JATIMTIMES - Di sebuah rumah sederhana di Kampung Karang Layar, Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, dua bocah kakak beradik menjalani hari-hari tanpa seragam sekolah. Bukan karena malas belajar, melainkan karena hidup memaksa mereka tumbuh lebih cepat dari usianya.
SRA (13) dan adiknya, RF (6), harus menerima kenyataan pahit putus sekolah setelah ayah kandung mereka meninggal dunia. Sementara sang ibu, demi bertahan hidup, memilih bekerja ke Malaysia sebagai tenaga kerja wanita (TKW), meninggalkan kedua anaknya dalam asuhan kakek dan nenek.
Baca Juga : Situbondo Dilirik Brunei Darussalam, Brudifa Bahas Peluang Investasi Pertanian dan Wisata
Sejak saat itu, kehidupan mereka perlahan berubah. Keceriaan masa kanak-kanak berganti dengan keterbatasan ekonomi yang kian menekan. SRA, yang seharusnya duduk di bangku SMP, terpaksa berhenti sekolah sejak lulus SD pada tahun 2023. "Saya ingin sekolah seperti teman-teman yang lain," kata SRA lirih kepada JATIMTIMES, Sabtu (07/02/2026).
Namun keinginan itu harus dikubur sementara, karena neneknya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikannya.
Hari-hari SRA kini dihabiskan di rumah. Ia menemani adiknya RF bermain, sekaligus membantu neneknya sebisa mungkin. Sesekali, ia ikut bekerja sebagai buruh tani atau membantu warga sekitar demi menambah penghasilan keluarga. "Kadang ikut bantu petani atau kerja apa saja yang bisa," ujarnya singkat, seolah sudah terbiasa memikul tanggung jawab orang dewasa di usia belia.
Sang nenek, Burina, tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Ia mengaku perih melihat cucunya harus mengorbankan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga yang semakin sulit. "Padahal cucu saya ingin sekolah. Tapi saya memang tidak mampu," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah dua bocah ini akhirnya sampai ke telinga Pemerintah Kabupaten Situbondo. Perhatian pun datang dari berbagai pihak. Plt Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Pemkab Situbondo, Viskanto, bersama jajaran Kejaksaan Negeri Situbondo, turun langsung mengunjungi rumah nenek SRA dan RF, Sabtu (07/02/2026). "Kami datang untuk memastikan kondisi anak dan mendengar langsung keinginannya," ujar Viskanto. Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa keinginan SRA untuk kembali bersekolah masih sangat kuat, namun terbentur kondisi ekonomi keluarga.
Sebagai bentuk intervensi cepat, Dinas Sosial kemudian membawa kedua anak tersebut ke UPT PPSAA Provinsi Jawa Timur di Situbondo. Setelah dilakukan pendekatan persuasif, SRA akhirnya bersedia tinggal di asrama UPT PPSAA untuk melanjutkan pendidikan dan mendapatkan pendampingan sosial.
Meski sempat ada kekhawatiran dari pihak keluarga terkait kondisi psikologis SRA yang tertutup dan takut mengalami perundungan, pihak UPT PPSAA memberikan jaminan keamanan dan pendampingan penuh. Sementara RF, sang adik, untuk sementara tetap tinggal bersama neneknya atas permintaan keluarga.
Baca Juga : Jadwal Libur Sekolah Awal Puasa Ramadan 2026, Nyambung Long Weekend Imlek!
Tak hanya soal pendidikan, persoalan administrasi dan kepastian hukum juga menjadi perhatian. Kejaksaan Negeri Situbondo melalui bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) siap mendampingi proses penetapan perwalian agar hak-hak anak, termasuk akses pendidikan dan bantuan sosial, dapat terpenuhi secara hukum. *Kami akan mendampingi proses perwalian di pengadilan agar ada kepastian hukum bagi anak-anak ini," kata Kasi Datun Kejari Situbondo, Arif Hidayat.
Kini, langkah kecil telah dimulai. Sang kakak SRA diantar langsung keluarga ke asrama UPT PPSAA, menyerahkan harapan masa depannya pada negara. Dari rumah sederhana di Kesambirampak, kisah dua bocah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan data, masih banyak anak yang berjuang hanya untuk satu hal sederhana: kembali bersekolah.
Tak hanya berhenti di situ, persoalan ini juga mendapat perhatian langsung dari Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Bupati yang akrab disapa Mas Rio itu menegaskan komitmennya untuk memastikan masa depan pendidikan kedua anak tersebut tetap terjamin.
"Pemerintah daerah atau jika tidak ada anggaran Saya pribadi siap membiayai seluruh kebutuhan sekolah kedua anak ini. Negara tidak boleh abai ketika ada anak yang putus sekolah karena kemiskinan," tegas Mas Rio.
Tak hanya itu, Mas Rio juga membuka ruang partisipasi publik. Ia mempersilakan masyarakat Situbondo maupun pihak lain yang memiliki kepedulian untuk turut menjadi orang tua asuh bagi kedua anak tersebut. "Kami juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi orang tua asuh. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama," ujar Mas Rio.
