JATIMTIMES - Kemarau berkepanjangan yang masih melanda Kota Malang hingga pertengahan Oktober 2026 mulai memukul sektor peternakan. Rumput liar yang biasanya menjadi sumber pakan utama ternak mengering, memaksa peternak mencari alternatif dengan biaya yang jauh lebih mahal.
Dampak tersebut dirasakan Lucky Aditya Ramadhan, pemilik kandang This is Farm di Kota Malang. Selama tiga bulan terakhir, ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan pakan kambing-kambingnya di tengah sulitnya mendapatkan rumput segar. “Sulit,” tegas Lucky saat menggambarkan kondisi yang dihadapinya saat ini.
Selama ini, kambing di kandangnya mengandalkan rumput liar yang tumbuh di sekitar peternakan. Namun, kondisi rumput yang mengering membuat sumber pakan tersebut tak lagi bisa diandalkan. Lucky pun beralih membeli kangkung kering dari luar kota untuk menjaga kebutuhan pakan ternaknya tetap terpenuhi.
Peralihan tersebut berdampak langsung terhadap biaya operasional peternakan. Harga kangkung yang sebelumnya relatif terjangkau kini melonjak hingga dua kali lipat.
"Jadi kalau sebelum El Nino, sebelum 3 bulan terakhir, harga kangkung itu di masa normal sekitar 2.500 per kilo. Namun sekarang naik bisa mencapai Rp 5.000 per Kg,” kata Lucky.
Kangkung kering yang dibeli Lucky tidak langsung diberikan kepada kambing. Pakan tersebut terlebih dahulu direndam, kemudian dicampur dengan konsentrat atau polar agar lebih mudah dikonsumsi ternak. “Kalau dengan cara itu, kambing mau makan,” katanya.
Menurut Lucky, mengeringnya rerumputan bukan sekadar mengurangi ketersediaan pakan, tetapi juga membuatnya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mempertahankan kondisi ternak.
“Mengering itu artinya kesulitan mencari pakan. Akhirnya beralih ke pakan alternatif, itu pakai kangkung kering,” ujar Lucky.
Di tengah meningkatnya pengeluaran untuk pakan, Lucky juga menghadapi penurunan harga jual kambing. Nilai ternak yang sebelumnya bisa mencapai puluhan juta rupiah kini merosot tajam, bahkan lebih dari 50 persen.
Ia mencontohkan seekor kambing juara kontes yang sebelumnya dibeli dengan harga Rp 25 juta. Kini, nilai kambing tersebut diperkirakan hanya tersisa Rp 5 juta.
“Teman saya, beli kambing pemenang kontes seharga Rp 25 juta, sekarang harganya turun menjadi Rp 5 juta,” papar Lucky.
Situasi tersebut membuat peternak menghadapi tekanan dari dua arah. Di satu sisi, biaya pemeliharaan meningkat akibat mahalnya pakan. Di sisi lain, harga jual ternak justru melemah sehingga peluang mendapatkan keuntungan semakin terbatas.
Persoalan itu diperberat oleh daya beli masyarakat yang dinilai ikut menurun. Harga kambing yang sudah jauh lebih murah pun belum tentu mampu menarik pembeli.
“Saya mencoba untuk bertahan dan berharap kondisinya menjadi baik,” harap Lucky.
Lucky berharap Pemerintah Kota Malang dapat memberikan perhatian lebih kepada peternak, terutama dalam membantu memenuhi kebutuhan pakan saat kemarau berkepanjangan. Ia mengaku sejauh ini belum pernah menerima bantuan pemerintah untuk mendukung pengembangan peternakannya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan menjelaskan, selama ini pihaknya belum menyalurkan bantuan pakan khusus bagi peternak kambing. Bantuan yang pernah diberikan berupa alat pencacah rumput untuk mendukung pengolahan pakan ternak.
“Sejauh ini memang belum pernah memberikan bantuan pakan kepada peternak kambing. Kami hanya memberikan alat pencacah rumput. Nanti rumput itu dicampur dengan alternatif pakan lainnya,” kata Slamet.
Slamet menyebut peternak kambing umumnya mengandalkan rumput yang tersedia di sekitar kandang maupun lingkungan tempat tinggal. Namun, hingga saat ini, ia mengaku belum menerima laporan mengenai kelangkaan pakan kambing akibat kondisi cuaca.
Menurutnya, ketersediaan rumput di sejumlah wilayah Kota Malang bisa berbeda, bergantung pada kondisi lingkungan dan sumber air. Kawasan yang berada di dataran lebih tinggi dan dekat aliran sungai dinilai masih berpeluang memiliki rumput untuk pakan ternak.
Sebaliknya, wilayah yang jauh dari aliran sungai lebih bergantung pada air hujan untuk mendukung pertumbuhan vegetasi, termasuk rumput liar yang biasa dimanfaatkan peternak. “Seharusnya ada makanan kalau di dekat sungai,” kata Slamet.
Berbeda dengan peternak kambing, Slamet menjelaskan bahwa Pemkot Malang telah memfasilitasi bantuan komoditas pakan bagi peternak ayam. Program tersebut dilakukan melalui penyediaan jagung dengan harga terjangkau dari Perum Bulog melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Kalau peternak ayam, melalui Pemkot Malang ada SPHP jagung. Menyediakan komoditi jagung untuk pakan ayam dari Bulog,” terang Slamet.
Kondisi yang dialami peternak kambing ini menunjukkan bahwa kemarau berkepanjangan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berimbas pada biaya produksi dan nilai jual ternak. Di tengah tekanan tersebut, ketersediaan pakan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan agar peternak tetap mampu mempertahankan usahanya.
Baca Juga: Stok Bahan Baku Industri Mamin Diprediksi Habis Awal 2027, Ini Penyebabnya
Baca Juga: Ini Alasan MSCI Ancam Turunkan Status Saham RI ke Standalone Market.