JATIMTIMES - Ratusan petani dari Pancot, Cengklik, dan Matesih mendatangi Kantor Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Selasa (13/10/2026). Warga memprotes rencana pemasangan pipa baru berdiameter 8 inci milik PUDAM Tirta Lawu di sumber mata air Pancot karena khawatir pasokan air untuk sawah berkurang.
Kekhawatiran itu muncul saat tanaman padi di sejumlah lahan mulai menguning menjelang panen. Warga mengandalkan sumber mata air di lereng Gunung Lawu untuk mengairi sawah sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Aksi tersebut sontak viral setelah videonya diunggah oleh akun Threads @aan_shoffuannud****. Dalam penjelasannya, akun tersebut menggambarkan keresahan petani yang khawatir kehilangan sumber penghidupan jika aliran air berkurang.
"Di lereng Lawu hari ini warga turun bukan karena ingin demo, tapi karena sawahnya kering," tulis akun tersebut.
"Air dari mata air di atas yang selama ini menghidupi sawah mereka, kini dialihkan lewat pipa-pipa besar ke bawah. Di pematang, yang tersisa hanya lumpur. Padi mereka menguning sebelum waktunya panen," lanjutnya.
(Foto: Momen para petani dari Pancot, Cengklik, dan Matesih mendatangi Kantor Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Selasa (13/10/2026). (Foto: Threads)
Warga juga mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap sumber air di kawasan Lawu, terutama jika rencana pengembangan panas bumi atau geothermal di Jenawi berlanjut.
"Jika hari ini air untuk makan saja bisa diambil, bagaimana jika nanti perut gunung dibor untuk panas bumi? Lawu adalah tandon air kami," tulis akun itu.
PUDAM Tirta Lawu menjelaskan pemasangan pipa baru tersebut bertujuan menyesuaikan elevasi atau ketinggian jaringan, bukan menambah debit pengambilan air.
Namun, warga tetap khawatir pemasangan pipa berdiameter 8 inci itu akan memengaruhi pasokan air untuk irigasi sawah dan aliran Sungai Samin. Setelah mendapat protes, rencana pemasangan pipa baru dihentikan dan jaringan pipa lama tetap digunakan.
Persoalan ini juga dikaitkan dengan penolakan yang lebih luas terhadap rencana pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Lawu. Bagi warga yang menolak, ketersediaan air menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menjaga keberlangsungan pertanian dan kehidupan masyarakat sekitar.
Penolakan terhadap rencana proyek geothermal Gunung Lawu telah berlangsung sejak 2017. Kekhawatiran terhadap sumber mata air, kelestarian hutan, dan situs bersejarah menjadi alasan masyarakat terus menyuarakan keberatan hingga 2026.
Koordinator Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu, Aan Shopanuddin, mengatakan gerakan penolakan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari warga, pemuda, akademisi, budayawan, hingga relawan.
Menurut Aan, gerakan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam penghentian rencana pengembangan panas bumi yang menjadi perhatian masyarakat pada 2023.
"Karena penolakan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai akademisi, budayawan, dan semuanya bersatu menolak proyek tersebut, akhirnya kementerian mengeluarkan surat penghentian pada tahun 2023 lalu," ujar Aan, dikutip rmol, Jumat (16/10/2026).
Perjuangan itu, kata Aan, telah dimulai sejak 5 Maret 2017. Saat itu, para aktivis menggalang sekitar 1.000 tanda tangan di Terminal dan Pasar Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, sebagai bentuk penolakan terhadap rencana geothermal.
Gerakan tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah anggota DPRD Karanganyar dan kepala daerah saat itu. Dukungan tersebut memperkuat upaya warga dalam menyuarakan perlindungan lingkungan di kawasan Gunung Lawu.
Aan menilai sumber mata air menjadi salah satu hal yang paling penting untuk dilindungi. Air dari kawasan Lawu menopang kebutuhan rumah tangga sekaligus aktivitas pertanian masyarakat.
"Lawu itu gentong airnya Karanganyar. Kalau rusak, rakyat juga yang berimbas," tegas Aan.
Menurut dia, hutan dan vegetasi di kawasan Lawu berperan menjaga kemampuan tanah menyerap air. Kerusakan kawasan resapan dikhawatirkan memengaruhi ketersediaan air bagi warga dan lahan pertanian.
Selain sumber mata air, masyarakat juga mengkhawatirkan dampak kegiatan eksplorasi terhadap hutan, habitat satwa, dan keseimbangan ekosistem.
Meski rencana pengembangan yang menjadi perhatian warga disebut telah dihentikan pada 2023, isu geothermal kembali mencuat pada 2026. Kali ini, perhatian tertuju pada rencana survei pendahuluan dan eksplorasi panas bumi di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Rencana tersebut kembali mendapat penolakan dari warga dan relawan yang tergabung dalam gerakan Jaga Lawu. Mereka meminta pemerintah mempertimbangkan kekhawatiran masyarakat terkait lingkungan dan sumber mata air sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Penolakan itu tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan. Warga juga menyoroti nilai sejarah dan budaya Gunung Lawu yang menyimpan berbagai peninggalan kuno.
Sesepuh sekaligus pemerhati Gunung Lawu, Joko Sunarto atau akrab disapa Mbah Po, mengatakan kawasan tersebut memiliki peninggalan bersejarah yang penting untuk dilindungi.
"Lawu banyak menyimpan peninggalan kuno yang menjadi petunjuk kehidupan masyarakat pada masa lampau," jelas Mbah Po.
Sejumlah situs bersejarah berada di lereng Gunung Lawu, di antaranya Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Kethek, dan Candi Planggatan. Situs-situs tersebut menjadi bagian dari jejak sejarah dan kebudayaan yang berkembang di kawasan tersebut.
Mbah Po menilai nilai ekologis, sejarah, dan budaya Gunung Lawu perlu dipertimbangkan secara menyeluruh dalam setiap rencana kegiatan yang berpotensi memengaruhi lingkungan.
Gerakan penolakan terhadap rencana geothermal berlanjut hingga 2026. Pada September lalu, delapan pelari dari aliansi Jaga Lawu menempuh lari estafet sejauh 150 kilometer dari kawasan Lawu menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang.
Aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan aspirasi penolakan sekaligus meminta pemerintah memperhatikan kekhawatiran masyarakat sebelum melanjutkan rencana pengembangan panas bumi di sekitar Gunung Lawu.
Bagi warga yang tergabung dalam gerakan Jaga Lawu, persoalan ini menyangkut keberlanjutan sumber mata air, kelestarian hutan, serta perlindungan peninggalan sejarah dan budaya. Warga berharap kawasan tersebut tetap terjaga agar manfaatnya bisa dinikmati generasi mendatang.
Baca Juga: Green Policing Polresta Malang Kota, Upaya Menjaga Lingkungan Lewat Penanaman Pohon
Baca Juga: Peta NASA Tunjukkan Karbon Monoksida di Indonesia Merah Pekat, Terparah di Dunia?