MALANGTIMES - Selain di lingkungan kampus, aksi mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, juga terjadi di luar area kampus. Tuntutan mereka sama. Mendesak penyelesaian konflik Perpenas, selaku lembaga yang menaungi kampus.
Jika massa aksi di dalam universitas sempat bentrok, demonstran di luar, tepatnya di depan gerbang kampus, menggelar aksi lempar tomat ‘ranti’. Yakni jenis tomat yang hanya ada di Banyuwangi. Sontak, gerbang kampus almamater merah tersebut dipenuhi bercak kekuningan.
Robet Sihabt, koordinator aksi, menjelaskan, aksi lempar tomat itu adalah sebuah sindiran bagi dua kubu Perpenas yang berseteru, Warijan dan Sugihartoyo. Konflik antar mereka dinilai bisa mengakibatkan bencana bagi mahasiswa.
“Jika konflik terus berlanjut, kampus pasti akan kena sanksi non aktif dan korbannya pasti mahasiswa. Untuk itu, sebagai warga Banyuwangi yang masih menghargai tradisi warisan leluhur, kita menggelar aksi lempar tomat ‘ranti’. Karena dipercaya bisa menolak balak,” gamblangnya, Selasa (1/3/2016).
Dengan aksi tersebut, diharapkan sengketa dualisme kepemimpinan Perpenas segera usai. Warijan bisa legawa dengan habisnya masa bhakti dan bersedia mengakui keabsahan SK Kemenkumham yang dipegang Sugihartoyo.
“Soal gugatan terhadap SK Kemenkumham Pak Sugihartoyo, kami harap jangan dicampuradukkan. Tapi kami mengharap Pak Warijan bisa legawa dulu, jika ternyata gugatannya menang. Silakan ambil kembali kepengurusan Perpenas,” pungkas anggota BEM Untag Banyuwangi yang juga kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini.
Sebelumnya, Senin kemarin (29/2/2016), pihak Kemenristek Dikti dan Kopertis Wilayah VII, sempat menjadi mediator kedua pihak bersengketa. Namun sayangnya, keduanya tetap ngotot dan tidak menemui titik temu. (*)
