MALANGTIMES - Menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim juga dilakukan oleh Mahardian Nada, mahasiswi asal Malang yang menempuh pendidikan di Austria.
Baca Juga : Dosen UM yang Sempat Positif Covid-19, Sudah Diperbolehkan Meninggalkan Rumah Sakit
Dihubungi MalangTIMES lewat fasilitas chat (14/6/2016), Perempuan berparas ayu itu tetap menjalankan puasa Ramadhan di tengah padatnya perkuliahan di IBC (International Business College) Hetzendorf, Austria.
Status sebagai mahasiswa dengan kantong pas-pasan membuat perempuan yang akrab disapa Nada itu ekstra irit.
"Namanya juga mahasiswa jadi masak walaupun nggak kayak di rumah. Berusaha masak se-simple mungkinlah," tutur Nada. Praktisnya, ia biasa memasak menu seperti tumis sayur dan ayam goreng.
Nada pun gemar memasak bakso khas Malang. "Ya pokoknya kalau ada waktu masak pasti masak makanan yang bikin kangen sama Malang," aku dara yang tinggal di Vienna, Austria itu.
Selain bakso Malang, Nada ternyata gemar menyantap nasi goreng dan sayur lodeh selama berada di Austria.
Selain memasak hidangan khas Indonesia, Nada juga doyan menu masakan khas Austria. "Masakan Italia juga suka sih. Pokoknya nemu bahan apa aja deh di supermarket ajalah kalau nggak sempat ke toko bahan masakan Asia," cerita perempuan asal Kepanjen itu.
Makanan khas Austria favorit Nada ialah Knödel yaitu roti kering yang dipotong dadu dan diberi bumbu khas. Roti kering itu pun diberi air kemudian dibentuk bulat.
Baca Juga : Gegara Ahok Diskon BBM untuk Ojol, Said Didu dan Arsul Soni Malah 'Perang' di Twitter
Selain roti kering Knödel, menu berbuka puasa favoritnya adalah Faschierte leibchen yaitu daging yang digiling dan dibumbui serta dibentuk sesuai selera lalu digoreng.
Nada nampak tak kesulitan menyesuaikan lidah dengan makanan khas Austria. Begitu pun dengan cuaca dan lama puasa yang mencapai 19 jam. Di Austria, waktu buka puasa adalah pukul 20:56 dan sahur pada pukul 02:58.
Bila menu sahur dan buka tak jadi soal, lain halnya dengan ibadah tarawih. Nada mengaku di Austria tak banyak masjid. "Iya masjid di Vienna lumayan sedikit, malah di district tempat tinggalku nggak ada," ucapnya.
Kalaupun ada jaraknya cukup jauh dari tempat ia tinggal. Itulah sebabnya, Nada sedih karena jarang bisa melaksanakan ibadah tarawih berjamaah di masjid.
"Biasanya sih masjid Turki gitu, aku pun kalau tarawih di masjid yang biasa banyak orang Indonesianya yaitu di Masjid As Salam," pungkas perempuan berusia 26 tahun itu. (*)
