JATIMTIMES - Kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) yang memudahkan mahasiswa merangkum materi dan menyelesaikan tugas berpotensi menyimpan konsekuensi serius bagi kualitas pembelajaran. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Stella Christie, mengungkapkan data yang menunjukkan penurunan skor pada kelompok mahasiswa yang menggunakan AI setiap hari. Pemanfaatan teknologi tersebut untuk meringkas pengetahuan juga disorot karena dapat berkaitan dengan pemahaman materi yang kurang mendalam.
Peringatan itu disampaikan Stella saat menghadiri Rapat Terbuka Senat Akademik Fakultas dan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-65 atau Lustrum XIII Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Senin (19/10/2026).
Stella menilai, persoalan AI di perguruan tinggi tidak cukup dijawab dengan mengajarkan mahasiswa cara mengoperasikan teknologi tersebut. Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan penggunaan AI tidak menggerus kemampuan mahasiswa dalam memahami pengetahuan, membangun penalaran, dan menguasai kompetensi yang dibutuhkan setelah lulus.
“Data menunjukkan yang pakai AI tiap hari skor nilainya turun jauh. Yang pakai AI untuk meringkas pengetahuannya bahkan tidak dalam,” ujar Stella.
Paparan tersebut menjadi peringatan terhadap kebiasaan menggunakan AI sebagai jalan pintas dalam proses belajar. Ketika teknologi mengambil alih terlalu banyak tahapan berpikir, mahasiswa berisiko memperoleh jawaban atau rangkuman dengan cepat tanpa menjalani proses pemahaman yang semestinya dibangun melalui kegiatan belajar.
Lanjut Stella, persoalan itu menyentuh tujuan utama pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak sekadar dituntut menuntaskan tugas, melainkan harus menguasai pengetahuan secara mendalam dan mampu menerapkannya dalam situasi nyata.
“Tujuan kita kuliah mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam dan juga penting secara praktis mendapatkan pekerjaan,” katanya.
Ketergantungan pada AI, menurut Stella, perlu dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap pencapaian tujuan tersebut. Mahasiswa yang terbiasa mengandalkan hasil olahan teknologi tanpa membangun pemahaman sendiri berisiko menghadapi kesulitan ketika harus menggunakan pengetahuannya secara mandiri.
Kondisi itu menjadi persoalan ketika kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja tidak berhenti pada menghasilkan jawaban. Lulusan juga perlu memahami persoalan, menilai informasi, dan menerapkan pengetahuan sesuai konteks. Karena itu, hasil tugas yang tampak baik belum tentu mencerminkan penguasaan materi apabila proses berpikir mahasiswa terlalu banyak digantikan AI.
Stella tidak menempatkan tantangan tersebut sebatas persoalan penggunaan teknologi di ruang kelas. Ia mendorong perguruan tinggi membicarakan secara mendalam apakah AI benar-benar membantu mahasiswa belajar atau justru menjauhkan mereka dari kompetensi yang hendak dicapai.
Menurut dia, kampus perlu mengevaluasi penggunaan AI dalam berbagai aktivitas akademik, termasuk ketika mahasiswa mengerjakan tugas, mempelajari materi, dan membuat ringkasan. Penilaian tidak cukup didasarkan pada efisiensi atau kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga harus memperhitungkan kedalaman pemahaman yang terbentuk.
“Apakah penggunaan AI ketika mengerjakan tugas dan belajar, untuk meringkas, membuat mahasiswa lebih mencapai tujuannya atau justru mundur dan berkurang dari tujuan itu?” ujarnya.
Stella menegaskan bahwa mahasiswa perlu mempertanyakan alasan mereka menempuh pendidikan tinggi. Jika tujuan kuliah adalah memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna, penggunaan AI semestinya dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap pencapaian tujuan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa belum ada institusi yang sepenuhnya siap menghadapi perkembangan AI, baik universitas, perusahaan, maupun pemerintah. Perubahan teknologi berlangsung secara eksponensial sehingga menuntut strategi yang tidak sekadar mengikuti tren.
“Kelihatannya pelan-pelan, tetapi ternyata eksponensial,” kata Stella.
Di tengah perubahan itu, ia justru melihat perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk merumuskan respons. Universitas bukan hanya tempat mentransmisikan pengetahuan, melainkan juga institusi yang bertanggung jawab menciptakan dan mengkurasi pengetahuan.
Baca Juga: Tak Hanya Kalangan Sipil, Wisudawan UIN Malang Juga Ada yang Berprofesi sebagai Perwira TNI AD
Baca Juga: Kemendikdasmen Buka Beasiswa Pelatihan Literasi Guru SD-SMP, Ini Syarat dan Cara Daftarnya