Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Barikan, Tradisi 16 Agustus Malam di Malang yang Sarat Makna

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

13 - Aug - 2024, 06:20

Placeholder
Potret persiapan barikan di salah satu spot jalan kampung saat sore hari, pada 16 Agustus. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Setiap menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, warga di berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk Malang, menggelar sebuah tradisi unik yang dikenal sebagai Barikan. Tradisi ini berlangsung pada 16 Agustus malam, tepat sebelum Hari Ulang Tahun (HUT) RI (17 Agustus). 

Barikan bukanlah sekadar acara kumpul-kumpul biasa, tetapi merupakan wujud syukur dan ajang silaturahmi yang sarat makna.

Baca Juga : Kecelakaan Beruntun di Pakisaji Malang: Libatkan 4 Kendaraan, 3 Luka-luka

Barikan adalah tradisi syukuran yang dilaksanakan di setiap kampung atau lingkungan warga di Malang dan beberapa wilayah lain di Jawa Timur, seperti Lumajang, Surabaya, dan Banyuwangi. Tradisi ini memiliki akar budaya yang kuat dan telah berlangsung turun-temurun. 

Mengutip dari laman Kemendikbud, Barikan adalah momen di mana warga berkumpul untuk mengucap syukur atas berkah yang telah diterima selama setahun terakhir, serta untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi lingkungan dan negara.

Dalam pelaksanaannya, Barikan diawali dengan doa bersama yang biasanya dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Doa ini merupakan bentuk renungan kemerdekaan, di mana warga mengingat kembali perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, lagu kebangsaan "Indonesia Raya" dinyanyikan bersama-sama sebagai ungkapan cinta dan rasa hormat kepada tanah air.

Asal kata "Barikan" masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Beberapa sumber menyebutkan bahwa "barik" mungkin berasal dari bahasa Arab "barokah," yang berarti berkah. Ada pula yang menduga bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti baris, mengacu pada kebiasaan warga yang berkumpul dalam barisan untuk berdoa bersama.

Terlepas dari asal-usulnya, tradisi Barikan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Jawa Timur. Tradisi ini tidak hanya dilaksanakan sebagai bentuk perayaan menjelang HUT RI, tetapi juga sebagai cara untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau budaya.

Pada 16 Agustus malam, warga di berbagai kampung, perumahan, dan gang-gang di Jawa Timur berkumpul di perempatan atau pertigaan jalan. Mereka duduk di atas tikar yang telah digelar, membawa makanan dalam wadah tradisional seperti tampah atau besek. Makanan yang dibawa bervariasi, mulai dari buah-buahan, kue, hingga nasi, tergantung pada kesepakatan bersama yang telah dibuat sebelumnya.

Baca Juga : Penyerangan di Karawang Diduga Terkait Kontraversi Nasab Habib, Ketua PBNU Minta Semua Pihak Tahan Diri

Setelah doa bersama dan renungan kemerdekaan, warga berbagi makanan yang mereka bawa. Ada yang menukarkan makanan dengan tetangga, ada pula yang memutuskan untuk memakannya bersama di tempat tersebut. Tradisi ini mencerminkan kerukunan dan kebersamaan warga, di mana mereka saling berbagi tanpa memandang perbedaan.

Tradisi Barikan tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarana pendidikan kearifan lokal. Melalui tradisi ini, warga diajarkan tentang pentingnya kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap sesama. Barikan juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya melestarikan budaya dan tradisi leluhur di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.

Di 16 Agustus malam, Barikan menjadi puncak dari rangkaian perayaan kemerdekaan yang biasanya diisi dengan pengumuman lomba-lomba yang telah digelar selama Agustusan. Ada juga tampilan-tampilan yang menunjukkan cinta terhadap negara. 

Melalui tradisi ini, warga tidak hanya memperingati kemerdekaan Indonesia, tetapi juga memperkuat jalinan sosial di antara mereka. Meskipun zaman telah berubah dan kampung-kampung mulai berganti dengan gedung-gedung tinggi, Barikan diharapkan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa Timur, sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya. 


Topik

Peristiwa Barikan hut kemerdekaan ri kemerdekaan ri 17 agustusan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni