Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Opini

Letrok di Tengah Arus Migrasi: Kuliner Desa yang Nyaris Tersisih

Penulis : Ahmad Ghozi - Editor : Redaksi

05 - Feb - 2026, 15:33

Placeholder
Ahmad Ghozi, Dosen Fakultas Humaniora dan Kepala Pusat Career Development Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

JATIMTIMES - MIGRASI tenaga kerja kerap dipuji sebagai jalan keluar kemiskinan desa. Uang kiriman mengalir, rumah diperbaiki, gaya hidup berubah. Namun ada satu ruang yang sering luput dihitung dalam neraca keberhasilan itu: dapur. Di Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan, dapur menjadi saksi perubahan paling sunyi—Ketika letrok, masakan khas berbahan kacang tanah, pelan-pelan tersingkir dari menu harian.

Sejak 1980-an, gelombang warga Dadapan bekerja sebagai tenaga kerja migran ke Malaysia, Arab Sudi, Abu Dhabi, dan Hongkong. Migrasi itu membawa pulang bukan hanya remitansi ekonomi, tetapi juga remitensi budaya. Bersama koper dan cerita sukses, ikut pulang selera baru. Di titik inilah Letrok mulai kalah bersaing—bukan karena rasanya, tetapi karena makananya berubah.

Baca Juga : Talent Asal Malang Diduga Dijebak, Modus Job Shooting 'Sumpah Pocong' hingga Alami Pelecehan Seksual

Letrok adalah folklore kuliner yang telah hidup setidaknya sejak decade 1960-an. Berdasarkan penuturan warga seperti Bu Marni, masakan ini diwariskan dari generasi nenek moyang hingga anak-anak masa kini. Ia tidak lahir dari dapur restoran, melainkan dari kebutuhan dan pengetahuan lokal. Kacang tanah disangrai dengan pasir bersih menggunakan wajan tanah, dihaluskan, lalu dimasak dengan bumbu lengkap ala lodeh, ditambah tahu, tempe, dan ikan asap. Proses ini mencerminkan tradisi yang hidup melalui praktik, bukan teks (Danandjaja, 2002).

Secara sosial-ekonomi, Letrok lahir dari masyarakat agraris. Mayoritas warga Dadapan adalah petani, dengan kacang tanah sebagai salah satu komoditas utama. Dalam kajian antropologi pangan, makanan tradisional selalu berkelindan dengan sistem produksi lokal dan lingkungan ekologisnya (Mintz & Du Bois, 2002). Letrok adalah hasil logis dari tanah yang ditanami dan laut yang relative dekat—pertemuan darat dan pesisir dalam satu panci. Namun, struktur pangan lokal itu mulai goyah Ketika migrasi menjadi ekonomi utama desa. Migrasi tidak hanya memindahkan tubuh, tetapi juga membawa pulang gagasan dan kebiasaan baru. Appaduari (1996) menyebut proses ini sebagai arus budaya global yang membentuk ulang praktik lokal, termasuk pola konsumsi. Di Dadapan, arus itu hadir dalam bentuk makanan instan, bumbu pabrikan, dan masakan bercitarasa asing yang dianggap lebih modern dan praktis.

Kolase foto letrok, masakan khas berbahan kacang tanah. (Foto: istimewa)

Kolase foto letrok, masakan khas berbahan kacang tanah. (Foto: istimewa)

Perubahan ini menggeser posisi Letrok secara signifikan. Dari makanan sehari-hari, ia berubah menjadi masakan sesekali. Dari kebutuhan, ia menjadi nostalgia. Pergeseran ini bukan soal dapur semata, tetapi soal makna sosial. Letrok tidak lagi diposisikan sebagai symbol kecukupan, melainkan sebagai penanda masa lalu yang ingin ditinggalkan. Generasi muda merasakan dampak paling nyata. Anak-anak yang tumbuh dengan cerita sukses merantau dan paparan makanan modern cenderung mengaitkan makanan instan dengan mobilitas sosial. Dalam kajian budaya, makanan berfungsi sebagai symbol status (Counihan & Van Esterik, 2013). Di Dadapan, makanan modern sering dibaca sebagai tanda “naik kelas”, sementara Letrok dipersepsikan sebagai makanan kampung—label yang secara sosial kurang bergengsi.

Ironisnya, perubahan ini terjadi di desa yang justru menjadi bagian dari ekonomi global. Letrok yang berbasis bahan lokal dan pengetahuan tradisional kalah bersaing dengan sistem pangan global yang menawarkan kecepatan dan citra modern. Inilah yang oleh Assmann (2011) disebut sebagai erosi memori kultural: tradisi tidak hilang karena dilarang, tetapi karena tidak lagi dipraktikkan. Padahal, dari sudut pandang warisan budaya takbenda, Letrok memiliki nilai strategis, UNESCO (2003) menegaskan bahwa kuliner tradisional memuat pengetahuan ekologis, keterampilan, dan nilai sosial yang menopang keberlanjutan komunitas. Letrok mengajarkan kemandirian pangan, pemanfaatan sumber daya lokal, dan kebersamaan keluarga—nilai yang justru relevan ditengah krisis pangan dan ketergantungan pada produk instan.

Perubahan dapur Desa Dadapan ini menunjukkan bahwa kulier tidak pernah netral; ia selalu terkait dengan relasi kuasa, mobilitas sosial, dan imajinasi tentang kemajuan. Migrasi telah membentuk hierarki rasa baru, di mana maknanya yang dating dari luar negeri dipersepsikan lebih bernilai disbanding masakan lokal. Dalam konteks ini, Letrok tidak sekedar tersingkir secara praktis, tetapi juga secara simbolik. Ia kehilangan posisi tawarnya dalam narasi sukses desa, Ketika keberhasilan diukur dari sejauh mana warga bisa “keluar” dari desa, maka makanan yang berakar kuat pada desa justru dipandang sebagai pengingat masa lalu yang ingin dilampaui. Inilah paradoks migrasi: memperkuat ekonomi, tetapi melemahkan identitas kultural. 

Baca Juga : Mujahadah Kubro, PCNU Kota Malang Matangkan Panggung hingga Skema 9 Zona Jemaah

Keberadaan variasi Letrok di wilayah sekitar, seperti Beketo di Desa Dagan, menegaskan bahwa kuliner ini adalah bagian dari lanskap budaya Solokuro yang hidup dan dinamis (Dundes, 1965). Namun tanpa upaya sadar, keragaman ini justru berisiko hilang satu per satu, seiring berkurangnya generasi yang masih memasaknya. Karena itu, mempertahankan Letrok tidak bisa dilepaskan dari pembacaan kritis terhadap migrasi tenaga kerja. Migrasi memang membawa manfaat ekonomi, tetapi juga konsekuensi kultural yang nyata. Letrok perlu diposisikan ulang—bukan sebagai symbol keterbelakangan, melainkan sebagai identitas dan kekuatan lokal. Dokumentasi, edukasi kuliner desa, hingga peguatan narasi budaya lokal menjadi Langkah yang tidak bisa ditunda.

Pada akhirnya, Letrok menajukan pertanyaan mendasar: sejauh mana desa mampu menjaga ingatan sendiri Ketika warganya terus bergerak melintasi batas negara. Jika Letrok benar-benar hilang dari dapur Desa Dadapan, yang lenyap bukan sekedar satu masakan, melainkan cara sebuah komunitas memahami dirinya sendiri.

*oleh Ahmad Ghozi, Dosen Fakultas Humaniora dan Kepala Pusat Career Development Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Topik

Opini Ahmad Gizi Letrok kuliner desa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Ahmad Ghozi

Editor

Redaksi