JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Api di Permukaan Padam, Mengapa Kebakaran Gambut Masih Sulit Dipadamkan?

Reporter: Mutmainah J • Editor: Dede Nana
📅 16 Oktober 2026, 08:51 WIB • ⏱️ 6 menit baca

JATIMTIMES - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu selesai ketika kobaran api sudah menghilang. Terutama di kawasan gambut, api bisa terus membakar bagian dalam tanah tanpa terlihat jelas dari permukaan. Kondisi inilah yang membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan pengawasan yang lebih ketat.

Di sejumlah wilayah yang memiliki lahan gambut, persoalan ini menjadi tantangan tersendiri ketika musim kemarau membuat tanah kehilangan kelembapan. Permukaan lahan mungkin tampak sudah aman, tetapi asap yang masih keluar dari tanah dapat menandakan bahwa pembakaran belum sepenuhnya berhenti.

Karakteristik tersebut membuat kebakaran gambut berbeda dari kebakaran rumput atau semak biasa. Api tidak hanya menyebar di atas tanah, tetapi juga dapat merambat ke lapisan gambut yang berada di bawahnya.

Lantas, mengapa kebakaran lahan gambut begitu sulit dipadamkan meski api di permukaan sudah tidak terlihat? Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Api Bisa Merambat ke Bawah Tanah

Salah satu hal yang membuat kebakaran gambut sulit dikendalikan adalah sifat tanahnya yang kaya bahan organik. Gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dan mengalami penguraian selama waktu yang panjang, terutama dalam lingkungan yang basah.

Ketika kondisi gambut tetap lembap, material tersebut relatif sulit terbakar. Namun, saat mengering, lapisan organik itu dapat menjadi bahan bakar bagi api.

Berbeda dengan kebakaran vegetasi yang kobarannya mudah terlihat, api pada lahan gambut bisa merambat melalui lapisan tanah. Pembakaran bahkan dapat berlangsung tanpa nyala api besar sehingga tidak selalu mudah dikenali dari kejauhan.

Menurut kajian yang dipublikasikan melalui Current Opinion in Environmental Sustainability, kebakaran gambut dapat berlangsung dalam bentuk pembakaran membara atau smouldering. Proses ini memungkinkan api bertahan di dalam material organik dan menyebar secara perlahan.

Akibatnya, area yang tampak sudah padam belum tentu benar-benar bebas dari bara.

2. Bara Masih Bisa Bertahan meski Api Tidak Terlihat

Hilangnya kobaran api sering dianggap sebagai tanda bahwa kebakaran sudah berhasil dipadamkan. Pada lahan gambut, anggapan tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.

Pembakaran membara berlangsung tanpa nyala api yang mencolok. Proses ini dapat bertahan di dalam lapisan gambut dan menghasilkan panas meskipun permukaan tanah tidak lagi menunjukkan kobaran.

Bara yang tersisa berpotensi memicu kebakaran kembali ketika bertemu dengan material kering dan kondisi yang mendukung pembakaran. Vegetasi di atasnya pun bisa ikut terbakar apabila panas mencapai permukaan.

Inilah alasan petugas tidak cukup hanya memastikan bahwa api yang terlihat sudah hilang. Titik panas dan bagian tanah yang terdampak juga perlu diperiksa agar sisa pembakaran tidak berkembang menjadi kebakaran baru.

3. Gambut yang Mengering Lebih Mudah Terbakar

Kondisi air di dalam tanah sangat memengaruhi risiko kebakaran gambut. Saat kandungan air masih tinggi, kelembapan membantu menghambat proses pembakaran. Sebaliknya, ketika gambut mengering, material organik di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar.

Masalah ini kerap memburuk ketika musim kemarau berlangsung panjang. Berkurangnya curah hujan dan turunnya permukaan air tanah dapat membuat lapisan gambut kehilangan kelembapannya.

Pengeringan akibat saluran drainase atau perubahan penggunaan lahan juga dapat meningkatkan kerentanan tersebut. Gambut yang sebelumnya basah bisa berubah menjadi lapisan bahan bakar yang mudah terbakar ketika kondisi kering berlangsung cukup lama.

United Nations Environment Programme (UNEP) menjelaskan bahwa pengeringan lahan gambut meningkatkan risiko kebakaran. Karena itu, menjaga kondisi gambut tetap basah menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan karhutla.

4. Air Harus Menjangkau Bagian Gambut yang Terbakar

Memadamkan api di permukaan tanah belum tentu menyelesaikan kebakaran yang sudah merambat ke bawah. Air yang disiramkan perlu menjangkau bagian yang masih membara, bukan hanya membasahi permukaan lahan.

Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika kebakaran meluas atau terjadi di lokasi yang sulit dijangkau. Petugas juga membutuhkan pasokan air yang memadai untuk membasahi area terdampak secara menyeluruh.

Jika hanya bagian atas yang basah sementara lapisan di bawahnya masih menyimpan panas, pembakaran dapat berlanjut. Kondisi ini membuat pemadaman lahan gambut memerlukan penanganan yang disesuaikan dengan kedalaman dan luas area terbakar.

Selain memadamkan api, petugas perlu memastikan tidak ada bara yang tertinggal. Pemeriksaan lanjutan menjadi penting, terutama pada lokasi yang sebelumnya mengeluarkan asap dari permukaan tanah.

5. Kebakaran Bisa Menyebar Tanpa Mudah Diketahui

Kebakaran gambut tidak selalu ditandai dengan kobaran besar atau asap tebal. Dalam beberapa kondisi, proses pembakaran berlangsung perlahan di bawah permukaan sehingga sulit diketahui secara langsung.

Akibatnya, luas lahan yang terdampak bisa lebih besar daripada area yang terlihat terbakar. Sementara itu, titik pembakaran yang belum terdeteksi berpotensi terus merambat ke bagian lain.

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa pemantauan tidak boleh dihentikan segera setelah api berhasil dikendalikan. Petugas perlu memeriksa kembali area terdampak untuk memastikan tidak ada titik panas yang tersisa.

Kajian ilmiah tentang kebakaran membara di lahan gambut turut menyoroti sulitnya mendeteksi dan memadamkan jenis kebakaran ini. Karakteristiknya yang berlangsung di dalam material organik membuat penanganannya berbeda dari kebakaran permukaan biasa.

Cara Mencegah Gambut Kembali Terbakar

Pemadaman memang penting, tetapi upaya pencegahan perlu dilakukan sebelum lahan gambut terbakar. Salah satu langkah utamanya adalah menjaga kelembapan tanah agar material organik tidak mudah tersulut api.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

• Menjaga tata air gambut. Pengelolaan air perlu mencegah lahan mengering secara berlebihan, terutama ketika curah hujan menurun.

• Tidak membuka lahan dengan cara membakar. Api yang awalnya kecil dapat merambat ke lapisan gambut dan menjadi sulit dikendalikan.

• Melakukan pemantauan sejak dini. Titik panas, asap, dan perubahan kondisi lahan perlu diperhatikan agar potensi kebakaran dapat segera ditangani.

• Memastikan pemadaman berlangsung menyeluruh. Hilangnya kobaran api harus diikuti pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya bara di bawah permukaan.

• Melibatkan masyarakat dalam pencegahan. Pengetahuan mengenai bahaya pembakaran lahan dan cara melaporkan indikasi kebakaran dapat membantu mempercepat penanganan.

Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut Nasional 2020–2049 yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menjadi salah satu acuan dalam upaya menjaga fungsi ekosistem gambut dan mengurangi risiko kerusakannya.

Kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan karena api dapat merambat ke bawah tanah dan bertahan sebagai bara tanpa kobaran yang jelas. Ketika kondisi lahan masih kering, bara yang tersisa berpotensi memicu kebakaran kembali.

Karena itu, keberhasilan pemadaman tidak bisa hanya dilihat dari hilangnya api di permukaan. Kondisi tanah, keberadaan titik panas, dan kemungkinan munculnya asap kembali perlu menjadi perhatian.

Menjaga gambut tetap basah dan melakukan deteksi dini juga tidak kalah penting. Sebab, ketika kebakaran sudah merambat ke lapisan bawah tanah, proses pemadaman bisa jauh lebih rumit dibandingkan saat api masih berada di permukaan.

Baca Juga: Korban Tewas Karhutla Bromo Bertambah Jadi 4 Orang: 3 Petugas TNBTS dan 1 Pekerja Hotel

Baca Juga: Keselamatan Jadi Prioritas di Penghujung Flushing Bendungan Sengguruh, Marak Jadi Momen Berburu Ikan

Topik Terkait
# karhutla# gambut# pemadaman karhutla

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap