JATIMTIMES - Maulid adalah hari untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Ia lahir dari pasangan Siti Aminah dan Abdullah.
Baca Juga : 22 Pasangan Nikah di Luar KUA Kota Blitar hingga Pertengahan September
Pada tahun 2024 ini, Maulid Nabi diperingati pada Senin 16 September 2024 mendatang. Bagi umat Muslim, merayakan Maulid Nabi Muhammad adalah sebuah tradisi yang setiap tahun dilakukan.
Namun, pernahkah sobat JatimTimes bertanya-tanya mengenai sosok yang pertama merayakan Maulid Nabi Muhammad?
Terkait dengan hal ini, ustaz Abdul Somad dalam salah satu ceramahnya pernah mengungkapkan mengenai sosok orang yang pertama merayakan Maulid Nabi. Sosok tersebut adalah Raja al Muzhaffar Abu Sa'id Kukbury Ibn Zainiddin Ali Ibn Baktakin yang wafat 630 H.
Ustaz Somad menyampaikan, menurut Ibnu Katsir, Raja al Muzhaffar merupakan seorang raja yang pemberani, cerdas, berilmu dan adil.
Raja al Muzhaffar pernah memberikan 1.000 dinar atau sekitar Rp 2,5 miliar kepada Syaikh Abu al Khattab bin Dihyah, penulis Kitab at Tanwir fi Maulid al Basyir an Nadzir.
Imam Sabth Ibnu al Jauzi menyatakan, Raja al Muzhaffar bersedekah waktu maulid dengan lima ribu kambing panggang, 10 ribu ekor ayam, seratus kuda, seratus ribu keju, 30 ribu piring manisan.
Adapun isi dari acara maulid sendiri, yang pertama, membaca Al-Quran, kemudian membaca kisah riwayat Nabi Muhammad SAW dan terakhir makan.
"Orang yang melakukannya dapat pahala. Kenapa? Karena dia mengagungkan Rasulullah dan menunjukkan kebahagiaan," kata Ustaz Somad dalam ceramahnya, dikutip Jumat (13/9/2024).
Pendapat Ustaz Abdul Somad mengenai sosok yang pertama merayakan Maulid Nabi itu disetujui oleh para ulama dan ahli sejarah Islam. Melansir NU Online, para ulama setuju jika orang pertama yang dipercaya menggelar seremonial Maulid Nabi adalah Raja Mudhaffar. Ia merupakan salah seorang penguasa Irbil yang mulia nan agung.
"Orang yang pertama mengadakan seremonial itu [Maulid Nabi] adalah penguasa Irbil, yaitu Raja Mudhaffar Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Dia juga memiliki rekam jejak yang bagus. Dan, dialah yang meneruskan pembangunan Masjid al-Mudhaffari di kaki Gunung Qasiyun," tulis Imam as-Suyuti dalam kitab al-Hawi lil Fatawi.
Baca Juga : Viral Tren Cek Khodam di Medsos, Eh Malah Ada Kajiannya di Sawojajar Malang?
Senada, Syekh Muhammad bin Ali asy-Syaukani, dalam salah satu kitabnya juga mengatakan bahwa Raja Mudhaffar adalah orang yang pertama menggelar peringatan Maulid Nabi.
Hukum Merayakan Maulid Nabi
Ustaz Abdul Somad menjelaskan hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagaimana ditemukannya di dalam hadis.
Ustaz Abdul Somad mengatakan, ada sekitar 300.000 hadis yang menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW boleh dilakukan.
Kendati begitu, ada pula segelintir ulama yang menganggapnya semata-mata bid'ah. "Positifnya peringatan Maulid Nabi karena adanya silaturahmi satu sama lain. Bukan setahun sekali, melainkan setiap minggu di hari Senin," jelasnya.
Seperti yang disampaikan Ustaz Abdul Somad, Rasulullah SAW sendiri juga ikut merayakan momen hari lahirnya. Adapun cara yang dipilih Rasulullah SAW adalah dengan berpuasa.
"Rasulullah SAW pernah ditanya mengapa melaksanakan puasa hari Senin. Salah satunya adalah Rasulullah SAW ternyata mengenang hari lahirnya sendiri," ujar UAS mengutip salah satu hadis HR Muslim.
"Rasulullah SAW menjawab 'Pada hari itu aku dilahirkan dan hari aku dibangkitkan (atau hari itu diturunkan Al-Quran kepadaku)'," imbuhnya.
