Gus Baha Ungkap Asal-Usul Lailatul Qadar

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana

17 - Mar - 2025, 07:42

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah yang juga dikenal ahli tafsir, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah yang juga dikenal ahli tafsir, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menjelaskan bagaimana Lailatul Qadar menjadi malam istimewa yang diberikan secara khusus hanya kepada umat Nabi Muhammad. Keistimewaan ini dijelaskan dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam surat Al-Qadar. 

Menurut Gus Baha, malam penuh keberkahan ini diperuntukkan bagi umat Islam berawal dari keluh kesah Nabi Muhammad kepada Allah. Nabi merasa prihatin karena usianya jauh lebih pendek dibandingkan nabi-nabi terdahulu. Hal ini berpengaruh pada kesempatan mereka dalam beribadah dan mengumpulkan pahala. 

"Nabi Nuh jadi nabi saja 950 tahun. Itu dapat umat 80 orang. Jadi umurnya Nabi Nuh itu 1.700 tahun. Menjadi nabi 950 tahun. Kalau Nabi Ibrahim usianya sekitar 300 tahun. Dikhitan umur 80 tahun," kata Gus Baha dilansir dari kanal YouTube Santri Gayeng, Senin (17/3/2025). 

Karena usia para nabi terdahulu begitu panjang, mereka memiliki kesempatan untuk beribadah lebih lama, sehingga pahala yang mereka kumpulkan pun sangat banyak. Hal inilah yang membuat Nabi Muhammad merasa iri. 

"Nabi-Nabi terdahulu itu usianya ribuan tahun. Lalu Nabi Muhammad itu iri. Wah, kalau usianya panjang lalu beribadah seperti Nabi Nuh betapa banyak pahalanya, sedangkan usiaku hanya 63 tahun," ujar Gus Baha, menjelaskan maksud Nabi Muhammad agar lebih mudah dipahami. 

Sebagai jawaban atas kekhawatiran tersebut, Allah kemudian menurunkan surat Al-Qadar. Dalam surat ini, Allah menerangkan tentang malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. 

"Saat Nabi Muhammad begitu iri, Allah menurunkan surat Al Qadr," jelas Gus Baha. 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, 
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، 
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ 

Artinya : "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.

Dalam penjelasannya, Gus Baha menyebut bahwa Allah secara tersirat memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad dan umatnya melalui surat Al Qadr. Meskipun umat Nabi Muhammad memiliki umur yang lebih pendek, mereka tetap bisa mendapatkan pahala yang berlimpah dengan keberkahan Lailatul Qadar. 

Gus Baha lalu menghitung bagaimana umat Islam bisa mendapatkan keuntungan besar dari malam tersebut. Jika rata-rata umur umat Nabi Muhammad sekitar 60 tahun, maka mereka memiliki sekitar 52 kali kesempatan untuk meraih Lailatul Qadar sepanjang hidupnya. 

"Orang-orang sekarang berpuasa kira-kira 8 tahun. Kalau umurnya 60 tahun, puasa berapa kali itu? Jadi, 60 tahun kurangi 8 tahun berarti 52 tahun. 52 tahun dikali 83 tahun, wah banyak sekali. Lailatul Qadar itu kan anggaplah sama dengan (ibadah) 83 tahun, wah itu sudah melampaui Nabi Nuh," terangnya. 

Karena keistimewaan inilah, umat Nabi Muhammad memiliki kedudukan yang sangat tinggi di akhirat kelak. "Makanya umat Nabi Muhammad itu suarganya paling atas. Karena mendapatkan Lailatul Qadar," pungkas Gus Baha.