JATIMTIMES - Kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia menjadi perhatian di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tingginya konsentrasi polutan di udara membuat masyarakat perlu lebih waspada, terutama di daerah yang mengalami peningkatan pencemaran akibat partikel halus.
Pada Kamis (15/10/2026) siang, sejumlah stasiun pemantauan mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dengan angka yang sangat tinggi. Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, menempati posisi teratas dengan ISPU mencapai 1.551.
Berdasarkan data Stasiun Pemantauan ISPU Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), angka tersebut tercatat pada pukul 12.05 WIB. Particulate Matter 2.5 (PM2.5) menjadi parameter pencemar kritis di wilayah tersebut.
Tak hanya Katingan, sejumlah daerah lain di Kalimantan Tengah juga mencatat ISPU yang sangat tinggi. Palangka Raya berada di angka 1.294, sedangkan Kabupaten Gunung Mas mencapai 1.006.
Pencemaran udara dengan angka tinggi juga terpantau di luar Kalimantan Tengah. Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mencatat ISPU sebesar 740, sementara Palembang, Sumatera Selatan, mencapai 644.
10 Wilayah dengan ISPU Tertinggi pada 15 Oktober 2026
Berdasarkan data pemantauan KLH/BPLH pada Kamis (15/10/2026) pukul 12.05 WIB, berikut daftar 10 lokasi dengan angka ISPU tertinggi:
1. Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah: 1.551
2. Palangka Raya, Kalimantan Tengah: 1.294
3. Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah: 1.006
4. Banjarmasin, Kalimantan Selatan: 740
5. Palembang, Sumatera Selatan: 644
6. Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah: 606
7. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan: 542
8. Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan: 475
9. Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah: 403
10. Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah: 400
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi dalam daftar berada di Kalimantan Tengah. Sementara itu, beberapa wilayah di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan juga mengalami pencemaran udara dengan angka ISPU yang tinggi.
Seluruh lokasi tersebut mencatat PM2.5 sebagai parameter pencemar kritis. Kondisi ini menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Apa Bahaya PM2.5 bagi Kesehatan?
PM2.5 merupakan partikel halus di udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini dapat menembus lebih jauh ke dalam paru-paru dibandingkan partikel berukuran lebih besar.
Dalam keterangannya yang dikutip dari laman resmi pada Kamis (15/10/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa paparan PM2.5 dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
"Karena ukurannya sangat halus, PM2.5 dapat masuk lebih dalam ke paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kelompok yang paling rentan terdampak antara lain anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung," demikian keterangan BMKG.
Dampak paparan partikel tersebut dapat berbeda-beda, bergantung pada konsentrasi polutan, durasi paparan, serta kondisi kesehatan seseorang.
BMKG juga menjelaskan bahwa paparan partikulat dalam jangka pendek dapat memicu iritasi mata, batuk, hingga sesak napas. Sementara itu, paparan dalam jangka panjang, khususnya terhadap PM2.5 dan PM1, berpotensi meningkatkan risiko gangguan paru-paru dan penyakit kardiovaskular serta menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Kualitas Udara Memburuk
Ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya saat konsentrasi polutan sedang tinggi. Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan respirator yang sesuai, seperti masker N95 yang terpasang rapat di wajah, dapat membantu menyaring partikel halus. Masyarakat juga dapat menutup pintu dan jendela ketika udara di luar tercemar serta menggunakan penyaring udara di dalam ruangan jika tersedia.
Selain itu, pantau informasi kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah dan perhatikan gejala yang muncul. Apabila mengalami sesak napas berat atau kondisi kesehatan memburuk, segera cari pertolongan medis.
Tingginya angka ISPU di sejumlah wilayah pada Kamis siang menjadi pengingat bahwa pencemaran udara akibat karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga ancaman bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, kewaspadaan dan langkah perlindungan perlu dilakukan selama kualitas udara belum membaik.
Baca Juga: Warga Terdampak Kekeringan di Kabupaten Malang Bertambah Jadi 19 Ribu Jiwa
Baca Juga: Dirut PLN Diganti usai Listrik di Batam Blackout, Ini Profil Suroso Isnandar