Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Hari Ini 138 Tahun Lalu: 36 Ribu Tewas, Tsunami 36 Meter Menyapu

Penulis : Desi Kris - Editor : Yunan Helmy

26 - Aug - 2021, 18:07

Placeholder
Gunung Krakatau meletus tahun 1993. (Foto: BBC)

JATIMTIMES - Tepat hari ini pada 138 tahun lalu, terjadi ledakan dahsyat Gunung Krakatau. Letusan gunung yang terletak di Selat Sunda itu merupakan salah satu letusan terdahsyat gunung berapi yang terkenal di dunia. 

Letusannya yang hebat telah meruntuhkan sebagian besar tubuh gunung berapi itu bersama Pulau Rakata ke dalam laut. Hanya kalderanya yang muncul di atas permukaan laut dan fenomena ini cuma terjadi pada Krakatau serta Gunung Tambora  dalam sejarah gunung berapi di abad ke-19.

Baca Juga : Dipimpin Kapolres Banyuwangi, Alumni Akpol 2000 Bagi 200 Paket Bingkisan untuk Anak Yatim

Saat meletus pada 26 dan 27 Agustus 1883, Krakatau telah mengeluarkan jutaan ton batu, debu dan magma. Materialnya menutupi wilayah seluas 827.000 km. Kemudian di hari kedua, letusan Krakatau diikuti oleh gelombang besar tsunami yang membawa material vulkanik berupa magma dan batu panas menghantam pesisir Lampung dan Banten.

Empat ledakan yang terjadi membuat tuli orang-orang yang berada dekat gunung tersebut. Bahkan, gelegarnya terdengar hingga Perth, Australia, yang jaraknya 4.500 kilometer.

Ketinggian tsunami akibat letusan Krakatau saat itu mencapai 36 meter lebih. Korban jiwa dari letusan Gunung Krakatau sebanyak 36,417 jiwa. Sebanyak 90 persen di antaranya meninggal akibat hantaman tsunami. 

Selain magma, letusan gunung tersebut juga mengeluarkan abu. Abu letusan Krakatau  saat itu mencapai 17 kubik kilometer. Abu tersebut tersebar hampir ke seluruh bagian di dunia. Saking banyaknya, natahari tidak terlihat selama 3 hari di sekitar area gunung. 

Barograf di seluruh dunia pun mendokumentasikan 7 kali gelombang kejut. Digambarkan, dalam 13 hari, lapisan sulfur dioksida dan gas lainnya mulai menyaring jumlah sinar matahari yang bisa mencapai Bumi. 

Efek atmosfer yang diakibatkan lantas membuat pemandangan matahari terbenam yang spektakuler di seluruh Eropa dan Amerika Serikat (AS). Suhu global rata-rata mencapai 1,2 derajat lebih dingin selama 5 tahun setelah letusan itu. 

Setelah letusan tersebut, Gunung Krakatau kembali tenang. Pada tahun 1927, beberapa nelayan menemukan aktivitas vulkanik di bekas letusan Gunung Krakatau. 

Baca Juga : Pejuang yang Terlupakan: Kisah Mak Ukar, Sosok Perempuan Pengantar Makanan dan Surat untuk Para Pejuang Kemerdekaan

Dalam waktu beberapa minggu saja, puncak gunung baru terbentuk. Dalam setahun, gunung tersebut membentuk sebuah pulau kecil. Pulau tersebut kemudian dinamai Pulau Anak Krakatau.  Gunung Anak Krakatau beberapa kali mengalami erupsi. Yang terbaru, erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi pada April tahun ini.

Tanda-Tanda Erupsi Sudah Terasa sejak Mei 1883

Erupsi Gunung Krakatau memang terjadi pada 26-27 Agustus 1883. Namun tanda-tandanya sudah tampak mulai  Mei.  

Sebelumnya gunung ini "tertidur" selama 200 tahun lamanya. Aktivitas Gunung Krakatau mulai tampak pada 20 Mei 1883.  

Awan abu pun kala itu mulai tampak hingga ketinggian 11 kilometer di atas pulau. Guncangan terasa hingga ke Batavia (Jakarta) yang berjarak hampir 50 km lebih. 


Topik

Serba Serbi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Desi Kris

Editor

Yunan Helmy