Siti Maryam boleh dibilang pedagang apel yang sukses.
Ia berhasil menyuplai buah segar ini ke berbagai kota besar. Antara lain Surabaya, Solo, Semarang, Jogjakarta dan Jakarta hingga Bali.
Ia juga memiliki kios dan toko buah apel di Pasar Besar Batu. Meski sudah menjadi juragan, ibu yang dikaruniai tiga anak ini, tidak canggung terjun langsung mengurusi buah apel yang hendak dikirim ke luar kota.
Di luar aktivitas bisnisnya itu, Siti Maryam juga seorang politisi perempuan. Ia menjabat Ketua DPC Perindo Kota Batu.
Pada pemilihan legislatif 2019 nanti, Siti Maryam adalah caleg dapil Kota Batu 1 nomor urut satu.
Saat BatuTIMES bertandang ke salah satu gudang penyortiran apel di Kelurahan Temas, Siti Maryam sangat mahir menilai dan memilah mana apel yang layak dan siap dikirim.
"Buah apel yang akan dikirim harus disortir dulu dan perlu juga pengawasan. Sebab, kalau dikomplain biar tahu penyebabnya," kata Siti Maryam membuka pembicaraan kepada BatuTIMES.
Perempuan yang tinggal di Jalan Trunojoyo Gg 1 nomor 2 Kelurahan Songgokerto ini mengatakan, kesuksesan sebagai pedagang apel butuh proses panjang dan kesabaran tinggi.
Ia telah belajar berdagang apel semenjak lama. Kira-kira ketika masih duduk di bangku sekolah SMAN 1 Kota Batu pada 1987.
Anak nomor empat dari tujuh bersaudara ini kerap membantu ibu kandungnya, Hj Atimah (almarhumah) berdagang apel di Pasar Batu.
Ia belajar manajemen berdagang apel dari nol. Mulai mengenal jenis apel (apel manalagi, wanglin, ana dan rome beauty). Lalu menyortir, menimbang, hingga menawarkan apel kepada para pembeli dan pelanggan.
Maryam menceritakan, setamat SMA, ia tidak mau menikah dulu. Ia memilih melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia (STIKI) dan lulus pada 2004.
Meski kuliah, ia tetap menyempatkan diri membantu ibunya berjualan apel di Pasar Batu. Dari berdagang apel itu, ia mendapat uang saku untuk kuliah Rp 20 ribu. Uang itu tidak untuk dihabiskan sehari. Uang saku itu ternyata untuk satu bulan.
"Ndak diupah, tapi dapat uang buat kuliah Rp 20 ribu. Harus dipas-paskan selama satu bulan. Terkadang bawa bekal beras dan kopi dari rumah, " beber istri dari Gusti Nyoman Karyasa ini.
Setamat kuliah, ia ternyata memilih menekuni jual beli apel. Ia tidak bekerja di bidang komputer dan teknologi informasi.
Untuk memajukan bisnisnya, Siti Maryam terjun langsung ke para petani untuk membeli buah apel. Kemudian, apel-apel dari para petani dilakukan pemilahan (sortir) dan dikelompokkan mana yang besar dan bagus.
Ia juga getl mencari pedagang di luar kota untuk didrop dan diamanahi berjualan apel Batu. Menaruh kepercayaan tentu tidak mudah. Sebab, banyak pula pedagang yang pindah tempat dan gulung tikar. Untuk itu ia pun harus tahu medan pasar dan pola pikir pedagang apel.
Keuntungan bisnis lalu digunakan untuk membeli lahan apel. Lahan pertama seluas kurang lebih dua hektar. Ia harus pergi ke lahan apel mulai pukul 06.00 hingga pukul 10.00. Setelahnya baru mulai berdagang.
Lahan apelnya pun bisa produksi maksimal dan melimpah. Tengkulak dan pedagang pun datang silih berganti. Sebagian dari luar kota: Gresik, Tanjung Perak - Surabaya, Lamongan, Pemalang, Purwodadi, Solo, Jogja hingga Bandung dan Jakarta.
"Dulu lahan seluas lima ribu meter persegi dapat 30 ton apel dalam satu kali panen. Kini hanya tiga ton. Sebab, unsur hara berkurang dan tanah kurang bagus,” kata Siti Maryam.
Dalam berdagang apel, Siti Maryam tidak hanya mengecap yang manis-mani saja. Yang pahit pun ia alami.
Misalnya kompetisi pedagang apel yang makin ketat. Tetapi Siti Maryam tidak mau menyerah. Ia percaya Cara Tuhan memberikan rizki tidak dari satu pintu.
”Sekarang satu minggu dua kali kiriman. Satu kali kirim bisa 5.5 ton. Ya bisa 11 ton dalam seminggu, " beber perempuan yang memiliki delapan karyawan ini.
Siti Maryam punya keinginan mengenalkan apel Batu ke mancanegara dan belahan dunia. Sebab, apel Batu sudah dikenal bagus dan rasanya enak.
Ke depan ia akan terus mengembangkan bisnisnya dan merambah ke negeri jiran. Agar lebih maju dan petani serta pedagang bisa sejahtera bersama.
"Impian saya mau kirim ke Malaysia dan Singapura. Biar kesejahteraan teman pedagang merata. Tidak jor joran harga sesama pedagang dan bakul. Jadi perlu berpikir sejahtera bersama. Kalau bisa ke negara luar, ke mana - mana lah. Asal harga cocok," pungkasnya. (*)
