JATIMTIMES - Penanganan banjir di Kota Malang mulai menemukan titik terang. Sejumlah penyebab yang selama ini memicu genangan akhirnya terkuak usai peninjauan lapangan yang melibatkan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Wahyu mengapresiasi kunjungan wagun karena membantu mempercepat identifikasi persoalan banjir yang sempat terjadi. Dari hasil peninjauan, diketahui bahwa penyebab banjir tidak berdiri sendiri, melainkan kombinasi dari beberapa faktor yang berkaitan.
Baca Juga : Ramalan Zodiak 20 Maret 2026: Aries Penuh Keberanian, Taurus Diminta Fokus Prioritas
“Permasalahan-permasalahan itu sudah kita inventarisasi dan alhamdulillah satu per satu mulai bisa kita selesaikan,” ujar Wahyu.
Salah satu penyebab utama yang ditemukan adalah tumpukan sampah yang menyumbat aliran menuju saluran drainase. Sumbatan ini membuat air tidak dapat mengalir optimal hingga akhirnya meluap ke permukaan.
Selain itu, persoalan teknis juga ditemukan pada sistem pintu air. Saat kondisi pintu air terbuka, aliran air justru tidak masuk ke saluran yang telah disiapkan, melainkan meluber ke kawasan yang lebih rendah dan memicu banjir.
“Ke depan, mekanisme buka tutup pintu air ini akan kita atur lebih ketat. Saat debit air tinggi, pintu akan ditutup agar aliran masuk ke saluran yang sudah disiapkan,” ujar Wahyu.
Sementara itu, Emil Elestianto Dardak mengungkapkan bahwa di lapangan ditemukan berbagai temuan tak terduga yang memperparah kondisi aliran air. Mulai dari sampah berukuran besar hingga sisa material proyek yang belum dibersihkan secara optimal.
“Bayangkan, ada bantal, ban, sampai kayu besar yang terbawa aliran. Kalau semua tertahan, ini seperti membentuk tembok sampah, air akhirnya meluap ke jalan,” jelas Emil.
Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan modifikasi pada sistem penyaringan agar sampah besar tetap tertahan, namun air tetap bisa mengalir lancar. Upaya ini dilakukan melalui kerja kolektif antara tim Pemerintah Kota Malang dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Tak hanya itu. Emil juga menyoroti fungsi sediment trap atau penangkap endapan yang sebelumnya belum bekerja maksimal. Hal ini disebabkan masih adanya sisa material proyek yang ikut mengendap di dalam saluran. Kini, setelah dilakukan pembersihan, aliran air disebut mulai kembali normal dan lebih lancar.
Baca Juga : DPRD Jatim Dorong Kolaborasi Atasi Kerusakan Jalan di Bondowoso
Di sisi lain, Emil juga menyinggung aspek infrastruktur yang masih dalam tahap pengembangan. Ia menegaskan bahwa sejumlah area yang tampak belum rapi, seperti trotoar, sejatinya merupakan bagian dari proyek saluran air yang akan disempurnakan pada tahap berikutnya.
“Fokus saat ini adalah fungsi saluran. Untuk estetika dan kenyamanan, nanti akan disempurnakan sesuai desain besar kota,” ujarnya.
Poin krusial lainnya adalah pengelolaan pintu air di bagian hilir. Emil menekankan bahwa dalam kondisi normal, pintu air seharusnya berada dalam posisi tertutup untuk mencegah limpasan air menuju sungai-sungai yang rawan meluap.
Jika pintu air terbuka saat debit tinggi, air akan mengalir ke kawasan seperti Ciliwung dan Kedawung yang berpotensi mengalami banjir.
“Kalau pintu ditutup, saluran ini masih mampu menampung air. Ini kunci pengendalian yang harus dijaga,” tambahnya.
Dengan berbagai pembenahan tersebut, penanganan banjir di Kota Malang kini tidak lagi sekadar reaktif, tetapi mulai bergerak ke arah sistem yang lebih terintegrasi. Meski demikian, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar sistem pengendalian banjir bisa berjalan optimal dan berkelanjutan.
