JATIMTIMES - Abdullah ibn Al-Zubair merupakan sosok Muhajirin pertama yang lahir di Madinah. Abdullah ibn Al-Zubair yang merupakan putra dari Al-Zubair ibn Al-Awwam ibn Khuwailid ibn Asad ini juga merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW. Begitu pun sang ayah, juga merupakan salah seorang sahabat Rasulullah.
Dalam sebuah buku Tarikh Khulafa Imam As-Suyuthi, Abdullah ibn Al-Zubair dilahirkan di Madinah dua puluh bulan setelah hijrahnya Rasulullah SAW. Selain itu, ada yang mengatakan dia dilahirkan pada tahun 1 H.
Baca Juga : Arti Kode P/L, P, TL, TH dalam Pengumuman Hasil SKD CPNS 2024
Kelahiran Abdullah ibn Al-Zubair ini saat itu membawa kabar yang membahagiakan bagi kaum Muhajirin. Hal ini juga dijelaskan dalam buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Saat itu, Asma binti Abu Bakar melahirkan Abdullah ibn Al-Zubair. Kabar ini pun disambut gembira kaum Muslim. Bahkan, saking gembiranya, mereka kemudian sampai berkeliling Kota Madinah.
Ketika lahir, Rasulullah memberikannya nama Abdullah ibn Al-Zubair atau dengan nama lengkap Abdullah ibn Al-Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asas bin Abdil Uzza bin Qushay Al-Asadi. Dalam keseharian, ia bahkan sempat mendapatkan julukan Abu Bakar dan ada juga yang menyebutnya Abh Khubaib.
Kebahagiaan ini mematahkan apa yang pernah dikatakan oleh orang-orang Yahudi. "Kami telah menyihir kalian". Bahwa, orang-orang Yahudi telah memberikan sihir terhadap kaum Muhajirin. Sehingga, mereka tidak akan bisa melahirkan seorang anak.
Namun, hal tersebut dipatahkan, setelah Asma melahirkan Abdullah ibn Al-Zubair. Tentunya, hal ini merupakan kehendak dan pertolongan Allah SWT.
Setelah Abdullah ibn Al-Zubair lahir, Rasulullah kemudian mengolesi langit-langit mulutnya dengan sebuah kurma. Ia tumbuh besar di lingkungan Muslim yang baik.
Beranjak dewasa, Abdullah ibn Al-Zubair begitu gemar berpuasa dan melakukan salat malam. Ia adalah seorang yang sangat memelihara silaturahmi dan sangat pemberani.
Setiap malamnya tak pernah disia-siakan dan selalu mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.
Ia membagi malamnya menjadi tiga bagian. Ia memiliki kebiasaan berdiri, rukuk, dan sujud semalaman dalam salat hingga pagi menjelang.
Baca Juga : Unggah Foto Usai Indonesia Kalah 4-0 dari Jepang, Caption Justin Hubner di Instagram jadi Sorotan
Selain itu, Abdullah ibn Al-Zubair juga kerap ikut berperang dengan sang ayah. Namun, kehidupan Abdullah ibn Al-Zubair lebih banyak dihabiskan bersama sang ibu. Saat itu, ayah Abdullah ibn Al-Zubair berperilaku kasar kepada sang ibu. Ibunya kemudian meminta tolong dan terdengarlah oleh Abdullah ibn Al-Zubair
Ia kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Namun sebelum masuk, ayahnya mengancam akan mentalak sang ibu. "Jika kau berani masuk, ibumu aku talak."
Namun, Abdullah ibn Al-Zubair yang mengkhawatirkan kondisi sang ibu kemudian tetap menerjang masuk ke dalam kamar. Setelah itu, jatuhlah talak kepada Asma.
Setelah bercerai dengan Al-Zubair, Asma hidup bersama putranya, Abdullah ibn Al-Zubair. Sang ibu mendidik dan menanamkan nilai-nilai kehormatan dan kemuliaan pada diri Abdullah.
