Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Inilah Motif Khas Batik Malangan dan Filosofinya

Penulis : Nana - Editor : Lazuardi Firdaus

27 - Aug - 2016, 19:32

Placeholder
Dwi Cahyono, sejarahwan dan budayawan Malang (Foto: Nana/ MalangTIMES)

Terdapat salah satu motif yang unik dan khas dari batik Malang yaitu motif Malang Kucecwara.

Motif ini memiliki filosofi yang mendalam yaitu terdapat simbol gambar Tugu Malang, mahkota, rumbai singa, bunga teratai, arca, dan aulur-sulur serta isen- isen belah ketupat. 


Menurut Dwi Cahyono, motif batik Malang kucecwara memiliki filosofis yang dalam. "Tugu Malang merupakan simbol Kota Malang yang merupakan prasasti berdirinya kota ini. Juga sebagai perlambang keperkasaan dan ketegaran. Diharapkan pemakainya menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan," ucapnya.

Baca Juga : Patung Presiden Pertama RI Ir. Soekarno Sungkem Kepada ibunya Hadir di Taman Balai Kota Among Tani


Sedangkan mahkota merupakan simbolisisasi Mahkota Raja Gajayana yang pernah membawa Malang mencapai puncak kejayaannya. Diharapkan pemakainya bisa mencapai puncak kejayaan dalam hidupnya. 


Rumbai Singa melambangkan ikon kota Malang yang berjuluk “Singo Edan”, yang melambangkan semangat yang menyala-nyala dan pantang menyerah. Diharapkan pemakainya juga senantiasa memiliki sifat yang demikian. 


Bunga Teratai merupakan salah satu simbol Kota Malang, yang melambangkan keindahan juga kesuburan. Pada cerita kuno, bunga teratai merupakan bunga tempat Dewa Wishnu, dewa pemelihata alam, bertahta. Diharapkan pemakainya senantiasa subur makmur dan terpelihara jiwa dan raganya. 

 

Arca merupakan perlambang kekayaan khasanah Kota Malang yakni Candi Singosari yang pernah menghantarkan Malang menjadi salah satu kekuatan dunia di nusantara pada masa silam. Diharapkan, pemakainya senantiasa berjaya.


Sulur- sulur merupakan simbol bahwa kehidupan itu akan terus berlangsung, tumbuh dan berkembang. Ada sulur yang terhenti sebagai simbol bahwa kehidupan tidak kekal, namun, sebelum terhenti ada sambungan berikutnya. Yang menunjukkan bahwa manusia itu akan musnah, namun akan selalu berganti generasi yang baru. Diharapkan pemakainya senantiasa bisa introspeksi diri bahwa manusia itu makhluk yang fana.

Baca Juga : Polisi Selidiki Racun di Salah Satu Pasutri Tewas Bunuh Diri


Isen-Iisen Belah Ketupat merupakan simbol dari relief Candi Badut yang merupakan salah satu khasanah kekayaan budaya Kabupaten Malang. Belah ketupat memberi makna, pengakuan bahwa manusia tidaklah sempurna, sehingga sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Diharapkan pemakainya bisa senantiasa introspeksi diri. 


"Dulunya batik ini dibuat dengan teknik printing karena kerumitannya, namun saat ini justru dikerjakan secara handmade dan telah ada hak patennya sehingga tidak bisa sembarangan diperbanyak," kata Dwi Cahyono.


Topik

Peristiwa Dwi-Cahyono batik-malangan Malang-Kucecwara berita-malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nana

Editor

Lazuardi Firdaus