Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

STIE Malangkucecwara Tutup Program Sakura 2026 dengan Gebyar Karya Mahasiswa Jepang

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

10 - Mar - 2026, 19:33

Placeholder
Program Sakura 2026 resmi ditutup, nampak para mahasiswa dari Jepang mengikuti prosesi penutupan (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara resmi menutup Program Sakura 2026 pada Selasa (10/3/2026). Penutupan program pertukaran budaya tersebut dikemas meriah melalui kegiatan Gebyar Karya mahasiswa peserta program di STIE Malangkucecwara.

Program Sakura merupakan agenda tahunan yang mempertemukan mahasiswa dari Kanda University Jepang dengan lingkungan akademik dan budaya Indonesia di STIE Malangkucecwara. Selama hampir satu bulan, para mahasiswa Jepang mengikuti program pembelajaran intensif yang mencakup bahasa Indonesia, pengenalan budaya, hingga praktik pemahaman bisnis di Indonesia.

Baca Juga : Antisipasi Kemacetan Mudik, Satlantas Malang Kota Batasi Truk dan Pasang Barrier di Batas Kota

Kepala Kantor Urusan Internasional STIE Malangkucecwara, Dwinita Ariani PhD menjelaskan, Program Sakura telah berjalan sejak 2002 dan menjadi salah satu program internasional yang konsisten digelar setiap tahun.

“Program Sakura ini merupakan program intensif bagi mahasiswa Kanda University Jepang untuk belajar bahasa, budaya, dan bisnis di STIE Malangkucecwara. Mereka biasanya belajar di sini kurang lebih satu bulan,” kata Dwinita saat penutupan program.

Pada tahun ini, sebanyak 13 mahasiswa dari Jepang mengikuti program tersebut. Mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga tinggal di homestay di sekitar kampus agar dapat merasakan langsung kehidupan masyarakat lokal.

Menurut Dwinita, perkembangan kemampuan para peserta terlihat cukup signifikan dalam waktu singkat. Saat pertama datang, sebagian besar mahasiswa Jepang belum mampu berbahasa Indonesia. Namun setelah mengikuti proses pembelajaran selama hampir tiga minggu, mereka mulai mampu berkomunikasi dengan baik.

“Awalnya mereka belum bisa berbahasa Indonesia. Tetapi setelah beberapa minggu belajar, sekarang mereka sudah cukup pintar berbahasa Indonesia. Bahkan ada yang sudah bisa menari dan membuat batik,” ujarnya.

Hasil pembelajaran tersebut ditampilkan dalam kegiatan penutupan melalui berbagai pertunjukan seni serta presentasi hasil belajar. Para mahasiswa menunjukkan kemampuan mereka dalam memahami budaya Indonesia, termasuk seni tari dan keterampilan membatik yang dipelajari selama program berlangsung.

Selain kegiatan seni, momentum penutupan Program Sakura juga diwarnai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU antara STIE Malangkucecwara dengan dua sekolah menengah kejuruan, yakni SMK Putra Indonesia Malang (PIM) dan SMK dari Kota Batu.

Kerja sama ini membuka ruang kolaborasi pembelajaran antara mahasiswa asing dengan pelajar di tingkat sekolah menengah. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dari Kanda University berbagi pengetahuan mengenai budaya Jepang, sementara siswa SMK memperkenalkan bidang keahlian yang mereka pelajari.

“Mahasiswa dari Jepang berbagi tentang budaya mereka, sedangkan siswa SMK memberikan pembelajaran sesuai bidang mereka. Misalnya dari SMK kesehatan memperkenalkan materi terkait kesehatan,” jelas Dwinita.

Ia menambahkan, interaksi tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang menarik karena melibatkan dua latar belakang budaya dan sistem pendidikan yang berbeda. Meskipun STIE Malangkucecwara telah menjalin kerja sama dengan berbagai sekolah sebelumnya, tahun ini menjadi awal kolaborasi dengan dua SMK tersebut.

Program Sakura tahun ini juga memiliki nuansa yang berbeda karena berlangsung pada bulan Ramadan. Kondisi tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi mahasiswa Jepang yang belum pernah merasakan suasana ibadah puasa di Indonesia.

Dwinita menjelaskan bahwa pihak kampus, termasuk keluarga homestay, melakukan berbagai penyesuaian agar para peserta tetap merasa nyaman selama program berlangsung.

Baca Juga : Viral Kabar Adik Netanyahu Tewas dalam Serangan Iran di Tel Aviv, Benarkah? Ini Faktanya

Sebaliknya, mahasiswa Jepang justru memperoleh pengalaman unik mengenai tradisi Ramadan di Indonesia. Mereka diperkenalkan pada kebiasaan masyarakat selama bulan puasa, mulai dari kegiatan berbuka puasa hingga suasana sahur.

“Mahasiswa Jepang juga belajar tentang bagaimana masyarakat menjalani puasa, bagaimana berbuka, sampai bagaimana sahur. Mereka melihat langsung perubahan suasana lingkungan, misalnya siang hari warung lebih sepi, tetapi malam hari ramai karena banyak yang menjual makanan,” ungkapnya.

Para peserta bahkan sempat mengikuti kegiatan memasak dan berbuka puasa bersama. Pada sore hari mereka diajak melihat aktivitas penjual takjil serta merasakan tradisi ngabuburit yang menjadi bagian dari budaya Ramadan di Indonesia.

Bagi para mahasiswa Jepang, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran lintas budaya yang tidak mereka dapatkan di ruang kelas.

Setiap tahun, STIE Malangkucecwara juga melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Sakura untuk meningkatkan kualitas kegiatan. Dwinita menyebutkan bahwa variasi kegiatan terus dikembangkan agar peserta dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih kaya.

Ke depan, kampus berencana menambah variasi kegiatan budaya, termasuk memperluas jenis seni yang dipelajari serta memperkuat metode pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing.

Selain itu, kenyamanan peserta juga menjadi perhatian penting, termasuk dalam penyediaan homestay yang menjadi tempat tinggal mahasiswa selama program berlangsung.

Menurut Dwinita, pelayanan dari keluarga homestay selama ini dinilai sangat baik sehingga mahasiswa merasa betah tinggal di lingkungan masyarakat sekitar kampus.

“Setiap tahun kami evaluasi agar program ini semakin baik. Kegiatannya terus kami tambah dan perbaiki supaya mahasiswa lebih mudah belajar bahasa Indonesia dan memahami budaya di sini,” tuturnya.

Program Sakura sendiri menjadi salah satu bentuk diplomasi pendidikan yang mempertemukan mahasiswa dari dua negara melalui pengalaman belajar langsung di masyarakat. Melalui program tersebut, STIE Malangkucecwara berharap mahasiswa asing tidak hanya mengenal bahasa Indonesia, tetapi juga memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia secara lebih mendalam.


Topik

Pendidikan stie malangkucecwara sakura 2026 dwinita ariani



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya