JATIMTIMES - Radja Nainggolan tengah menjadi sorotan belakangan ini usai mengaku menyesal tidak pernah membela Timnas Indonesia. Mantan gelandang AS Roma dan Inter Milan itu kini merasa bisa memiliki karier internasional yang lebih panjang jika dahulu memilih memperkuat skuad Garuda ketimbang Timnas Belgia.
Pengakuan tersebut disampaikan Nainggolan dalam wawancara dengan media Belgia, Het Nieuwsblad. Di usianya yang kini menginjak 38 tahun, ia melihat kembali perjalanan kariernya dengan sudut pandang berbeda, terutama setelah merasakan langsung kehidupan di Indonesia.
Nainggolan mengaku dulu tidak pernah benar-benar mempertimbangkan kemungkinan membela Indonesia. Saat pertama kali datang ke Tanah Air pada 2013, ia belum melihat sepak bola Indonesia sebagai sesuatu yang menarik baginya.
Namun, pengalaman bermain untuk Bhayangkara FC membuat pandangannya berubah. Ia mulai memahami besarnya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola Indonesia, termasuk perhatian yang diterima pemain Timnas Indonesia.
"Saat itu, saya tidak memikirkan hal itu, tetapi sekarang saya berusia 38 tahun, saya melihat hal-hal secara berbeda," kata Radja, dilansir dari Nieuwsblad, Senin (12/10/2026).
"Terutama ketika saya melihat karier internasional saya di sini dan bagaimana berakhirnya di bawah Martinez. Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia." imbuhnya.
Salah satu hal yang paling membekas bagi Nainggolan adalah besarnya dukungan suporter Timnas Indonesia. Ia menilai atmosfer pertandingan Garuda begitu luar biasa, bahkan ketika menghadapi lawan yang menurutnya bukan tim besar.
"Ada 70 ribu orang di sana untuk pertandingan melawan Vietnam atau Irak. Begitulah fanatiknya mereka. Uang juga bertebaran di sana," ucapnya.
Nainggolan juga menyoroti besarnya perhatian komersial terhadap pemain yang memperkuat Timnas Indonesia. Ia menyinggung sejumlah merek mewah yang menjadi sponsor pemain, mulai dari Louis Vuitton, Hublot, hingga Rolex.
"Para pemain bahkan disponsori oleh Louis Vuitton, Hublot, Rolex ... sedangkan pemain internasional seperti Ivar Jenner hanya bermain untuk Jong Utrecht di sini," kata Radja.
Menurutnya, popularitas yang diperoleh pemain di Indonesia berpotensi memberikan keuntungan hingga setelah pensiun dari sepak bola. Pengalaman itu membuatnya memikirkan kembali pilihan yang diambil pada awal karier internasionalnya.
Bagi Nainggolan, daya tarik Indonesia tidak berhenti pada sepak bola. Ia juga terkesan dengan cara masyarakat dari latar belakang ekonomi berbeda berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menggambarkan suasana ketika orang-orang berpakaian rapi duduk berdekatan dengan pedagang yang menjajakan makanan menggunakan gerobak. Pemandangan tersebut memberinya kesan tentang kehidupan sosial yang lebih cair dibandingkan yang biasa ia temui di Eropa.
"Keramahan orang-orangnya luar biasa. Bagaimana orang kaya dan miskin berinteraksi di sana. Di siang hari, semua orang duduk di dekat gedung-gedung apartemen tinggi itu dengan kemeja dan dasi." jelasnya.
"Di sebelahnya, Anda melihat orang-orang mendorong gerobak dan menjual makanan, tapi semua orang duduk bersama di sana. Saya santai dalam hal itu dan biasa makan di warung-warung itu juga," imbuhnya.
Pengalaman tersebut ikut mengubah pandangannya terhadap Indonesia. Negara yang dahulu tidak terlalu ia pertimbangkan sebagai pilihan tim nasional kini justru menjadi sumber penyesalan dalam perjalanan kariernya.
Nainggolan pada akhirnya memilih Timnas Belgia dan mencatatkan penampilan di level internasional bersama negara tersebut. Ia pernah memperkuat sejumlah klub besar Eropa, termasuk AS Roma dan Inter Milan.
Pilihan itu membuat peluangnya membela Timnas Indonesia tidak lagi terbuka. Dalam aturan FIFA, pemain yang sudah tampil dalam pertandingan resmi untuk tim nasional senior pada prinsipnya tidak bisa begitu saja berpindah asosiasi; perpindahan hanya dimungkinkan dalam kondisi tertentu yang diatur secara khusus.
Kini, setelah merasakan sendiri atmosfer sepak bola Indonesia dan menengok kembali perjalanan internasionalnya bersama Belgia, Nainggolan mengaku memandang pilihan masa lalunya secara berbeda.
Ia merasa bisa saja menjalani karier internasional selama 15 tahun bersama Indonesia. Namun, kesempatan tersebut tinggal menjadi kemungkinan yang tidak dapat ia ulangi.
Baca Juga: Pengprov TI Jatim Benahi Kualitas Pelatih, Bekali Sport Science hingga Psikologi Olahraga
Baca Juga: Jadwal Balapan MotoGP Mandalika Hari Ini, Usai Marc Marquez Menang Sprint Race