Ritual bersih desa yang digelar di Kelurahan Blitar Kecamatan Sukorejo Kota Blitar, Jumat (9/9/2016), diwarnai kesurupan massal.
Puluhan peserta kirab tiba-tiba mengamuk dan mengejar penonton. Beberapa warga yang menyaksikan ritual bersih desa ini panik dan berlarian karena takut.
Sejumlah anak dan peserta ritual bersih desa ini langsung berlarian berusaha menghindar dan menjauh. Sementara sejumlah tokoh pawang jaranan ini langsung menghentikan dan berusaha menyembuhkan sejumlah peserta yang mengalami kesurupan.
Ritual bersih desa ini digelar di kantor Desa Kelurahan Blitar dengan mendatangkan seni jaranan untuk membersihkan desa dari segala bentuk gangguan. Selain itu juga untuk menjaga dan melestarikan budaya jaranan yang sudah mulai dilupakan.
Acara kirab budaya dengan membawa sesaji dan menghadirkan seni jaranan dimulai dari Kantor Kelurahan Blitar. Peserta kemudian berkeliling kampung dan mampir ke makam leluhur diantaranya Makam Adipati Aryo Blitar, Pondan Palupi dan Dipokromo.
Ketua panitia sekaligus tokoh masyarakat setempat, Nur Ali mengatakan, acara bersih desa ini sudah berjalan turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Setiap setahun sekali, bersih desa ini rutin dilaksanakan untuk melestarikan tradisi ini.
“Dan bersih desa ini sudah menjadi hajatnya warga Kelurahan Blitar. Warga yang kerja di tempat jauh banyak yang pulang demi menyaksikan tradisi ini,” jelas Nur Ali.
Menurut Nur Ali, ritual bersih desa ini tetap dijalankan tanpa ada perubahan. Hanya saja, untuk tahun ini dilaksanakan sedikit berbeda dengan penggeseran waktu.
“Seharusnya waktu pelaksanaan bersih desa ini adalah bulan selo dengan harinya Jumat Pahing. Namun karena Jumat Pahingnya itu tepat dengan jam 12 siang, maka kami putuskan melaksanakan bersih desa ini di bulan besar,” ujarnya.
Banyaknya peserta yang kesurupan, menurut Nur Ali, dikarenakan para peserta itu merasa menyatu dengan kegiatan ini. Kesurupan itu tidak direncanakan, tapi terjadi secara tiba-tiba.
“Setiap tahun pasti ada yang kesurupan. Mereka kesurupan dalam perjalanan kirab. Kami sudah antisipasi hal ini dengan mempersiapkan dukun dan pawang, termasuk pak lurah sendiri juga bisa karena sudah memiliki ilmu menyembuhkan,” terang Nur Ali.
Rangkaian acara bersih desa di Kelurahan Blitar ini sendiri digelar sejak sehari sebelumnya. Kamis (8/9/2016) acara dimulai dengan nyadran di makam para sesepuh sejak pukul 17.00 WIB. Acara kemudian dilanjut dengan doa bersama atau warga setempat menyebutnya dengan istilah subuh. Acara dilanjut dengan kirab budaya pada esok paginya dan pada malam harinya ditutup dengan tayuban.(*)
