MALANGTIMES - Upacara Grebeg Tengger Tirto Aji yang dilaksanakan Suku Tengger terus terjaga setiap tahun sampai kini, Minggu (23/04) kemarin.
Sebagai bentuk ritual dari Suku Tengger, baik yang berada di Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo, Grebeg Tengger Tirto Aji kini telah menjadi bagian dari industrialisasi wisata Kabupaten Malang.
Baca Juga : Kilas Balik Jejak Covid-19 di Kota Malang Hingga Pengajuan Status PSBB
Yang sakral dan profan, menyatu dalam harmonisasi kepentingan. Saling mengisi dan tidak saling melemahkan. "Kepentingan pariwisata tidak bisa dipisahkan dengan adat budaya masyarakat yang telah ada sejak lama. Kami berusaha memfasilitasi kearifan masa lalu dengan saat ini," kata Made Arya Wedanthara, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Senin (24/04).
Made juga menyampaikan, upacara Suku Tengger ini baru dikolaborasikan dengan konsep wisata sejak tahun 2013 melalui dinas yang dipimpinnya. Kolaborasi itu dilakukan setelah adanya kesepakatan dari para sesepuh Tengger. Kolaborasi ini memiliki tujuan untuk ikut serta melestarikan budaya lokal serta meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata. "Dari merawat keyakinan yang telah menjadi budaya ratusan tahun lalu menuju kebaikan di masa depan," ujar Made kepada MALANGTIMES.
Grebeg Tengger Tirto Aji merupakan upacara adat Suku Tengger berupa pengambilan air suci di sumber mata air “Sendang Widodaren” atau masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai sumber air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal yang berada di Taman Wisata Air Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis.
Upacara adat Tengger Tirto Aji memiliki banyak makna sesuai dengan pemahaman dan keyakinan Suku Tengger. Di antaranya adalah untuk penyembuhan, penanggulangan hama dan penyubur tanaman, memupuk rasa persaudaraan di antara pemeluk agama, serta melestarikan adat Tengger yang sudah dikenal sampai mancanegara.
Upacara Tengger Tirto Aji merupakan awal dari rangkaian Upacara Yadnya Kasada yang akan dilaksanakan pada 14 Kasada atau saat bulan purnama (purnamasidhi).
Prosesi acara dimulai saat empat kepala desa yang mewakili empat wilayah kabupaten tempat Suku Tengger berada. Kemudian mengambil air suci dari sumber air yang berpangkal dari Gunung Widodaren. Air suci ini selanjutnya diberikan oleh para kepala desa kepada para pemimpin adat atau dukun pandhita Suku Tengger untuk melaksanakan Upacara Yadnya Kasada.
Keyakinan yang terjaga dalam pengambilan air suci secara turun temurun ini di Sendang Widodaren dan dibalut kemasan pariwisata ternyata berefek pada animo masyarakat umum lainnya. Masyarakat yang berkunjung ke Wendit juga meyakini air Sendang Widodaren yang disucikan suku Tengger memiliki khasiat dalam menyembuhkan penyakit maupun sebagai medium awet muda.
Baca Juga : Ketika Pocong Go International, TV Korea Selatan Menyebutnya Sangat Menggemaskan
Keyakinan terhadap khasiat air Sendang Widodaren yang tumbuh sampai saat ini juga dilatarbelakangi oleh sejarah pada masa Kerajaan Majapahit. Konon, menurut Sutrisno, juru kunci makam Mbah Kabul, awal-mula penemuan mata air tersebut atas permintaan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, kepada Mbah Kabul yang berkasta Brahmana.
Ketika Singosari mengalami kemunduran, Raden Wijaya melakukan tapa brata. Dalam pertapaannya tersebut, dia mendapatkan petunjuk untuk menemukan air yang memiliki kekuatan tinggi yang berada di tempat hilangnya pelangi setelah hujan.
Saat itu juga Raden Wijaya mengutus Mbah Kabul untuk mencari tempat munculnya air yang dia maksud. Ditebangilah hutan yang menurut Mbah Kabul itulah tempat sumber mata air berkekuatan tinggi berada dan yang saat ini menjadi bagian wisata pemandian Wendit.
Sumber mata air ini juga merupakan tempat favorit Raden Wijaya saat bercinta dengan para selirnya. "Disebut Widodaren karena memang dulu tempatnya para bidadari yang menemani Raden Wijaya," ujar Soleh, salah satu juru kunci di areal ini.
Kolaborasi keyakinan dalam masyarakat terhadap khasiat air Widodaren juga semakin dilengkapi dengan adanya makam Mbah Kabul dan arca Raden Wijaya, arca Mbah Gimbal (pengawal Raden Wijaya), dan kepala ular naga yang diyakini sebagai naga siluman. Saat ini ruangan tersebut dijadikan pengunjung yang berkeyakinan tersendiri sebagai tempat ritual meminta kesembuhan dari berbagai macam penyakit, terutama penyakit akibat makhluk halus yang dikenal dengan santet. (*)
