JATIMTIMES - Pameran seni tunggal Yos Suprapto yang mengusung tema Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan di Galeri Nasional, Jakarta, pada Kamis (19/12) malam harus berakhir dengan kekecewaan. Acara yang telah dipersiapkan selama satu tahun itu batal digelar. Para pengunjung yang hadir untuk menyaksikan pameran malah tidak diizinkan memasuki ruang pameran.
Menurut Yos, kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, meminta lima dari 30 lukisan yang direncanakan dipamerkan untuk diturunkan. Kelima karya tersebut diketahui menampilkan figur yang pernah menjadi ikon terkenal di Indonesia.
"Jadi sampai beberapa jam sebelum pameran, lima lukisan itu masih diminta untuk diturunkan. Padahal lukisan-lukisan tersebut merupakan narasi dari tema pameran," kata Yos, dikutip dari CNNIndonesia, Sabtu (21/12).

Lukisan Yos Suprapto yang minta diturunkan dari pameran. (Foto: X @mkusumawijaya)
Baca Juga : Menolak Lupa Merawat Ingatan Tragedi Kanjuruhan, Kapolres Malang Ungkap Isi Hati Lewat Buku Move in Silence
Ia menjelaskan bahwa lima lukisan tersebut memiliki peran sentral dalam menggambarkan situasi latar belakang tema kedaulatan pangan. Namun, Yos menilai kurator gagal memahami konteks tersebut, sehingga membuat narasi pameran menjadi tidak utuh.
"Lukisan-lukisan tersebut menjadi narasi latar belakang situasi dari tema kedaulatan pangan itu sendiri. Hal itu yang tidak bisa dibaca oleh kurator," tuturnya.

Lukisan Yos Suprapto yang minta diturunkan dari pameran. (Foto: X @mkusumawijaya)
Yos mengungkapkan, ia sempat mencoba berkompromi dengan menutupi dua lukisan menggunakan kain hitam. Namun, permintaan untuk mencopot tiga karya lainnya membuatnya mengambil keputusan tegas dengan menolak seluruh permintaan tersebut.
Yos juga mengungkapkan bakal membatalkan seluruh pameran dan membawa semua karya kembali ke Yogyakarta. Ia juga menyinggung adanya ketakutan berlebihan dari kurator terhadap kemungkinan tekanan politik.
"Saya tidak mau berasumsi, tapi kurator seperti ada ketakutan-ketakutan terhadap politik praktis dan tindakan represif pemerintah. Toh Menteri Kebudayaan yang dijadwalkan hadir saja juga belum lihat lukisannya," ucap Yos.
"Saya tidak mau lagi berurusan dengan Galeri Nasional dan Kementerian Kebudayaan," tambah Yos.

Lukisan Yos Suprapto yang minta diturunkan dari pameran. (Foto: X @mkusumawijaya)
Akibat perselisihan tersebut, pihak Galeri Nasional memutuskan untuk mematikan lampu ruang pameran dan mengunci pintu. Yos mengatakan bahwa dirinya kini masih berada di Jakarta dan bersiap untuk memulangkan karya-karyanya ke Yogyakarta.
Namun, ada kabar positif yang datang dari Dewan Kesenian Jakarta. Yos menyebut dirinya sedang berdiskusi dengan pihak Dewan Kesenian mengenai kemungkinan memamerkan karya-karyanya di Gedung Kesenian Jakarta sebelum dibawa kembali ke Yogyakarta.
"Saya sedang berbicara dengan Bambang [Prihadi]. Ada tawaran untuk menggelar pameran di sana sebelum kembali ke Yogya," ungkap Yos.

Lukisan Yos Suprapto yang minta diturunkan dari pameran. (Foto: X @salam4jari)
Insiden ini menuai respons dari beberapa tokoh budaya. Budayawan Erros Djarot yang seharusnya membuka acara tersebut mengkritik tindakan kurator sebagai bentuk ketakutan yang berlebihan.
"Saya rasa ini adalah contoh ekspresi ketakutan yang tidak pada tempatnya," ujar Erros dalam pernyataan tertulisnya.
Sementara itu, fotografer sekaligus pengamat seni Oscar Motulloh menyebut peristiwa ini sebagai bentuk pembungkaman seni rupa pertama di era Prabowo Subianto.
