Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Dam Kadalpang, Eksotisme Sungai di Tengah Kampung Peninggalan Kolonial Belanda

Penulis : Pipit Anggraeni - Editor : Lazuardi Firdaus

11 - Sep - 2018, 22:38

Placeholder
Dam Kadalpang, salah satu bendungan megah di Kota Malang yang dibangun pada masa Kolonial Belanda (foto: Pipit Anggraeni/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dam atau bendungan yang dibangun di Kota Malang pada masa kolonial Belanda masih berfungsi hingga hari ini. Sebagian bendungan yang berada di tengah kota itu juga dikenal akan arsitektur dan kemegahannya.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Salah satunya adalah Dam Kadalpang yang terletak di Kelurahan Samaan, dekat dengan perbatasan Kelurahan Penanggungan. Jika melintasi area pemukiman di kawasan bendungan itu, maka sepintas kita akan teringat keindahan wisata air di Belanda. Di mana ada beberapa rumah yang menghadap ke sungai dengan dihiasi tanaman dan pepohonan yang rindang.

Mungkin, dulu pembangunan dam di tengah kota tersebut memang memiliki tujuan yang hampir sama dengan kondisi di Belanda. Tapi sayangnya, di Malang saat ini kondisinya tak secantik di Belanda. Meski pada kenyataannya, bendungan tersebut terlihat bersih dan kokoh hingga sekarang.

"Dam Kedalpang itu dulu dibangun pada masa Kolonial Belanda. Dan mungkin saja memang dibuat untuk mempercantik kawasan pemukiman," kata pemerhati sejarah, Devan Firmansyah belum lama ini.

Namun berdasarkan penelitian lapangan yang dia lakukan, dam tersebut dibuat untuk membendung arus sungai. Karena saat itu, daerah aliran sungai (DAS) Brantas di wilayah Samaan disudet di dua Kelurahan Samaan. Pertama adalah sudetan berupa sungai kecil di bagian Samaan Ledok yang mengalir di sepanjang wilayah RW 5, 8, 4, dan 3. 

Sedangkan sudetan lainnya berupa kanal yang bernama Kali Kadalpan atau Kali Sukun yang terdapat dua lubang gorong-gorong bikinan Belanda. Sungai tersebut dinamakan warga sebagai Kali Sukun. Karena dulu terdapat banyak tumbuhan tanaman sukun di tepian sungai tersebut.

Baca Juga : Hingga Pertengahan April, 4 Kali Tanah Longsor Terjadi di Kota Batu

"Saat ini, setidaknya masih terdapat dua buah pohon tersebut di tepi DAS Brantas yaitu di jembatan Jl. Kintamani dekat Kali Sukun atau Kali Kadalpang," tambah pria berkacamata itu.

Menurut Devan, ada hal menarik dari penamaan Dam Kadalpang tersebut. Berdasarkan penuturan warga, nama tersebut berasal dari kada kadal dan pang. Kadal sendiri diartikan sebagai binatang biawak, sedangkan pang memiliki arti cabang. 

"Maksudnya adalah aliran air sungai di bawah DAM Kadalpang, yang dibelah oleh sebuah daratan di tengah sungai (delta) sehingga aliran airnya bercabang," jelasnya.

Berdasarkan pantauan MalangTIMES, bendungan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu itu masih tampak cantik. Dua lubang gorong-gorong yang dibuat pun masih bisa terlihat sampai sekarang. Airnya pun mengalir cukup deras dan lumayan jernih.


Topik

Peristiwa Dam-Kadalpang bendungan-masa-kolonial-Belanda



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Pipit Anggraeni

Editor

Lazuardi Firdaus