JATIMTIMES - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya menyebabkan mata perih atau batuk. Paparan asap yang pekat dan berulang juga dapat berdampak pada kesehatan jantung, paru-paru, kehamilan, hingga fungsi otak. Sejumlah risiko kesehatan jangka panjang bahkan masih terus diteliti para ilmuwan.
Dokter estetika di Bae Clinic, dr Ilfa Najmi Arifa, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap dampak asap karhutla hanya sebatas infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"JANGAN KAGET ya kalau nanti beberapa tahun kedepan meningkat kejadian kanker paru, atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah), skin cancer (kanker kulit), bahkan gagal ginjal akan meningkat angka kejadiannya," tulisnya melalui akun Threads pribadinya @ilfanajmiarifa, dikutip Selasa (13/10/2026).
"Terimakasih ya pemerintah Indonesia. Memang mau depopulasi. Jangan dikira ya smoke haze akibat wildfire (karhutla) cuman ngaruh bikin ISPA aja. ISPA itu jangka pendek. Akibat jangka panjangnya? Banyak banget. Asap karhutla ini ibarat kita menghirup udara dari rokok terus menerus," imbuhnya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026. Secara kumulatif, jumlah kasus yang dilaporkan mencapai 13.449 kasus di 63 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Pada tanggal yang sama, pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan sejumlah wilayah mengalami kualitas udara sangat tidak sehat hingga berbahaya, dengan partikel halus PM2.5 menjadi salah satu parameter kritis.
"Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap," ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, dikutip dari laman resmi Kemenkes.
Untuk diketahui, asap kebakaran mengandung campuran partikel halus dan gas yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga bisa mencapai bagian dalam paru-paru. Paparan juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular dan organ lain.
Lantas, apa saja dampak kesehatan yang perlu diwaspadai akibat paparan asap karhutla?
1. Kerusakan paru-paru dan penurunan fungsi pernapasan
Paru-paru menjadi salah satu organ yang paling langsung terdampak paparan asap karhutla. Partikel halus dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan, menyebabkan batuk, sesak napas, mengi atau napas berbunyi, serta meningkatkan produksi dahak.
Pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan, paparan asap dapat memperburuk kondisi yang dialami. Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Paparan berulang dalam periode panjang juga menjadi perhatian peneliti karena sejumlah studi menemukan kaitan dengan penurunan fungsi paru. Anak-anak perlu mendapat perlindungan khusus karena organ pernapasannya masih berkembang.
2. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan asma yang memburuk
PPOK merupakan penyakit paru kronis yang menghambat aliran udara sehingga penderitanya dapat mengalami sesak napas berkepanjangan. Kondisi ini mencakup bronkitis kronis dan emfisema.
Asap karhutla dapat memperburuk gejala PPOK maupun asma. Penderita bisa mengalami batuk lebih sering, napas berbunyi, dada terasa sesak, hingga membutuhkan perawatan medis.
Pada orang yang telah memiliki penyakit paru, paparan asap berulang berpotensi memperberat kondisi. Meski demikian, tidak setiap orang yang terpapar asap akan mengalami PPOK. Risiko dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk intensitas dan lamanya paparan, kondisi kesehatan sebelumnya, serta paparan polutan lain.
3. Meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke
Dampak asap karhutla juga dapat meluas ke sistem kardiovaskular. Partikel halus yang terhirup dikaitkan dengan peradangan dan gangguan pada pembuluh darah serta sistem peredaran darah.
Paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke, terutama pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau faktor risiko lainnya.
Adapun aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding arteri merupakan proses yang berkembang dalam jangka panjang dan dipengaruhi berbagai faktor.
4. Meningkatkan risiko kelahiran prematur
Ibu hamil juga perlu mewaspadai paparan asap karhutla. Partikel halus PM2.5 dapat memengaruhi kesehatan ibu dan berpotensi berdampak pada kehamilan.
Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara paparan asap kebakaran hutan selama kehamilan dan peningkatan risiko kelahiran prematur. Penelitian juga menelaah kaitannya dengan pecah ketuban sebelum waktunya.
Meski hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan, risiko pada setiap kehamilan tidak sama. Faktor kesehatan ibu, kondisi kehamilan, intensitas paparan, dan lingkungan tempat tinggal turut berperan.
Ibu hamil yang tinggal di wilayah terdampak sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami keluhan.
5. Gangguan fungsi otak dan risiko demensia
Paparan polusi udara dalam jangka panjang juga menjadi perhatian dalam penelitian kesehatan otak. Sejumlah studi menemukan hubungan antara paparan PM2.5 dan peningkatan risiko demensia atau gangguan fungsi kognitif.
Demensia merupakan kumpulan gejala yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, dan aktivitas sehari-hari.
6. Keracunan karbon monoksida yang dapat berakibat fatal
Kebakaran, termasuk kebakaran lahan gambut, dapat menghasilkan karbon monoksida (CO). Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau sehingga sulit dikenali tanpa alat pendeteksi.
Karbon monoksida berbahaya karena mengganggu kemampuan darah mengangkut oksigen ke jaringan tubuh. Paparannya dapat menimbulkan sakit kepala, pusing, mual, lemas, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Dalam konsentrasi tinggi, keracunan CO dapat menyebabkan kematian.
Risiko keracunan berat lebih besar bagi orang yang berada dekat sumber kebakaran atau di ruang tertutup yang terpapar gas tersebut.
7. Gangguan psikologis akibat bencana dan kabut asap
Dampak karhutla tidak berhenti pada kesehatan fisik. Warga yang harus menjalani aktivitas di tengah kabut asap, membatasi kegiatan sehari-hari, mengungsi, kehilangan tempat tinggal, atau kehilangan sumber penghasilan juga dapat mengalami tekanan psikologis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa orang yang terdampak langsung kebakaran dapat mengalami stres dan masalah kesehatan mental akibat trauma, evakuasi, kehilangan harta benda, serta terganggunya mata pencaharian.
Dampak tersebut tidak berarti setiap orang yang tinggal di wilayah berkabut asap akan mengalami gangguan mental. Namun, dukungan keluarga, akses terhadap layanan kesehatan, informasi yang jelas, dan bantuan bagi warga terdampak menjadi bagian penting dari penanganan bencana.
8. Gangguan ginjal
Ginjal berfungsi menyaring darah dan membuang zat sisa melalui urine. Paparan polusi udara telah diteliti kaitannya dengan sejumlah gangguan ginjal, termasuk penurunan fungsi ginjal dan penyakit ginjal kronis.
Partikel halus yang masuk ke tubuh dapat memicu proses peradangan dan stres oksidatif. Sejumlah penelitian mengenai polusi udara secara umum menunjukkan adanya hubungan dengan masalah kesehatan ginjal.
9. Risiko kanker, termasuk kanker paru dan kanker kulit
Paparan asap kebakaran dalam jangka panjang menjadi salah satu bidang yang masih terus diteliti, terutama terkait kemungkinan peningkatan risiko kanker. Asap kebakaran dapat mengandung berbagai senyawa kimia berbahaya, bergantung pada bahan yang terbakar dan kondisi kebakaran.
Partikel dari pembakaran dapat membawa senyawa seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan zat berbahaya lainnya. Beberapa senyawa dalam kelompok tersebut diketahui memiliki sifat karsinogenik atau berpotensi menyebabkan kanker.
Cara Mengurangi Risiko Kesehatan akibat Asap Karhutla
Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak dapat melakukan beberapa langkah untuk mengurangi paparan asap.
• Pantau kualitas udara. Periksa informasi ISPU atau PM2.5 sebelum beraktivitas di luar rumah.
• Batasi kegiatan di luar ruangan. Kurangi aktivitas fisik berat saat udara berkabut atau kualitas udara memburuk.
• Gunakan masker yang sesuai. Respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus. Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan setara.
• Kurangi asap yang masuk ke rumah. Tutup pintu dan jendela saat asap pekat masuk ke permukiman. Jika tersedia, gunakan pembersih udara dengan filter yang sesuai.
• Lindungi kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, serta orang dengan penyakit jantung atau paru perlu mendapat perhatian khusus.
• Segera periksa jika muncul gejala berat. Sesak napas, nyeri dada, kebingungan, atau penurunan kesadaran membutuhkan pertolongan medis segera.
Demikian beberapa dampak kesehatan akibat terpapar asap kebakaran hutan. Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak juga dapat melakukan beberapa langkah di atas untuk mengurangi paparan asap. Semoga informasi ini membantu ya.
Baca Juga: Dua Kali Jalani Pemasangan Ring Jantung, Purnabhakti BPJS Kesehatan Rasakan Manfaat JKN
Baca Juga: Program JKN Temani Perjuangan Iswati Jalani Hemodialisis Selama 10 Tahun