu kini menuntaskan fase kedua dengan memperluas cakupan wilayah sekaligus memperdalam pendekatan berbasis komunitas.
Baca Juga : RINGKASAN LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (RLPPD) KOTA MALANG TAHUN 2025
Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia, Adi Suprayitno, menyampaikan bahwa sejak awal program dirancang untuk mendorong pencegahan stunting dari desa dengan menitikberatkan pada penguatan kapasitas masyarakat.
"Penekanan utamanya adalah penguatan pengetahuan dan peran komunitas sebagai garda terdepan pencegahan stunting," ujarnya.
Pada fase awal, program difokuskan di tiga desa di Kecamatan Manyar. Memasuki fase kedua, cakupan diperluas menjadi enam desa dengan menggandeng Penala Samahita Parma (Penala) sebagai mitra pelaksana. Enam desa tersebut meliputi Manyarejo, Manyarsidomukti, Manyarsidorukun, Peganden, Leran, dan Banjarsari.
Penutupan fase kedua program dikemas dalam kegiatan bertajuk “Penutupan Program Promosi dan Pencegahan Stunting di Desa Fase 2: Refleksi dan Strategi ke Depan” yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal di Hotel Horison Gresik, Senin (30/3/2026). Kegiatan ini menjadi forum evaluasi sekaligus merumuskan langkah keberlanjutan bersama para pemangku kepentingan.
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, menegaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif lintas sektor dan tidak bisa berjalan parsial.
"Penurunan stunting ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak cukup pemerintah daerah, tidak cukup dinas, dan tidak bisa hanya perusahaan. Ini harus kolaboratif," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya orientasi pada dampak nyata. "Program boleh banyak, relawan boleh banyak, tapi kalau tidak berdampak, itu yang harus dievaluasi," imbuhnya.
Mengusung tema “Rukun Desane, Guyub Wargane, Ambalas Stuntinge”, program ini menekankan bahwa stunting merupakan persoalan kolektif yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga sektor swasta.
Secara nasional, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14,2 persen pada 2029 dan 5 persen menuju Indonesia Emas 2045. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat menurun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Di Gresik, angka stunting juga turun dari 15,4 persen menjadi 15,2 persen.
Meski demikian, Cargill menilai tren penurunan tersebut tidak boleh disikapi terlalu optimistis. Tantangan di lapangan, seperti perubahan perilaku dan kesenjangan akses layanan, masih menjadi pekerjaan rumah.
Baca Juga : BPJS Ketenagakerjaan Blitar Sosialisasikan JKK hingga JP ke Persekutuan Gereja
"Angka hanyalah satu sisi dari persoalan. Tantangan di lapangan masih nyata, terutama terkait pola asuh, pengetahuan gizi, dan kondisi sosial ekonomi," ujar Adi.
Di Kecamatan Manyar, misalnya, banyak orang tua bekerja di sektor industri sehingga memiliki keterbatasan waktu dalam pengasuhan anak. Selain itu, sebagian masyarakat merupakan pendatang yang belum sepenuhnya terhubung dengan layanan kesehatan maupun sistem sosial desa.
Karena itu, program CSR Cargill lebih menitikberatkan pada pendekatan promotif dan preventif melalui edukasi serta peningkatan kapasitas masyarakat. Salah satu strategi yang dikembangkan adalah pembentukan Laskar Cegah Stunting, kelompok penggerak berbasis komunitas yang melibatkan kader PKK, bidan desa, penyuluh KB, dan kader kesehatan.
Sebanyak 42 kader telah mendapatkan pelatihan komunikasi perubahan perilaku serta pendampingan praktik kesehatan keluarga. Mereka aktif menggelar berbagai kegiatan edukasi, seperti kelas ibu menyusui dan parenting balita PAUD yang rutin diikuti ratusan peserta.
Selain itu, dibentuk pula forum rembuk stunting desa sebagai ruang dialog lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah desa, PKK, tokoh masyarakat, hingga kader posyandu. Forum ini berperan menyelaraskan isu stunting dengan perencanaan dan penganggaran pembangunan desa.
Cargill menegaskan bahwa penguatan komunitas menjadi kunci utama agar penurunan stunting dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Kami tidak ingin hanya menjadi donor program. Kami ingin membangun nilai bersama dan mendorong transformasi sosial di masyarakat," imbuh Adi Suprayitno.
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga perwakilan industri di kawasan Manyar, yang bersama-sama menegaskan pentingnya kolaborasi dalam percepatan penurunan stunting di tingkat lokal.
