JATIMTIMES — Udara dingin belum sepenuhnya meninggalkan Dukuh Jelidro ketika gemeretak api menembus keheningan subuh, Minggu (18/10/2026). Dari gang-gang kampung di RW 01 Kelurahan Sambikerep, Surabaya, asap tipis membumbung, membawa aroma khas batok kelapa yang terbakar berpadu dengan gurihnya bumbu panggangan.
Sejak fajar menyingsing, halaman rumah-rumah warga menjelma dapur umum. Ada yang mengipas bara, membalik jajaran ayam dan ikan panggangan, hingga merangkai nasi tumpeng dengan aneka lauk-pauk. Tak ada sekat sosial; jemari tua dan muda bahu-membahu merajut pesta syukur.
Ada pula yang mulai meracik penganan tradisional: tape ketan dan tetel. Bagi pasangan Sudjianto dan Sunanik, dua jajanan khas perjamuan adat tersebut seolah wajib hadir, minimal setahun sekali pada momentum sedekah bumi seperti hari itu.
Saat ditemui di kediamannya, keluarga ini tengah tenggelam dalam ritual pembuatan tetel. Mereka baru saja mengangkat ketan matang dari panci kukusan, dalam keadaan masih panas, untuk dipindahkan ke wadah khusus. "Wajib ada ini. Kalau ndak ada tetel ya kurang lengkap," cetus Sudjianto.
Puncak dari pembuatan tetel ini tiba pada proses penumbukan, yang terlaksana dalam balutan kehangatan keluarga. Itu ketika Sudjianto bersama anggota keluarga lainnya bergotong royong memukul-mukul adonan ketan menggunakan alu secara bergantian dengan penuh antusiasme.
Di tengah gelak tawa dan tenaga yang mulai terkuras, suara langkah kaki mendekat. Marsidi, adik ipar Sunanik, datang menyusul dengan senyum lebar. "Wah, rupanya pas banget saya ke sini, gantian ya, tangan anak muda mulai pegal ini!" seru Marsidi disambut tawa renyah keluarga.
Tanpa menunggu lama, ia langsung mengambil alih alu, menggantikan giliran anak Sudjianto untuk menumbuk adonan panas tersebut hingga butiran ketan benar-benar menyatu, luluh, dan bertransformasi menjadi adonan yang lembut, padat, serta kenyal.
Bagi warga Jelidro, hidangan yang disiapkan sejak subuh itu memiliki dua muara. Sebagian akan dibawa ke lokasi sedekah bumi yang dipusatkan di sepanjang Jalan Raya Jelidro. Sebagian lagi disajikan di meja-meja tamu rumah mereka.
Pada momentum sedekah bumi ini, pintu-pintu rumah warga terbuka lebar untuk kerabat jauh, teman kantor, hingga kawan sekolah anak-anak mereka. Momen ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan panggung kehangatan untuk merayakan kembali ikatan kemanusiaan.
Tak jauh dari keriuhan dapur-dapur warga, beberapa panitia tampak mengitari arena utama di jalan raya. Mereka memeriksa kesiapan panggung, menata tikar, hingga memberi arahan kepada sejumlah pelaku UMKM yang mulai berdatangan di sekitar lokasi.
Tumpeng Tanpa Kasta
Di tengah kepungan gedung-gedung bertingkat dan laju modernisasi yang terus mengimpit Surabaya Barat, setiap jengkal area di Jelidro hari itu menjadi saksi bisu daya tahan sebuah tradisi. Ketika jarum jam menunjuk pada waktu yang ditentukan, warga berbondong-bondong keluar dari lorong-lorong gang, memadati badan jalan raya dengan langkah riang sembari mengusung mahakarya kuliner mereka.
Sekejap saja, ratusan tumpeng berjejer rapi di sepanjang Jalan Raya Jelidro dalam beragam rupa dan ukuran. Ada tumpeng nasi kuning klasik, nasi putih berbentuk kerucut sempurna, hingga kreasi modern berupa tumpeng berisi snack, mi instan, dan buah-buahan segar. Bahkan ada pula ancak raksasa berisi aneka buah, sayur, dan beragam produk kebutuhan warga, dirancang menyerupai kerbau, yang harus diangkut menggunakan gerobak khusus agar tiba di lokasi perayaan.
Inilah perjumpaan agung, pesta kerakyatan yang merangkul semua tanpa kecuali. Betapa tidak, meski tumpeng yang tersaji menembus angka ratusan, dalam tradisi ini tidak pernah ada paksaan atau kewajiban bagi warga untuk membuatnya; seluruhnya murni lahir dari kesadaran dan ketulusan masing-masing individu.
Warga yang tidak berkesempatan membuat tumpeng tetap dipersilakan hadir dan berbaur tanpa rasa canggung, termasuk para pendatang yang sehari-hari bermukim di kos-kosan dan rumah kontrakan warga setempat. Di hamparan Jalan Raya Jelidro hari itu, sekat-sekat ekonomi lebur tak bersisa. Semua orang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, merayakan kehadiran Pancasila dalam wujud gotong royong yang nyata.
Kemeriahan siang itu dibuka dengan gemulai gerak Tari Remo yang memukau, disusul dengan deretan sambutan. Lurah Sambikerep, Puput Pujiastuti, yang hadir di tengah-tengah warga, memilih menyampaikan sambutan singkat namun padat makna.
Tanpa banyak kata, ia memberikan apresiasi yang mendalam atas kekompakan warganya dan menaruh harapan besar agar tradisi sedekah bumi ini terus lestari. "Alhamdulillah terima kasih kepada seluruh panitia dan warga. Mudah-mudahan tahun-tahun ke depan bisa diadakan lagi," ucapnya.
Doa pun dibacakan secara khidmat oleh ulama setempat, menandai puncak acara segera tiba: pembagian dan perebutan tumpeng. Suasana khusyuk langsung pecah usai doa dibacakan, ketika anak-anak kecil berkerumun, bersorak riang berebut tumpeng jajanan serta uang kertas yang sengaja disisipkan di antara hiasan.
Selepas sesi tumpengan usai, kegembiraan tidak lantas surut. Acara berlanjut dengan panggung hiburan musik yang mendendangkan lagu-lagu riang hingga senja menampakkan diri. Dan tatkala malam mulai menyelimuti langit Surabaya, tirai perayaan ditutup dengan pementasan seni tradisi ludruk yang menghibur warga hingga larut malam.
Jejak Leluhur di Tanah Perkotaan
Marudi, Tokoh Masyarakat sekaligus Wakil Ketua RW 01 Dukuh Jelidro, menyaksikan langsung bagaimana warganya merawat denyut tradisi ini. Ingatannya merekam dinamika kampung yang dulunya merupakan kawasan agraris, namun kini telah bersanding ketat dengan lanskap metropolitan. "Ini turun-temurun dari nenek moyang kami," kenang Marudi ketika ditemui di sela-sela kegiatan.
Meski zaman bergulir dan mayoritas warga kini bukan lagi petani, tradisi itu tak termakan usia. Bagi warga Jelidro, sedekah bumi tetap dilestarikan sebagai wujud syukur mendalam atas kehidupan yang diberikan alam, serta segala penghasilan dan rezeki yang diperoleh dari pekerjaan mereka saat ini.
"Walaupun sudah modern, tradisi ini terus kami uri-uri dan diadakan setahun sekali, agar warga terhindar dari segala bencana dan dimudahkan semua urusannya. Jangan sampai sedekah bumi di Jelidro ini punah," tegas Marudi.
Kesetiaan warga Jelidro merawat tradisi bukan tanpa fondasi. Di balik kemeriahan pesta kampung, terdapat ruang musyawarah yang erat. Penggalangan dana, penataan kas RW, hingga dukungan dari para pengusaha lokal dikelola bersama secara transparan demi kelancaran acara.
Bagi Marudi, sedekah bumi adalah wahana perekat kerukunan antarwarga sekaligus menjadi penggerak roda ekonomi bagi UMKM dan pedagang kecil di sekitar kampung. Namun ia menyadari adanya tantangan besar terkait regenerasi. Karena itulah, pemuda Karang Taruna dirangkul dan diberi peran sentral dalam kepanitiaan.
"Anak-anak muda Karang Taruna ini adalah penerus estafet kita. Mereka sengaja dilibatkan agar mempunyai pengalaman langsung dan bisa meneruskan tradisi ini ke depan. Kalau anak muda tidak dirangkul, khawatirnya tradisi ini akan pudar," lanjut Marudi.
Di akhir penuturannya, Marudi menitipkan harapan besar warga Jelidro kepada Pemerintah Kota Surabaya agar terus memberikan dukungan nyata bagi kelestarian seni dan budaya di kampung-kampung perkotaan, terutama dalam memfasilitasi pementasan tradisional seperti ludruk, reog, dan wayang melalui program-program kebudayaan kota.
Semangat Kultural di Antara Hutan Beton Metropolitan
Semarak di Jelidro hari itu bukanlah cerita tunggal di Kota Pahlawan. Menengok lebih jauh ke sudut-sudut wilayah Surabaya lainnya, sedekah bumi juga masih lestari. Dari perkampungan padat di Ngagel Dadi atau kampung tua di jantung kota seperti Kebangsren, hingga beberapa kawasan sisi barat sebut saja Made, Bringin, Lakarsantri, Tubanan, Karangpoh, dan wilayah lainnya, tradisi ini masih terjaga.
Ketahanan ritus-ritus akar rumput ini seolah menceritakan sebuah anomali sosial di jantung metropolitan. Di saat deru kendaraan dan rimbunnya pencakar langit mendesak ruang-ruang privat menjadi kian individualistis, ingatan komunal justru menemukan jalannya untuk pulang.
Fenomena bertahannya sedekah bumi—yang kerap pula disebut sebagai tegal desa, bersih desa, atau ruwat kampung—pernah dibedah secara tajam oleh Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Trisakti, M.Si. Pakar kajian budaya Jawa Timur itu merekam denyut ketahanan kultural tersebut dalam orasi ilmiah pengukuhan profesornya di Graha Sawunggaling, 29 Desember 2025 lalu.
Menurut Trisakti, lanskap manusia urban memiliki karakter yang terukir tegas: heterogen, mobilitas tinggi, berjejal dalam kompleksitas sosial, serta menuntut gaya hidup yang serba praktis dan kompetitif. Iklim semacam ini tanpa sadar kerap mengail benih-benih individualisme, mengikis ruang-ruang temu, dan meredupkan gairah komunal warga kota.
Namun, di atas jalur aspal dan di antara himpitan tembok beton perkotaan, sebuah kejutan kultural terjadi. Tradisi yang berakar dari kesakralan agraris pedesaan itu kini hadir dengan wajah yang jauh lebih terbuka dan performatif.
"Dalam pelaksanaannya, seni pertunjukan tradisional seperti ludruk, wayang kulit, ketoprak, campursari, hingga pawai budaya kembali mendapat ruang penting," ungkap Trisakti dalam orasinya, sebagaimana dikutip dari laman resmi Unesa.
Lebih jauh, Trisakti memandang ritual sedekah bumi tak hanya perhelatan seremonial belaka, tetapi juga praktik simbolik sarat makna, tempat warga kota menenun ulang identitas kultural dan solidaritas sosial di tengah arus perubahan zaman.
Seni pertunjukan di dalamnya bukan sekadar penghibur lara di akhir pekan, melainkan medium kultural yang menyambungkan kembali relasi manusia dengan sesamanya, dengan alam sekitarnya, hingga pada dimensi spiritual yang transenden.
"Ketika seni pertunjukan dimaknai secara reflektif dan partisipatif, ia dapat menjadi ruang dialog antara tradisi dan modernitas. Di situlah seni berperan sebagai media yang menghidupkan kembali kesadaran budaya masyarakat urban," tutur Trisakti.
Pada akhirnya, sedekah bumi di Dukuh Jelidro turut membuktikan bahwa modernisasi metropolitan tidak otomatis mereduksi akar budaya warganya. Di tengah kepungan hutan beton dan laju zaman yang menuntut kepraktisan, tradisi ini hadir sebagai benteng pertahanan sosial—merawat roh gotong royong, serta meneguhkan lagi nilai-nilai Pancasila yang hidup dan bernafas di jantung kampung Surabaya.
Baca Juga: Tak Perlu Jauh-Jauh, 5 Agenda Seru di Malang Oktober 2026 Ada Festival Jadul hingga Wisata Bunga
Baca Juga: Cari Paket Pernikahan di Malang? Grand Miami Hotel Tawarkan Benefit Menarik