Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Kisah Meledaknya Amarah Raja Terkuat di Jawa, Hingga Membuat Kota Mekkah Terserang Wabah Penyakit

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

26 - Aug - 2023, 14:21

Placeholder
Sultan Agung Hanyokrokusumo atau Raden Jatmika. (Foto screenshot)

JATIMTIMES - Kisah Sultan Agung Hanyokrokusumo tentu sudah cukup sering didengar. Dia merupakan raja ke-3 Kerajaan Mataram yang sangat disegani pada zamannya.

Sultan Agung memiliki nama asli Raden Mas Jatmika atau biasa dikenal juga sebagai Raden Mas Rangsang. Dia merupakan putra pertama dari Prabu Hadi Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati.

Baca Juga : Kisah Seorang Perempuan Bani Israel Dikubur Hidup-Hidup 7 Hari, Ini yang Ia Lihat!

Mengutip laman Dinas Kebudayaan Jogja, Sultan Agung lahir di Kotagede pada 14 November 1593 silam. Dia naik takhta sekitar tahun 1613, tepatnya ketika masih berusia 20 tahun.

Di masa kejayaannya, ternyata raja terkuat di Pulau Jawa ini pernah memiliki konflik dengan Imam Syafi'i.

Dilansir dari akun Tiktok @cerita.sejarah, suatu hari Raden Mas Jatmika melaksanakan salat Jumat di Mekkah. Lalu, dia menemui ulama besar bernama Imam Syafi'i sekaligus pemegang otoritas kota Mekkah.

“Aku meminta izin untuk mendirikan makam di Mekkah. Aku berkata padanya bahwa aku berharap ketika aku meninggal nanti bisa bermakam di Kota Mekah yang lokasinya berdekatan dengan makam para nabi," demikian kutipan kisah tersebut. 

Sayangnya, permintaan yang disampaikan baik-baik itu ditolak oleh Imam Syafi'i. 

Berikut kelanjutan kisahnya secara lengkap:

Aku yang tidak menerima penolakan tersebut seketika pun jadi marah lalu pulang ke tanah Jawa. Saat sudah di Jawa, aku mendatangi Pantai Selatan dan mengadu ke Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul.

Kanjeng Ratu Kidul mengusulkan untuk menyerang Kota Mekah dengan wabah penyakit. Aku yang sedang dalam emosi pun langsung mengiyakannya.

Ratu Kidul mengirim pasukan lelembut dan teluh menyebarkan wabah penyakit di Kota Mekah.

Tiap hari banyak orang mati tanpa sebab. Tempat satu-satunya yang tidak terkena malapetaka adalah Masjidil Haram dan orang berbondong-bondong berlindung di dalamnya.

Sunan Kalijaga yang saat itu salat Jumat di Mekkah mendengar mala petaka yang terjadi di situ. 

Imam Syafi'i bercerita bahwa sejak kedatanganku satu bulan sebelumnya Kota Mekkah terserang wabah penyakit. 

Baca Juga : Gusti Puger : Persahabatan Ki Ageng Henis dan Ki Ageng Beluk Bukti Islam Disebarkan Secara Damai

Sunan Kalijaga berkata akan memeriksa apakah aku ada sangkut pautnya atau tidak dengan kejadian ini. 

Imam Syafi'i pun menitipkan serban hitam bekas Nabi Muhammad SAW untuk diberikan kepadaku dan berkata bersedia minta maaf kepadaku.

Setelah Sunan Kalijaga sampai di Jawa beliau menemuiku dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi'i.

Meski sempat enggan memberi maaf, aku pun akhirnya memaafkannya setelah melihat ada pemberian hadiah serban hitam bekas Nabi Muhammad SAW dari Imam Syafi'i.

Setelahnya, aku meminta Ratu Kidul menghentikan penyerangan wabah penyakitnya dan langsung pergi ke kota Mekkah. Di Mekkah, aku diizinkan untuk mendirikan makam oleh Imam Syafi'i. 

Namun Sunan Kalijaga berkata "rakyat Jawa nanti kesulitan jika makamnya ada di Mekkah".

Akhirnya Sunan Kalijaga mengambil segumpal tanah dari makam Nabi dan membungkusnya dengan kain. 

Lalu setelah kembali ke Jawa, tanah itu dilempar asal, dimana segumpal tanah itu jatuh maka di situlah lokasi makam dibuat.

Akhirnya segumpal tanah itu jatuh di bukit Imogiri. Di area itu kemudian didirikan makamku dan para raja-raja islam setelahku beserta keluargaku.


Topik

Serba Serbi Raden Mas Jatmika mekah terserang wabah sunan kalijaga



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri