JATIMTIMES - Kepariwisataan menjadi salah satu sektor yang tengah digarap serius oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Walau tak memiliki potensi alam sebagai magnet wisata, bukan berarti Kota Malang tak memiliki daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung.
Bahkan, potensi kepariwisataan di Kota Malang menyimpan daya tarik tersendiri juga ditunjukan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan. Dimana meskipun sempat terpuruk saat pandemi, nyatanya Kota Malang masih memiliki daya tarik untuk dikunjungi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) tingkat kunjungan wisatawan ke Kota Malang mengalami peningkatan cukup signifikan.
Untuk wisatawan domestik peningkatannya sebesar 256 persen. Dari jumlah kunjungan sebanyak 771 ribu, menjadi 2,74 juta kunjungan di tahun 2022.

Sementara untuk wisatawan mancanegara peningkatannya mencapai 277 persen. Dari jumlah kunjungan sebanyak 2.241 kunjungan di tahun 2021, meningkat menjadi 8.455 kunjungan di tahun 2022.
Menurut Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, hal tersebut juga tak lepas dari menggeliatnya ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Malang.
"Ini memang dipicu dengan ekraf di Kota Malang yang salah satunya banyak belajar dari kondisi pandemi. Dimana pandemi memberikan pelajaran yang baik dengan terus berpikir dan bertindak secara kreatif. Dengan tidak harus keluar serta pendekatan yang dilakukan dengan online. Hal itu disadari juga berdampak pada peningkatan pendapatan warga," jelas Wahyu.
Dengan kondisi tersebut, pihaknya pun berkomitmen untuk terus melakukan penguatan. Baik penguatan pada destinasi wisata, maupun pada Malang Creative Center (MCC) yang saat ini digunakan sebagai 16 subsektor ekraf. Termasuk di dalamnya memperhatikan sarana prasarana (sarpras) pendukung.

"Pendekatan dari wisata dengan melengkapi sarpras, kita juga tambah dengan beberapa seni (contohnya). Karena potensi wisata di Kota Malang tidak hanya dirasakan (melalui destinasi wisata) yang signifikan, namun juga corak dan bentuk destinasi wisata di Malang memang beda dengan daerah lain," terang Wahyu.
Perbedaan karakter Kota Malang yang cukup berbeda dengan daerah lain yakni Kabupaten Malang dan Kota Batu, ternyata mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Tentu dalam prosesnya juga tak lepas dari sentuhan seluruh pihak. Baik Pemkot Malang, kelompok masyarakat, kelompok sadar wisata (pokdarwis) hingga stakeholder terkait
"Contoh kita tahu seperti Kayutangan Heritage, lalu ada destinasi kolonial, ini mampu menjadi daya tarik. Dengan ada penguatan, kita kuatkan pokdarwis, paguyuban kampung tematik, sinergi stakeholder seperti PHRI dan lainnya," tutur Wahyu.

Selain itu, kepariwisataan juga tak dapat dibatasi secara administratif kewilayahan. Artinya, Kota Malang sebagai bagian dari Malang Raya tetap harus berkolaborasi dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu. Termasuk dalam hal kepariwisataan dengan potensi di wilayahnya masing-masing.
"Seluruh Malang Raya harus saling mengisi. Itu yang terkait wisata buatan dan kolonial, tapi di Malang Raya juga punya poitensi lain. Misalnya untuk hotel banyak pilihan di Kota Malang, tapi kalau wisata bisa ke Kabupaten Malang dan Kota Batu," jelas Wahyu.
Sementara terkait ekonomi kreatif, saat ini Kota Malang juga tengah dalam proses menuju Kota Kreatif Dunia pada tahun 2025 mendatang. Dimana hal tersebut juga telah mendapat respon dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dimana dalam hal ini meminta Pemkot Malang untuk menyusun roadmap agar ekraf di Kota Malang bisa semakin dikenal.
"Tidak hanya di lokal, regional dan nasional saja, tapi juga ada siginifikansi ekraf dunia dari Kota Malang. Komite Ekraf di Kota Malang bikin road map, agar bisa menjadi ekraf di dunia. Salah satu yang dilakukan adalah dengan menggandeng King College University London. Dimana harapannya kampus tersebut bisa turut membuka prodi di Kota Malang untuk selanjutnya membantu pertumbuhan ekraf," pungkas Wahyu.
