JATIMTIMES - Selama bulan Ramadan, banyak orang merasakan perubahan pada kondisi kulit. Tidak sedikit yang mengeluhkan kulit menjadi lebih kering, tampak kusam, hingga terasa tertarik, terutama menjelang sore hari saat berpuasa.
Kondisi ini ternyata berkaitan dengan perubahan pola hidup selama Ramadan, mulai dari asupan cairan yang berkurang hingga perubahan jam tidur. Berkurangnya konsumsi air di siang hari saat berpuasa membuat tubuh harus mengatur ulang keseimbangan cairannya. Akibatnya tidak hanya dirasakan oleh organ tubuh, tetapi juga pada kulit yang merupakan lapisan pelindung terluar.
Baca Juga : Operasional SPPG Tulusrejo 2 Malang Disetop Sementara usai Temuan Belatung di Menu MBG
Selain itu, faktor lain seperti paparan pendingin ruangan (AC), polusi, hingga kebiasaan membersihkan wajah secara berlebihan dapat memperparah kondisi kulit yang menjadi lebih kering selama Ramadan.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika Dr dr Fitria Agustina Sp DVE megatakan bahwa kesehatan kulit sangat bergantung pada kondisi lapisan terluarnya yang disebut stratum corneum. Lapisan ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan air di dalam kulit.
“Lapisan stratum corneum tersusun dari puluhan lapisan sel kulit yang saling bertumpuk dan dipadatkan oleh lipid. Struktur ini bekerja seperti sistem pelindung yang mampu mengikat sekaligus mempertahankan air di dalam kulit,” jelas Fitria.
Menurut dia, ketika struktur pelindung tersebut terganggu, kemampuan kulit untuk mempertahankan kelembapan ikut menurun. Akibatnya, kulit bisa terasa kering, tampak kusam, hingga elastisitasnya berkurang. Dalam kondisi tertentu, kulit yang kekurangan hidrasi juga dapat memengaruhi tampilan riasan wajah.
Selama Ramadan, risiko kehilangan cairan pada kulit cenderung meningkat. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya konsumsi air di siang hari, tetapi juga dipengaruhi oleh pola makan saat sahur dan berbuka puasa.
“Dalam praktik sehari-hari, saya cukup sering menemui pasien yang mengeluhkan kulit terasa lebih kering atau tertarik selama Ramadan. Hal ini berkaitan dengan keseimbangan air pada lapisan kulit yang terganggu,” kata Fitria.
Ia menambahkan, jenis makanan yang dikonsumsi juga dapat berpengaruh terhadap kondisi kulit. Makanan dengan kandungan garam, gula, maupun kafein yang tinggi dapat mempercepat proses transepidermal water loss (TEWL), yaitu proses penguapan air dari lapisan kulit.
Baca Juga : Ikan Kotok Mak Sanati di Sukodadi Lamongan, Menu Buka Puasa Bikin Nagih
Jika kondisi tersebut terjadi secara terus-menerus tanpa diimbangi dengan perawatan yang tepat, kulit dapat kehilangan kelembapannya lebih cepat. Dampaknya, kulit tidak hanya terlihat kusam tetapi juga terasa kurang nyaman dan mudah mengalami iritasi.
Untuk membantu menjaga hidrasi kulit, Fitria menyarankan penggunaan produk perawatan kulit yang memiliki kandungan pelembap yang mampu mengikat air. Salah satunya hyaluronic acid. Kandungan ini dikenal efektif dalam membantu mempertahankan kelembapan kulit.
“Molekul hyaluronic acid secara alami sebenarnya sudah ada di dalam kulit dan dikenal mampu mengikat air hingga sekitar 1.000 kali beratnya sendiri. Karena itu, bahan ini sering direkomendasikan dalam produk pelembap untuk membantu menjaga hidrasi kulit,” ujarnya.
Menurut Fitria, penggunaan pelembap dengan tekstur ringan berbasis gel dan bersifat non-comedogenicjuga lebih nyaman digunakan sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah beriklim tropis seperti Indonesia.
Selain berdampak pada kesehatan kulit, tingkat hidrasi kulit juga sangat memengaruhi hasil riasan wajah.
