JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Harga Ayam di Kota Malang Tembus Rp 37 Ribu, Peternak Mulai Bernapas Lega

Reporter: Riski Wijaya • Editor: A Yahya
📅 13 Oktober 2026, 19:21 WIB • ⏱️ 3 menit baca

JATIMTIMES – Harga daging ayam di Kota Malang masih bertahan di kisaran Rp 34 ribu hingga Rp 37 ribu per kilogram. Angka tersebut berada di atas harga normal yang berkisar Rp 29 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram.

Kenaikan harga ini menjadi perhatian karena daging ayam merupakan salah satu komoditas pangan yang ikut menyumbang inflasi. Di sisi lain, kondisi tersebut mulai membawa angin segar bagi peternak yang sebelumnya tertekan akibat rendahnya penyerapan produk dan mahalnya biaya pakan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menyebut permintaan daging ayam dan telur mulai bergerak menuju kondisi normal. Aktivitas sekolah, perkuliahan, dan operasional SPPG turut mendorong penyerapan kedua komoditas tersebut.

"Alhamdulillah aktivitas sekolah, SPPG mulai operasional, terus kemudian aktivitas perkuliahan sehingga penyerapan daging ayam dan telur mulai mengalami ke arah yang normal," ujar Slamet.

Menurut dia, peternak sebelumnya menghadapi tekanan cukup berat. Harga daging ayam dan telur di tingkat peternak sempat merosot ketika penyerapan pasar melemah, sementara biaya produksi terus meningkat.

"Karena pakan makanan ayam sudah relatif mahal, sementara penyerapan daging dan telur cukup rendah, sehingga harga di tingkat peternak ini mengalami penurunan yang sangat menekan," jelasnya.

Tekanan tersebut bahkan membuat sebagian peternak membagikan telur dan daging secara gratis. Kini, meningkatnya penyerapan pasar mulai mendorong harga di tingkat peternak kembali naik. "Alhamdulillah mulai mengalami kenaikan saat ini," imbuh Slamet.

Meski demikian, kenaikan harga di tingkat konsumen tetap perlu dicermati. Dengan harga mencapai Rp 37 ribu per kilogram, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan ketika harga ayam berada pada kisaran normal.

Slamet memastikan ketersediaan daging ayam di Kota Malang sejauh ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Pasokan tersebut melayani permintaan rumah tangga, perhotelan, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Namun, kecukupan pasokan itu tidak terlepas dari distribusi komoditas dari luar daerah. Kota Malang bukan daerah produsen utama, sehingga kebutuhan pangan masyarakat bergantung pada arus barang yang masuk setiap hari.

"Realitanya Kota Malang kan bukan produsen. Sehingga aktivitas keluar masuk barang ke Kota Malang ini cukup tinggi," ungkapnya.

Slamet menyebut aktivitas distribusi tersebut dapat dilihat dari pergerakan komoditas di 26 pasar rakyat yang tersebar di Kota Malang. Meski begitu, ia belum merinci apakah operasional SPPG memicu penambahan volume pasokan ayam dari luar daerah.

Menurutnya, permintaan tambahan biasanya disampaikan langsung kepada pemasok ketika suatu layanan mulai beroperasi. Data mengenai perubahan volume pasokan tersebut lebih diketahui oleh masing-masing supplier.

"Kalau memang dari tidak operasional melakukan operasional pasti ada permintaan penambahan. Tapi kalau sudah berjalan ya sudah stabil pengirimannya," pungkasnya.

Baca Juga: Mengenal dan Cara Kerja PAXG sebagai Emas Tertokenisasi

Baca Juga: IHSG Anjlok, Indonesia Disebut Jadi Bursa Saham Terburuk Dunia 2026

Topik Terkait
# ayam# harga ayam# ayam kota malang

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap