Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Jejak Perjuangan Ratu Kalinyamat: Episode Serangan ke Malaka 1550 dan 1574

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

03 - Mar - 2025, 12:53

Placeholder
Ilustrasi Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara abad ke-16 yang dikenal sebagai pejuang tangguh melawan kolonialisme. Ia memimpin armada laut Nusantara dalam ekspedisi ke Malaka melawan Portugis. (Foto: Dibuat dengan AI/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Jepara, sebuah kota pelabuhan strategis di pesisir utara Jawa, telah lama menjadi pusat perdagangan dan militer yang dinamis dalam lanskap Asia Tenggara. Sebagai gerbang utama bagi arus komoditas dari pedalaman Jawa menuju pasar internasional, Jepara memiliki kepentingan ekonomi yang erat dengan pusat-pusat perdagangan lain di kawasan Asia Tenggara, termasuk Malaka. 

Namun, di bawah kekuasaan Portugis sejak 1511, Malaka berubah dari kota dagang kosmopolitan menjadi benteng kolonial yang membatasi akses perdagangan bagi para pedagang Muslim.

Baca Juga : Catatan Pendakian Gunung Ekspedisi Atap Langit Fiersa Besari, Terakhir Sangat Membekas

Ratu Kalinyamat, seorang pemimpin yang tidak hanya memiliki kekuatan politik tetapi juga visi strategis dalam percaturan geopolitik regional, melihat penguasaan Portugis atas Malaka sebagai ancaman langsung bagi kelangsungan ekonomi dan stabilitas politik di wilayahnya. Maka, ketika seruan jihad datang dari raja Johor pada 1550 dan kemudian dari Kesultanan Aceh pada 1573, Jepara tidak tinggal diam. Dengan mengerahkan armada dan pasukan terbaiknya, Ratu Kalinyamat menunjukkan bahwa kekuatan maritim Nusantara masih mampu menantang supremasi kolonial Eropa.

Nasab Ratu Kalinyamat dalam Historiografi

Ratu Kalinyamat adalah salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Nusantara pada abad ke-16. Namun, silsilahnya masih menjadi perdebatan dalam berbagai sumber historiografi. Berdasarkan penelitian Ratu Kalinyamat: Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549-1579 yang diterbitkan oleh Yayasan Dharma Bhakti Lestari, terdapat empat versi utama mengenai asal-usulnya.

Versi pertama tercatat dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa, yang menyebut bahwa Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggana, raja ketiga Kesultanan Demak. Dalam versi ini, ia disebut dengan nama Retna Kencana, saudara dari Retna Kenya, Retna Mirah, dan Pangeran Prawoto. Retna Kenya menikah dengan Kiai Langgar, Retna Kencana (Ratu Kalinyamat) menikah dengan Kiai Wintang, dan Retna Mirah menikah dengan Pangeran Riye.

Versi kedua berasal dari Babad Tanah Jawi, yang memberikan rincian berbeda. Menurut sumber ini, Sultan Trenggana memiliki beberapa putra dan putri yang menikah dengan tokoh penting dari berbagai daerah. Salah satu putrinya menikah dengan Pangeran Sampang. Sementara yang lain menikah dengan Pangeran Hadirin, yang kemudian menjadi Bupati Kalinyamat. Selain itu, ada  putri yang menikah dengan Pangeran Cirebon, Jaka Tingkir, dan Pangeran Timur. Sejarawan JJ Ras dalam edisi Babad Tanah Jawi (1987) juga mencatat variasi ini.

Sumber ketiga, Babad Demak, menyebut bahwa Sultan Trenggana memiliki seorang putra bernama Pangeran Mukmin, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Prawata. Dalam versi ini, salah satu putrinya menikah dengan Pangeran Langgar dari Madura. Putri lainnya menikah dengan Pangeran Hadirin dan yang lain menikah dengan Panembahan Pasarean, putra dari Fatahillah. Sementara itu, seorang putranya yang lain, Pangeran Timur, menjadi bupati Madiun.

Versi keempat berasal dari bagan silsilah di Makam Mantingan, Jepara. Dalam catatan ini, Sultan Trenggana memiliki lima putri dan seorang putra, yaitu Pangeran Mukmin (Pangeran Prawata). Putri pertamanya menikah dengan Pangeran Langgar, putri keduanya—yang dikenal sebagai Ratu Kalinyamat—menikah dengan Pangeran Hadirin. Putri ketiga menikah dengan Pangeran Pasarean. Putri keempat menikah dengan Jaka Tingkir. Dan putri kelima menikah dengan Pangeran Timur atau adipati Madiun.

Keempat versi ini menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam penulisan sejarah mengenai asal-usul Ratu Kalinyamat. Namun, yang paling sering disebut adalah bahwa ia merupakan putri Sultan Trenggana dan menikah dengan Pangeran Hadirin. Setelah kematian suaminya akibat konflik politik pada 1549, Ratu Kalinyamat memerintah Jepara dan menjadi salah satu pemimpin perempuan yang berpengaruh di Nusantara, terutama dalam perlawanan terhadap Portugis di Malaka.

Meskipun terdapat berbagai versi mengenai silsilahnya, Ratu Kalinyamat tetap dikenal sebagai penguasa yang kuat dan berani. Ia tidak hanya berperan dalam politik dan pemerintahan, tetapi juga dalam perlawanan terhadap kolonialisme, menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

Serangan Pertama (1550): Aliansi Johor-Jepara Melawan Portugis

Pada tahun 1550, raja Johor mengirimkan surat kepada Ratu Kalinyamat, mengajak Jepara bergabung dalam perang suci melawan Portugis di Malaka. Dalam surat tersebut, raja Johor menegaskan bahwa Portugis berada dalam kondisi lemah dan lengah, sehingga ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang.

Menanggapi seruan itu, Ratu Kalinyamat mengirimkan armada besar yang terdiri atas 40 kapal perang, membawa sekitar 4.000 hingga 5.000 prajurit bersenjata lengkap. Pasukan ini dipimpin oleh seorang panglima Jawa yang dikenal dengan nama Sang Adipati, seorang tokoh militer yang terkenal akan keberanian dan strategi perangnya.

Begitu tiba di Malaka, armada gabungan Johor-Jepara segera mengepung kota itu. Pasukan Jawa, yang bertindak sebagai kekuatan utama dalam pengepungan, menyerang dari utara dan berhasil merebut beberapa wilayah penduduk asli. Namun, aliansi ini tidak bertahan lama. Ketika sekutu Melayu mulai menarik diri karena khawatir akan serangan balasan Portugis terhadap kota-kota dan pelabuhan mereka, pasukan Jawa tetap bertahan dan meneruskan pengepungan.

Sayangnya, situasi berbalik ketika Portugis melancarkan serangan balik yang sengit. Dalam pertempuran yang berlangsung di darat dan laut, pasukan Jawa mengalami kekalahan besar. Sang Adipati, pemimpin mereka, gugur di medan perang. Pedang serta keris emasnya jatuh ke tangan pasukan Portugis. 

Melihat pemimpin mereka terbunuh, pasukan Jawa panik dan mundur dalam keadaan tidak teratur, mencoba menyelamatkan diri ke kapal mereka.

Kekalahan ini diperparah oleh badai besar yang melanda kawasan tersebut, menyebabkan dua kapal Jepara yang penuh muatan terdampar di pantai dan menjadi sasaran empuk bagi pasukan Portugis. Dalam pertempuran ini, lebih dari 2.000 prajurit Jawa gugur dan sebagian besar perbekalan, termasuk meriam, senapan, serta bahan makanan, jatuh ke tangan musuh. Dari seluruh armada yang diberangkatkan dari Jepara, kurang dari separuh yang berhasil kembali dengan selamat.

Baca Juga : Mengenal Carstensz Pyramid Papua, Puncak Tertinggi Indonesia yang Berselimut Salju Abadi

Meskipun mengalami kekalahan besar, Ratu Kalinyamat tetap mempertahankan wibawanya dan terus berkuasa. Ia tidak menyerah pada kekuatan kolonial Portugis dan masih menyimpan ambisi untuk membebaskan Malaka dari cengkeraman Eropa.

Serangan Kedua (1574): Armada Terbesar Nusantara di Bawah Komando Ratu Jepara

Dua puluh empat tahun setelah serangan pertama, pada 1573, Ratu Kalinyamat sekali lagi diajak untuk menyerang Malaka, kali ini oleh Kesultanan Aceh. Pemimpin Aceh pada saat itu, yang disebut dalam catatan Portugis sebagai "Achim tyranno, insolente e poderoso" (tiran dari Aceh yang kurang ajar dan kuat), meminta bantuan Jepara untuk menggempur Malaka secara bersama-sama.

Meskipun Ratu Kalinyamat sangat bersemangat untuk berjuang melawan Portugis, armadanya tidak tiba tepat waktu di Malaka. Penundaan ini memberi keuntungan besar bagi Portugis, karena jika pasukan Aceh dan Jepara menyerang secara bersamaan, kota itu kemungkinan besar akan jatuh.

Armada Jepara akhirnya tiba di Malaka pada Oktober 1574, dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan serangan pertama. Kali ini, Ratu Kalinyamat mengerahkan 300 kapal layar, termasuk 80 jung besar berbobot 400 ton. Armada ini mengangkut sekitar 15.000 prajurit pilihan dari Jawa, serta perbekalan dalam jumlah besar, termasuk meriam dan mesiu. Pemimpin ekspedisi ini adalah seorang tokoh tinggi dalam pemerintahan Jepara yang disebut "Quilidamao" dalam sumber Portugis, yang kemungkinan besar merupakan salah ejaan untuk "Kiai Demang," seorang laksamana ternama dari Jepara.

Serangan dimulai dengan rentetan tembakan salvo yang mengguncangkan benteng Malaka. Pada hari berikutnya, pasukan Jawa mendarat dan mulai menggali parit-parit pertahanan sebagai bagian dari strategi pengepungan. Namun, semangat pasukan mulai goyah ketika Portugis melancarkan serangan balik yang sangat dahsyat, menyebabkan 30 jung besar milik Jepara terbakar.

Menyadari kelemahan mereka dalam pertempuran frontal, pasukan Jawa kemudian mengubah taktik dengan membangun blokade laut menggunakan rintangan tinggi. Portugis, yang terkurung, harus melakukan serangan berkali-kali untuk menembus barikade ini. Ketika akhirnya mereka berhasil, pasukan Jawa mulai mempertimbangkan opsi perundingan.

Namun, dalam negosiasi yang berlangsung, Portugis mengajukan tuntutan yang terlalu berat, sehingga tidak diterima oleh pihak Jepara. Perundingan terus berlanjut, tetapi situasi semakin buruk ketika enam kapal Jepara yang membawa bahan makanan dari Jawa berhasil direbut oleh Portugis. Dengan kehilangan suplai utama mereka, pasukan Jepara yang awalnya sebagai pihak pengepung, secara perlahan berubah menjadi pihak yang terkepung.

Pada akhirnya, pengepungan yang berlangsung selama tiga bulan itu berujung pada kekalahan Jepara. Pasukan Jawa terpaksa mundur, dan Portugis memanfaatkan momen ini untuk menyerang, menyebabkan lebih banyak korban di pihak Jepara. Di sekitar Malaka, ditemukan 7.000 makam prajurit Jawa yang gugur dalam pertempuran ini. Diperkirakan bahwa dari total kekuatan yang diberangkatkan dari Jepara, hanya sepertiga yang berhasil kembali.

Ratu Kalinyamat dan Warisan Perjuangannya

Meskipun mengalami dua kekalahan besar dalam upaya merebut Malaka, ekspedisi militer Ratu Kalinyamat tidak dapat dipandang sebelah mata. Dua serangan ini menunjukkan bahwa Nusantara memiliki kekuatan maritim yang mampu menandingi Eropa, meskipun belum cukup untuk mengalahkan mereka.

Selain itu, keterlibatan Jepara dalam perang melawan Portugis mencerminkan betapa pentingnya Malaka dalam jaringan ekonomi dan politik di kawasan ini. Jepara, sebagai pelabuhan ekspor utama beras ke Malaka, sangat berkepentingan untuk menyingkirkan Portugis demi mengembalikan akses dagangnya yang bebas.

Perjuangan Ratu Kalinyamat juga membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan dalam dunia militer dan politik tidak hanya sebatas legenda. Ia adalah contoh nyata bahwa seorang perempuan dapat memimpin pasukan dalam ekspedisi besar, mengambil keputusan strategis, dan tetap mempertahankan otoritasnya meskipun menghadapi kekalahan.

Serangan Jepara ke Malaka menjadi salah satu episode penting dalam historiografi perjuangan maritim Nusantara, yang membuktikan bahwa kekuatan pribumi tidak tinggal diam dalam menghadapi kolonialisme Eropa. Jepara, dengan segala daya dan upayanya, telah menorehkan namanya dalam sejarah perlawanan terhadap imperialisme di Asia Tenggara.


Topik

Serba Serbi Ratu Kalinyamat Jepara penyerbuan Malaka Portugis pemimpin wanita pejuang wanita



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy