Pada zaman dahulu, seseorang yang bisa membangun kerajaan dan menjadi penguasa pada umumnya adalah seorang keturunan bangsawan. Tapi tidak demikian halnya dengan kerajaan Tumapel atau Singasari.
Kerajaan ini tidak didirikan oleh seseorang dengan berstatus bangsawan. Ken Arok yang merupakan pendiri kerajaan ini sebenarnya berlatar belakang sebagai pencuri.
Dari banyak cerita dikisahkan, Ken Arok berasal dari Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Jejak Ken Arok di Blitar ini dibedah dalam “Ngulik Sejarah” Obrolan Malem Jemuah (OMJ) yang digelar oleh Dewan Kesenian Kabupaten (DKKB) Blitar, Kamis (12/12/2019) di Pendopo Tri Loka Wus Kaeksi, kediaman Kepala Dinas Parbudpora Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso di Jalan Abadi, Kelurahan Nglegok.
“Ngulik Sejarah yang diselenggarakan malam Jum’at minggu kedua setiap bulan merupakan bagian dari Obrolan Malem Jemuah. Jika saat OMJ teman-teman bisa sharing seputar budaya, di Ngulik Sejarah kita lebih fokus bicara tentang sejarah,” ungkap Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Blitar, Rahmanto Adi.
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi kali ini ialah Ki Aris Sugito, Ketua Lembaga Pemerhati Pelestari Budaya Nusantara LP2BN. Beliau memaparkan kisah Ken Arok yang terdapat dalam Kitab Pararaton. Dalam paparannya Ki Aris Sugito menyampaikan penelusuran jejak sejarah yang berhasil dikumpulkan membuktikan kebenaran adanya jejak Ken Arok di Blitar.
“Ken Arok adalah anak dari Ken Endok seorang wanita dari Desa Pangkur (Jiwut), Nglegok, Blitar yang bersuamikan Gajah Para dari Desa Campara (Bacem), Sutojayan, Blitar dengan. Tapi bayi Ken Arok dibuang kemudian ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong. Meski begitu Ken Endok tetap mengikuti anaknya hingga bersedia menjadi pembantu keluarga Lembong,” ungkap Ki Aris.
Saat sesi tanya jawab salah seorang peserta menanyakan apakah benar Karuman yang terdapat dalam Kitab Pararaton adalah Garum, sementara di Malang ada wilayah bernama Karuman.
“Nama sebuah wilayah tidak selalu sama antara nama sekarang dan dimasa lalu. Saya justru bertanya sejak kapan nama Karuman di Malang itu ada?” demikian Ki Aris balik bertanya.
Acara yang digelar mulai pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB ini dihadiri oleh 33 orang peserta yang sangat antusias mengikuti acara hingga selesai. Di sela-sela acara Mbak Tina dan kawan kawan mengajak peserta diskusi hening sejenak menikmati tembang mocopat.
“Saya senang anak-anak muda berinisiatif mengadakan kegiatan semacam ini. Sebagai salah seorang yang bergerak di bidang literasi saya sangat mendukung kegiatan yang bisa menambah wawasan seperti ini. Insyaallah saya akan mengajak lebih banyak teman untuk hadir di Ngulik Sejarah,” kata Mak Kom, senior penggerak literasi dan pemilik Rumah Baca Ilalang.
