Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Haramkah Berpuasa Setelah Nisfu Sya’ban? Ini 6 Orang yang Boleh Menjalankannya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Dede Nana

03 - Feb - 2026, 07:34

Placeholder
Ilustrasi berpuasa. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Umat Islam baru saja melewati malam Nisfu Sya’ban, yang tahun ini jatuh pada Senin malam, 2 Februari 2026, hingga menjelang Selasa, 3 Februari 2026. Seperti biasa, banyak amalan dilakukan pada malam pertengahan bulan Syaban tersebut, mulai dari membaca Surat Yasin, memperbanyak istighfar, selawat, hingga memanjatkan doa.

Memasuki siangnya, sebagian muslim juga melanjutkan ibadah dengan menjalankan puasa sunnah. Apalagi bulan Syaban dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sebelum memasuki Ramadhan. Namun muncul pertanyaan yang kerap dibahas setiap tahun, apakah puasa sunnah masih boleh dilakukan setelah Nisfu Sya’ban?

Baca Juga : Sambut Gelombang Jemaah Mujahadah Kubro, Dishub Warning Oknum Jukir Nakal 

 

Dalam pandangan Mazhab Syafi’i, puasa sunnah setelah melewati pertengahan bulan Syaban, yakni mulai tanggal 16 hingga 29 atau 30, dihukumi haram. Larangan ini dilatarbelakangi dua alasan. Pertama, hari-hari tersebut dianggap sebagai masa mendekati Ramadhan yang rawan disebut sebagai hari syak atau hari keraguan. Dikhawatirkan seseorang berpuasa tanpa sadar bahwa bulan Ramadhan sebenarnya sudah masuk.

Pandangan kedua menyebutkan bahwa waktu setelah Nisfu Syaban sebaiknya digunakan sebagai masa persiapan fisik dan mental menjelang puasa wajib di bulan Ramadhan.

Meski begitu, keharaman puasa setelah Nisfu Sya’ban tidak berlaku untuk semua orang. Ada enam golongan yang tetap diperbolehkan menjalankan puasa, asalkan sudah berpuasa sebelum pertengahan Syaban.

Enam golongan tersebut adalah:
• Orang yang terbiasa puasa dahr (puasa sepanjang tahun)
• Orang yang rutin puasa Senin dan Kamis
• Orang yang menjalankan puasa Daud (sehari puasa sehari berbuka)
• Orang yang berpuasa karena nadzar
• Orang yang mengqadha puasa
• Orang yang menjalankan puasa kafarat

Hal ini dijelaskan Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu:
قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك، إلا لورد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالا ثنين فصادف ما بعد النصف أو نذر مستقر في ذمته أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله ولو بيوم النص.

Artinya, “Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, puasa setelah nisfu Sya’ban diharamkan karena termasuk hari syak, kecuali ada sebab tertentu, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa dahr, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa nadzar, puasa qadha’, baik wajib ataupun sunnah, puasa kafarah, dan melakukan puasa setelah nisfu Sya’ban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, meskipun satu hari nisfu Sya’ban."

Mazhab Syafi’i mendasarkan pendapatnya pada hadis:

ودليلهم حديث: إذا انتصف شعبان فلا تصوموا، ولم يأخذبه الحنابلة وغيرهم لضعف الحديث في رأي أحمد

Artinya, "Dalil mereka adalah hadis, ‘Apabila telah melewati nisfu Sya’ban janganlah kalian puasa’. Hadis ini tidak digunakan oleh ulama mazhab Hanbali dan selainnya karena menurut Imam Ahmad dhaif.”

Baca Juga : Antisipasi Lautan Jemaah Mujahadah Kubro, DLH Kota Malang Kerahkan 500 Personel dan Armada Toilet 

 

Meski Mazhab Syafi’i memiliki pandangan tegas, tidak semua ulama sepakat dengan larangan tersebut. Mayoritas ulama justru membolehkan puasa sunnah setelah Nisfu Syaban karena hadis larangan dianggap lemah, bahkan munkar, sebab ada perawi yang dinilai bermasalah.

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan:
وقال جمهور العلماء يجوز الصوم تطوعا بعد النصف من شعبان وضعفوا الحديث الوارد فيه وقال أحمد وبن معين إنه منكر

Mayoritas ulama membolehkan puasa sunnah setelah nisfu Sya’ban dan mereka melemahkan hadis larangan puasa setelah nishfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadis tersebut munkar."

Syaban sendiri memang dikenal sebagai bulan yang sering diisi Rasulullah SAW dengan puasa sunnah. Hal ini sebagaimana kesaksian Aisyah RA:
Hanya di bulan Ramadhan Nabi Muhammad berpuasa satu bulan penuh dan saya tidak melihat Beliau sering puasa kecuali di bulan Sya’ban” (HR Al-Bukhari).

Dalam hadis lain disebutkan bahwa puasa Syaban dilakukan sebagai bentuk pengagungan terhadap Ramadhan (HR At-Tirmidzi).

Dari berbagai pandangan tersebut, ulama memang berbeda pendapat soal hukum puasa sunnah mutlak setelah Nisfu Syaban. Namun semuanya sepakat bahwa puasa tetap dibolehkan bagi orang yang sudah terbiasa menjalankannya, atau bagi yang memiliki kewajiban seperti qadha, nadzar, kafarat, maupun melanjutkan puasa dari hari-hari sebelumnya.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memahami perbedaan pendapat ini dengan bijak, serta memastikan ibadah yang dilakukan sesuai tuntunan dan kondisi masing-masing. Semoga informasi ini bermanfaat. 


Topik

Agama nisfu syaban malam nisfu syaban puasa sunah ramadan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana