JATIMTIMES – Peristiwa kebakaran hutan lahan (karhutla) di wilayah Indonesia selama beberapa bulan terakhir cukup menyita perhatian publik. Masyarakat pun banyak yang berpendapat bahwa peristiwa karhutla yang terjadi bukan murni faktor bencana meskipun cuaca sedang musim kemarau.
Ajakan untuk menghentikan dugaan pembakaran hutan pun muncul di Kota Malang. Hal tersebut muncul dalam sebuah banner yang terpasang di wilayah Kelurahan Madyopuro Kecamatan Kedungkandang.
Posisinya diletakkan pada median jalan simpang empat exit tol Kedungkandang. Mengingat posisinya yang ada di trafic light, membuat pengendara cukup mudah untuk melihat banner tersebut.
Banner tersebut memuat ajakan menghentikan kebakaran hutan dan lahan melalui slogan “Stop Bakar Hutan dan Lahan”. Pesannya menekankan bahwa satu api dapat memicu ribuan sesak napas, sehingga masyarakat perlu menjaga hutan dan mencegah pembakaran lahan.
Banner itu juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan, kualitas udara, dan kesehatan warga. Masyarakat diimbau tidak membakar lahan demi menjaga lingkungan tetap hijau dan mencegah kebakaran hutan berulang. Slogan penutupnya berbunyi, “Gunung Menghijau, Malang Kembali Sejuk.”
"Iya benar memang, paling tidak bisa mengingatkan kita bahwa saat ini sedang ada peristiwa karhutla yang mengancam keselamatan banyak nyawa, seperti di Kalimantan. Dan di berita juga sepertinya ada karhutla di Malang Raya, ajakan yang bagus untuk sama-sama mengantisipasi ya," ujar salah seorang pengendara, Rudi Wardoyo, Sabtu (17/10/2026).
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi berulang di sejumlah wilayah Malang Raya sepanjang 12–17 Oktober 2026. Di tengah rentetan kejadian tersebut, Kalimantan menghadapi kebakaran dengan luasan terdampak jauh lebih besar.
Di Kota Batu, kebakaran pada 14 Oktober melanda hutan produksi di Desa Gunungsari seluas 0,50 hektare. Sehari kemudian, api membakar rumpun bambu di Songgokerto seluas 0,50 hektare dan hutan pinus di Gunungsari seluas 0,71 hektare.
Dengan demikian, tiga kejadian tersebut menghanguskan sekitar 1,71 hektare lahan. Angka itu belum mencakup lokasi lain yang luasnya belum diketahui.
Pada Jumat, 16 Oktober, Perhutani KPH Malang juga menangani tiga titik kebakaran. Lokasinya meliputi Keraton Gunung Kawi di Ngajum, kawasan atas Gua Jepang di Kota Batu, serta hutan di atas objek wisata Coban Rondo, Pujon. Hingga Jumat sore, pemadaman di sejumlah lokasi masih berlangsung.
Sementara itu, kebakaran lahan bambu berulang di Arjowinangun, Kota Malang, pada 13–15 Oktober. Kebakaran juga melanda kawasan Gunung Arjuno di wilayah Pasuruan, yang berbatasan dengan Malang Raya.
Di Kalimantan, skala kebakaran jauh lebih luas. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mencatat 2.162 kejadian karhutla dengan total area terdampak mencapai 8.713,14 hektare hingga 13 Oktober 2026. Khusus periode 1–13 Oktober, tercatat 311 kejadian dengan luas terdampak 1.013,88 hektare.
Adapun Kalimantan Tengah mendeteksi 3.908 titik panas berdasarkan data BRIN dan Sipongi. Dalam laporan penanganan hingga 11 Oktober pukul 18.00 WIB, provinsi tersebut juga mencatat 62 kejadian karhutla yang membakar 64,82 hektare lahan dalam kurun 24 jam.
Rentetan kejadian ini memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga lahan bervegetasi di sekitar permukiman dan aktivitas warga. Angin kencang serta vegetasi kering turut meningkatkan risiko perambatan api.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi menargetkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berlangsung secepat mungkin.
Ia menegaskan pentingnya respons cepat untuk mengurangi dampak kebakaran terhadap masyarakat dan mencegah jatuhnya korban jiwa. BNPB juga akan mengevaluasi luas kebakaran berdasarkan pemantauan satelit serta memetakan sumber daya pemerintah pusat dan daerah.
“Responsif itu hitungannya bukan jam, menit. Jadi, kita harus itu yang akan kita evaluasi ke depan ya, sehingga tidak ada lagi korban-korban yang sia-sia,” ujar Kristomei di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026) lalu mengutip berbagai sumber.
Baca Juga: Kolaborasi BRIN dan Komisi X DPR RI, Latih Jurnalis Menggunakan AI dengan Tetap Mengedepankan Etika
Baca Juga: 26 Wilayah Indonesia Masih Diselimuti Kabut Asap Karhutla Hari ini, Cek Daftarnya