JATIMTIMES - Setiap daerah punya cara atau tradisi tersendiri dalam merayakan lebaran atau Idulfitri. Madura misalnya, di Pulau Garam itu terdapat tradisi yang cukup unik namun dampaknya sangat baik untuk mempererat tali sitaturrahmi.
Nah, berikut ini ada beberapa tradisi orang Madura saat menyambut lebaran.
Ter-ater atau mengantarkan makanan kepada para tetangga

Sebagian daerah di Indonesia tentu punya kebiasaan yang sama, yakni membagikan makanan kepada tetangga, seperti orang Madura. Di Madura, tradisi ini disebut ter-ater. Sebenarnya ini tidak hanya dilakukan saat Idulfitri saja, tetapi pada hari-hari tertentu juga.
Bahkan, untuk ayam yang digunakan sebagai bahan memasak pun orang Madura akan menyembelihnya sendiri, lho. Orang Madura punya ciri khas memelihara ayam, itik, atau bebek di belakang rumah mereka. Ayam atau daging sapi menjadi salah dua lauk yang biasa dibagi-bagikan kepada tetangga.
Selain itu, ada masakan pendamping, seperti bihun kecap atau serundeng, yang ditata rapi bersama nasi putih. Meski sedang pandemik, tradisi ter-ater tetap dilestarikan sampai saat ini untuk mempererat tali silaturahmi antar tetangga.
Nyabis atau berkunjung ke rumah tokoh agama

Sejak kecil, orang Madura sudah diajarkan ilmu agama di musala atau masjid. Karena hal tersebut, tokoh agama dan kyai punya posisi yang tinggi di Pulau Madura. Jadi, jangan heran kalau orang Madura kerap meminta pendapat tokoh agama atau kiai untuk urusan sosial mereka.
Saat Idulfitri, ada tradisi nyabis atau mirip dengan sowan dalam bahasa Jawa. Ini merupakan salah satu cara orang Madura bersilaturahmi dengan tokoh agama atau kiai. Menurut orang Madura, meski seorang murid sudah memiliki ilmu atau wawasan yang luas, tetapi tidak boleh melupakan jasa guru langger atau guru mengaji.
Selain itu, terkadang tujuan orang Madura nyabis bukan hanya itu saja, lho. Beberapa dari mereka punya tujuan tertentu, seperti meminta pendapat atau nasihat terkait pekerjaan atau rencana yang akan mereka lakukan ke depannya. Lebih mudahnya, meminta doa dan restu.
Toron atau pulang kampung

Kalau kebanyakan orang menyebut pulang kampung dengan istilah mudik. Beda halnya dengan orang Madura, nih. Di Madura, pulang kampung biasa disebut dengan toron atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti turun.
Orang Madura menempatkan Pulau Madura di bawah, sehingga siapa pun yang merantau, menikah, dan bekerja ke luar daerah, maka mereka akan toron atau mudik. Toron menjadi tradisi yang wajib dilakukan saat Idulfitri agar bisa berkumpul kembali dengan keluarga di Pulau Madura.
Namun, asal kamu tahu, tradisi toron sebenarnya tidak hanya dilakukan saat Idulfitri saja, lho. Pada hari-hari besar lainnya, seperti Iduladha dan Maulid Nabi, orang Madura akan toron atau pulang ke kampung halaman untuk merayakannya bersama keluarga.
Memasak ketupat saat memasuki hari ketujuh setelah Idulfitri

Meski Idulfitri identik dengan ketupat, tetapi orang Madura tidak memasak itu untuk dihidangkan saat Lebaran, lho. Bahkan saat berkunjung ke rumah orang Madura saat Idulfitri, kamu tidak akan menjumpai ketupat di meja makan mereka. Nasi putih adalah pengganti ketupat saat Idulfitri di Pulau Madura.
Tidak adanya ketupat, bukan berarti ini dilarang, ya. Ketupat biasanya disajikan saat memasuki hari ketujuh setelah Idulfitri atau yang biasa disebut dengan lebaran ketupat. Saat itu, barulah orang Madura membuat sendiri ketupat bawang dari janur atau daun pohon kelapa.
Kalau kamu belum tahu, ketupat bawang adalah ketupat khas orang Madura yang berbentuk segi empat. Itu sebabnya saat Idulfitri tidak ada ketupat yang dihidangkan bersama opor ayam dan beberapa masakan yang lain.
Baca Juga : Habis Lebaran, Jangan Lupa Lakukan 3 Cek Kesehatan IniĀ
Nah itulah beberapa tradisi yang setiap tahunnya dilakukan oleh masyarakat Madura setiap hari raya idul fitri akan tiba. Kalau didaerah kalian, tradisinya apa aja?
