MALANGTIMES - Perjanjian Renville pada awal 1948. Soedirman yang harus tunduk pada perjanjian tersebut mesti menarik divisi Siliwangi keluar dari wilayah Jawa Barat. Akal cerdas sang jenderal yang masa sekolahnya kerap di-bully ini menangkap gelagat kurang menguntungkan bagi Indonesia.
Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh
"Sisakan sebagian kecil pasukan di sini. Kobarkan terus perlawanan," titah Soedirman seperti yang ditulis dalam buku "Siliwangi dari Masa ke Masa" karya Sudjono Dirdjosisworo.
Maka, bertahanlah sebuah kesatuan campuran tentara dan laskar bernama Field Preparation Barisan Hitam (FPBH) di Purwakarta di bawah pimpinan Letnan Kolonel Oesman Soemantri. Untuk menyamarkan kesatuan tersebut, 1 Februari 1948 FPBH lantas namanya berganti menjadi Satoean Pemberontak 88 (SP 88).
Barisan Hitam yang menjadi SP 88 inilah yang menjadi hantu menakutkan pencipta "neraka" bagi penjajah Belanda serta para pengkhianat bangsa saat itu. Berbagai aksinya telah membuat wilayah Jawa Barat terus berkobar. Operasi kontra-intelijen, agitasi-propaganda sampai sabotase, membuat Belanda dibuat pusing tujuh keliling.
Belanda pun terkecoh dengan berbagai aksi. Misalnya sabotase kereta api logistik milik militer Belanda. Mereka menyangka yang melakukan berbagai aksi tersebut adalah kesatuan pemberontak yang terlepas dari TNI. Gerombolan liar yang identik dengan seragam hitam, begitulah Belanda maupun anteknya mengenal SP 88 ini.
Kecepatan dan kerahasiaan adalah ciri SP 88. Tak ayal mereka menerapkan motto “datang seperti angin dan pergi pun laksana angin”. Aksi mereka ibarat para spionase di film-film Hollywood masa kini. Misterius, tapi menimbulkan efek kejut luar biasa. Mereka lihai menciptakan neraka bagi para musuhnya.
Kerahasian SP 88 juga diterapkan kepada nama-nama para pemimpinnya. Affandi Bratakoesoemah dalam karyanya, Sejarah Gerilya SP 88, menuliskan, nama para pemimpinnya pun disamarkan untuk kerahasian organisasi. "Mereka menggunakan nama bahasa Sansekerta untuk namanya. Misalnya, Oesman Soemantri disamarkan menjadi Tritunggal. Sedangkan wakilnya, A.S. Wagianto, memakai nama Sang Dewata," tulisnya.
Penulis berkebangsaan Australia, Robert B. Cribb, dalam bukunya, Gangsters and Revolutionaries, juga merekam bahwa strategi penyamaran nama mereka pun tidak hanya berbau Sansekerta. "Para komandan SP 88 pun kerap menggunakan nama-nama 'berbau barat' seperti Phantom Bom, " tulisnya.
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
GAR Soepangat (90), eks personel SP 88 berseragam hitam, menyampaikan, pemakaian nama SP dengan embel-embel angka 88 merupakan simbol dari nama dua pemimpin Republik Indonesia, Soekarno-Hatta. Angka 8 pertama adalah nama depan Soekarno yang diambil dari huruf kedelapan dalam alfabet Jawa, yaitu S (sa). Adapun angka 8 yang kedua diambil dari alfabet Romawi, yaitu H dari nama depan Hatta.
“Jadi kami melakukan pemberontakan terhadap Belanda tetap mengatasnamakan Soekarno-Hatta, pemimpin Republik Indonesia,” ujar Soepangat seperti dilansir dalam Historia.
Berapakah jumlah pasukan SP 88 yang telah membuat pasukan Belanda serta para anteknya menggigil ketakutan? Dari berbagai catatan sejarah, anggota berseragam identik warna hitam ini ditaksir lebih dari 1.500 orang dengan kekuatan senjata sekitar 450 pucuk. Mereka melakukan aksinya di berbagai wilayah Jawa Barat, misalnya di Jarong-Cibungur (Purwakarta)-Cikampek-Dawuan (Karawang) sampai Bekasi, Jakarta Timur, Subang dan sebagian wilayah Cianjur Utara.
“Pokoknya kami menciptakan neraka buat Belanda,” ungkap Soepangat yang juga menyampaikan SP 88 eksis dan menjadi andalan kekuatan militer Republik sampai tahun 1950.
Tahun 1949 akhir, sang komandan pasukan berbaju hitam itu tewas ditembak secara misterius. "Awal tahun 1950 secara resmi PB 88 dibubarkan," kenang Soepangat. (*)
