JATIMTIMES - Pernyataan Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto, mengenai rencana pemanfaatan hutan terdegradasi untuk pengembangan bahan bakar nabati kembali viral di media sosial. Hashim menyebutkan bahwa ada potensi pemanfaatan 12,7 juta hektare (ha) hutan rusak untuk mendukung produksi biofuel, termasuk biodiesel B50 hingga B100.
Gegara isu ini, hingga Kamis (15/10/2026), frasa "adik Prabowo" ramai ditelusuri di Google. Banyak warganet yang mencaritahu soal isu hutan yang diklaim rusak akan ditanami sawit.
Hashim yang saat ini menjabat utusan khusus presiden bidang iklim dan energi menyampaikan rencana tersebut dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa lahan yang dimaksud merupakan kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan, kehilangan tutupan kayu, dan sebagian berubah menjadi semak belukar akibat aktivitas penebangan.
Hashim menilai kawasan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan bahan bakar nabati tanpa harus membuka hutan primer.
"B50-B100 itu nanti, syukur-syukurnya itu nanti dari hutan yang rusak, bukan hutan primer. Menurut pemerintah, saat ini terdapat 12,7 juta hektare hutan rusak atau degraded forest," ujar Hashim.
Ia kemudian menjelaskan kondisi kawasan yang dimaksud menurut pemahamannya. "Itu hutan, tapi tidak ada kayu lagi. Sudah ditebang, semak belukar dan sebagainya. Itu yang sebetulnya sumber karbon lah. Hutan-hutan rusak itu," katanya.
Rencana yang disampaikan Hashim berkaitan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Salah satu langkah yang ditempuh ialah meningkatkan penggunaan biodiesel untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
B50 merupakan bahan bakar yang mengandung 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen solar berbasis fosil. Sementara itu, B100 merujuk pada bahan bakar yang seluruhnya berupa biodiesel.
Pemerintah telah menerapkan program mandatori B50 mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi peningkatan pemanfaatan bahan bakar nabati di dalam negeri.
Dalam pengembangannya, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi salah satu bahan baku untuk produksi biodiesel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan penerapan B50 membutuhkan sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton CPO.
Besarnya kebutuhan bahan baku tersebut menunjukkan peran industri kelapa sawit dalam mendukung program energi nasional. Pemerintah juga memproyeksikan penerapan B50 dapat menghemat devisa hingga Rp 170 triliun melalui pengurangan kebutuhan impor bahan bakar minyak.
Selain penghematan devisa, program ini diperkirakan meningkatkan nilai tambah industri CPO dan membuka peluang penyerapan tenaga kerja.
Jika pengembangan biodiesel berlanjut hingga B100, kebutuhan bahan baku akan semakin menjadi perhatian. Kesiapan industri pengolahan, kapasitas produksi, dan keberlanjutan pasokan minyak sawit menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan.
Hashim menjelaskan bahwa pengembangan biofuel dari B50 hingga B100 diarahkan untuk memanfaatkan kawasan yang telah mengalami degradasi, bukan hutan primer yang masih memiliki ekosistem alami.
"Nah, yang B50-B100 itu kita menuju ke swasembada energi dari biofuel. Kita memakai dari tanah, dari hutan degradasi, hutan rusak, bukan hutan primer," tutur Hashim.
Ia juga menyampaikan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui strategi pembangunan yang tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan.
"Saya sangat optimis Indonesia terang. Kita akan bertumbuh, ekonomi kita dengan strategi yang berimbang. Growth with balance, growth balance. Kita perhatikan dan kita utamakan juga lingkungan hidup, termasuk hutan kita, perairan kita," katanya.
Sontak pernyataan Hasyim itu menuai beragam kritik dari warganet.
"Sumber sumbernya dari hutan yang rusak, lalu siapa yg merusaknya? Ya lo lah anj*ng!," @ismail_ha***.
"Bukan hutan yang rusak tapi DIRUSAK!! Dannn yang "SUDAH DITEBANG"????," @abcdi***.
"Hutan rusak ya di rehabilitasi, bukan dijadiin sawit," @giel***.
"Stress, itu lahan gak boleh diapa2in ya, harus balik jadi hutan!!," @krislia***.
Baca Juga: Gerai Belum Beroperasi 100 Persen, 15 Manajer KDKMP Magetan Malah Antre Ajukan Pindah Tugas
Baca Juga: Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Indonesia, Cek Daftar 10 Provinsinya: Ada Wilayahmu?