JATIMTIMES - Terdapat sebuah kisah yang menceritakan seorang ahli Tahajud bernama Abu bin Hasyim tak mendapatkan jaminan surga. Menjadi penyebabnya adalah, ahli Tahajud ini melupakan satu hal yang juga penting dalam kehidupan, yakni Habluminannas.
Lantas, mengapa sampai bisa ia melupakan hal tersebut ? Mari simak kisahnya.
Baca Juga : Mengungkap Sejarah Adipati Arya Balitar: Dari Keturunan Majapahit hingga Perjuangan Melawan Belanda
Dalam sebuah buku, Keajaiban Tahajud, Subuh, dan Dhuha untuk Hidup Berkah, Bergelimang Harta, Sukses dan Bahagia oleh Fery Taufiq El Jaquene, Abu bin Hasyim sangatlah tekun beribadah. Bahkan, selama 20 tahun, ia terus konsisten melakukan sholat Tahajud.
Dan satu ketika, saat Abu bin Hasyim hendak berwudhu, ia melihat seorang pria yang berada di depan pekarangannya. Merasa penasaran, Abu bin Hasyim pun bertanya kepada pria tersebut.
"Wahai hamba Allah, siapakah engkau?"
Malaikat tersebut kemudian menjawab, "aku adalah malaikat utusan Allah".
Abu bin Hasyim kemudian bertanya lagi kepada pria tersebut, "Apa yang engkau lakukan di sini?"
Sosok pria tersebut kemudian menjawab, "Aku diberitahu untuk menemukanmu, pelayan Allah."
Malaikat tersebut saat itu terlihat membawa buku yang begitu tebal. Adanya buku tersebut juga membuat Abu bin Hasyim bertanya-tanya. Ia kemudian bertanya kepada pria tersebut.
"Buku apa yang engaku bawa?".
Malaikat itu menjawab, bahwa di dalam buku yang ia bawa adalah berisi catatan nama-nama kekasih Allah.
Mendengar jawaban malaikat itu, Abu bin Hasyim pun dengan percaya diri sangat yakin bahwa ia termasuk nama di dalamnya. Apalagi, ia juga sangat tekun beribadah dan tidak pernah meninggalkan Tahajud.
Kemudian, dibukalah buku tersebut oleh malaikat untuk melihat nama Abu bin Hasyim. Dilihat lah satu persatu nama mulai awal hingga akhir, namun pada akhirnya nama Abu bin Hasyim tidak ditemukan di dalam buku itu.
Abu bin Hasyim yang masih belum yakin namanya tidak ada, meminta malaikat itu untuk kembali mencarinya. Malaikat pun kembali mencari dengan cermat, setelah itu malaikat itu kembali berkata bahwa memang nama Abu bin Hasyim tidak ada.
"Itu benar, namamu tidak ada di dalam buku ini!".
Baca Juga : Ulang Tahun Hari ini, Jennifer Coppen Merintih Rindu ke Dali Wassink: Harusnya Kita Tiup Lilin Bareng
Mendengar perkataan malaikat ini, Abu bin Hasyim pun bergetar sampai terjatuh di depan malaikat. Ia pun sampai menangis, mengetahui mengetahui namanya tidak ada. Ia merasa ibadahnya yang dilakukan selama ini merasa sia-sia.
"Kehilangan diri saya yang selalu berdiri setiap malam di tahajud dan bermunajat tapi nama saya tidak ada di dalam kelompok pecinta Allah,".
Malaikat itu berkata kepada Abu bin Hasyim, "Wahai Abu Hasyim! Aku tahu engkau bangun setiap malam saat yang lain tidur, wudhu dengan air dingin saat yang lain tertidur di tempat tidur. Tapi tangan saya dilarang Allah menuliskan namamu."
Abu bin Hasyim kemudian merasa penasaran dengan apa yang menjadi penyebab namanya tidak ada. Bertanyalah Abu bin Hasyim kepada malaikat.
Malaikat kemudian menjawab, "Engkau bersedia pergi kepada Allah, tapi engkau bangga pada diri sendiri dan bersenang-senang memikirkan diri sendiri. Tetanggamu ada yang sakit atau kelaparan tapi kau bahkan tidak melihat atau memberi makan. Bagaimana mungkin kami bisa menjadi kekasih Tuhan jika kau sendiri tidak pernah mencintai makhluk yang diciptakan Allah?".
Artinya, selama ini Abu bin Hasyim hanya memikirkan diri sendiri. Ia tidak pernah memikirkan kondisi sesamanya, bahkan tetangga dekatnya yang dalam kondisi sakit yak ia perhatikan sama sekali.
Mendengar hal tersebut, Abu bin Hasyim bagai disambar petir. Ia menyadari bahwa apa yang dikatakan malaikat tersebut benar adanya. Ia baru menyadari bahwa hubungan bukan hanya kepada Allah, namun Habluminanna. Yakni tindakan menjaga hubungan kepada sesama manusia dengan senantiasa menjaga hubungan baik, menjaga tali silaturahmi, mempunyai kepedulian sosial, tepa selira, saling tolong menolong, tenggang rasa dan saling menghormati.
Allah SWT pun telah menegaskan hal ini dalam Alquran Surah An Nisa ayat 36, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."
