JATIMTIMES - Tren fesyen 2026 bergerak ke arah yang lebih matang dan terkonsep. Jika beberapa tahun terakhir gaya penuh detail dan aksen mencolok sempat mendominasi, kini publik justru melirik tampilan yang lebih sederhana, rapi, dan berkelas.
Konsep smart look menjadi benang merah arah mode tahun ini mengutamakan potongan bersih, detail minimal, namun tetap memancarkan kesan mahal tanpa terlihat berlebihan. Desainer asal Malang Andy Sugix mengatakan perubahan ini sebagai bentuk kedewasaan pasar dalam memandang fesyen.
Baca Juga : Bank Jatim Kerja Sama Sinergis dengan Kejaksaan Negeri Lamongan
“Sekarang orang lebih suka tampilan yang clean dan tegas. Detailnya minimal, tapi cutting-nya kuat. Justru dari situ kesan mahalnya muncul,” katanya Selasa (3/3/2026).
Menurut Andy, konsep smart look tidak berarti kaku atau formal. Justru, gaya ini fleksibel dan bisa diterapkan dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara semi-formal hingga momen perayaan seperti Lebaran.
Dari sisi warna, palet netral kembali mendominasi. Nude, pastel lembut, putih, dan hitam menjadi pilihan utama karena dinilai aman sekaligus timeless untuk berbagai usia.
“Warna basic jadi top lagi. Warna mencolok tetap ada, tapi hanya sebagai kombinasi, bukan warna dasar,” jelasnya.
Ia menilai masyarakat kini semakin selektif dalam memilih busana. Selain desain dan warna, kualitas bahan menjadi pertimbangan utama. Linen menjadi salah satu material yang banyak diminati karena ringan dan nyaman digunakan di iklim tropis. Tak hanya itu, satin tetap dilirik, namun dengan karakter berbeda dari sebelumnya.
“Kalau satin sekarang bukan yang terlalu mengilap. Yang dicari justru yang lebih tipis, dingin, dan jatuh. Jadi tetap elegan, tapi nggak terkesan berlebihan,” ungkapnya.
Baca Juga : Netizen Asia Tenggara ‘Serang’ Knetz, Mayoritas Emosi Negatif
Selain linen dan satin, beberapa jenis jersey terbaru dengan tekstur lebih sejuk dan flowy juga mulai banyak digunakan. Material yang nyaman dan breathable dinilai lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat urban yang aktif.
Menurut Andy, konsumen kini lebih kritis dalam menilai kualitas cutting dan komposisi bahan. Busana yang terasa panas atau terlalu banyak mengandung serat sintetis mulai ditinggalkan.
“Orang sekarang pegang bajunya dulu sebelum beli. Kalau terasa panas atau kaku, langsung ditinggal. Jadi, kualitas bahan benar-benar jadi pertimbangan,” tutupnya.
