MALANGTIMES - Pasarean Mbh Roso yang terletak di desa Jenggolo Kepanjen merupakan salah satu lokus ritual bagi masyarakat Malang maupun Luar Malang, seperti Jakarta, Bali, Surabaya, Kalimantan dan daerah lainnya.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
Mereka umumnya mencari atau ngalap berkah atas segala kesusahan hidup yang menimpanya maupun untuk menunaikan nadzarnya setelah berhasil keluar dari kesulitan hidup.
Dinaungi bangunan bata yang dicat kuning dengan langit-langit yang tidak terlalu tinggi di areal pemakam umum, letak Makam Mbah Reso berada di dalam Sanggrahan dipisahkan oleh pintu kayu dengan tulisan diatasnya Makam Mbah Roso 1887.
Pesanggrahan Mbh Roso di Desa Jenggolo Kecamatan Kepanjen yang dibangun tahun 1887
Menurut Mbh Samim (73), Juru kunci makam kelima, tulisan tahun 1887 merujuk pada tahun dibangunnya Pesanggrahan Mbh Roso. Dulu bangunan tersebut dikenal dengan nama Gedong oleh masyarakat setempat.
“Kata orang tua dulu dan saat saya masih kecil, bangunan yang di dalamnya ada makam Mbh Roso ini sudah berdiri dan dikenal dengan sebutan Gedong karena pada masa itu bangunan ini satu-satunya yang sudah menggunakan batu bata, lainnya masih gedeg,” tutur Mbh Samim.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
Laiknya bangunan tua yang dikeramatkan, Pasarean Mbah Roso juga menyimpan begitu banyak hal misterius yang sampai saat ini belum terkuak.
Baik dari sejarah valid tokoh Mbah Roso yang dimakamkan di Jenggolo, maupun banyaknya pengunjung dari luar daerah maupun dalam yang dari awal tidak mengetahui keberadaan dan ketokohan Mbah Roso.
Mbah Samim sebagai Juru kunci makam pun menyatakan banyak sekali versi tentang sosok Mbah Roso yang beredar dimasyarakat yang belum bisa dijadikan acuan sejarah yang valid.
“Saya tidak bisa menjelaskan silsilah Mbah Roso secara jelas, takutnya salah dan menjadi fitnah. Tetapi versi yang beredar di masyarakat Mbah Reso dulunya adalah seorang prajurit dari Mataram yang ikut berperang melawan kompeni bersama Pangeran Diponegoro. Dengan ditangkapnya panglima perang Mataram, maka pasukan Diponegoro banyak yang melarikan diri ke daerah Sengguruh dan Jenggolo. Salah satunya Mbah Roso ini yang akhirnya menetap dan membuka pedukuhan bernama Jenggolo ini,” papar Mbh Samim.
Mengenai banyaknya pezairah yang datang ke Makam Mbah Roso, terutama Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi juga menurut penuturan Mbah Samim tidak bisa dinalar, terutama bagi pezairah dari luar Malang.
“Dari cerita pezairah yang datang kebanyakan mereka mengetahui Pesarean Mbah Roso melalui mimpi, sehingga mereka datang ke sini dalam rangka ngalapberkahnya Mbah Roso. Saya sebagai perantara saja dalam menyampaikan keinginan pezairah yang datang. Alhamdulillah banyak keinginan orang-orang yang datang setelah ke sini terkabul, tapi ingat semua itu atas kehendak Allah melalui perantara Mbah Roso. Biar tidak musyrik,”kata Mbah Samim mewanti-wanti setiap orang yang datang ke Makam Mbah Roso.
Di tempat Pesarehan Mbah Reso juga sering diadakan acara-acara keagamaan yang diadakan setiap Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi yaitu acara khataman Al-Qur’an.
Acara tahlilan dan rathiban diadakan rutin pada jam 21.00 WIB setiap Jum’at legi dan Jum’at malam Sabtu. Bagi para peziarah dan para tamu yang ingin ke Makam Mbah Reso telah disediakan fasilitas seperti toa, lampu, listrik, dan alas untuk istirahat.

