JATIMTIMES - Kondisi bulu tua yang membuat performa suara belum sepenuhnya stabil tidak menghalangi murai batu bernama Cenil meraih juara pertama kategori tiket utama Festival Lomba Burung Berkicau Piala Bakorwil III Malang, Minggu (11/10/2026). Burung milik Sinchan, penghobi asal Kepanjen, Kabupaten Malang, itu memenangi kelas dengan tiket Rp220 ribu di Gantangan Wijaya Kusuma, Rest Area Sumbersekar, Kecamatan Dau.
Kemenangan Cenil terbilang menarik karena burung tersebut tengah memasuki fase menjelang mabung atau pergantian bulu. Sinchan mengaku tidak memberikan perlakuan khusus menjelang perlombaan. Ia tetap mengandalkan pola perawatan harian yang selama ini diterapkan.
“Ya simpel sebenarnya. Enggak ada settingan lomba-lomba, cuma settingan harian burungnya,” ujar Sinchan saat menceritakan persiapan Cenil.
Pola pemberian pakan tambahannya pun relatif sederhana. Sinchan menyebut jangkrik menjadi satu-satunya extra fooding yang diberikan dalam perawatan rutin burung tersebut.
“Standar, cuma jangkrik saja,” katanya.
Cenil sebenarnya sudah sekitar dua bulan menunjukkan kondisi yang mengarah pada mabung, tetapi belum juga memasuki proses pergantian bulu secara tuntas. Sinchan tetap membawanya ke arena untuk satu sesi perlombaan sebelum burung itu beristirahat dan menjalani fase mabung.
“Biasanya yang dulu-dulu enggak mabung-mabung, terus ditarungkan sekali dua kali, lanjut mabung,” ungkapnya.
Keputusan itu bukan semata-mata untuk menguji kemampuan Cenil. Sinchan juga melihat perlombaan tersebut sebagai kesempatan terakhir sebelum burung kesayangannya memasuki masa istirahat. Ia tidak merencanakan tampil di beberapa sesi sekaligus.
“Pemanasan mau mabung. Sudah dua bulan,” ujarnya.
Dari sisi performa, Cenil masih menunjukkan karakter kicauan yang menjadi andalannya. Namun, materi suara yang dibawakan terkadang terdengar terputus-putus. Sinchan mengaitkan kondisi tersebut dengan fase bulu tua yang sedang dialami burungnya.
“Posisi bulu tua sering begitu. Kerjanya tidak kurang top, tetapi lagunya sering patah-patah,” jelasnya.
Di balik kemenangan itu, Cenil memiliki rekam jejak prestasi yang cukup menonjol. Sinchan menyebut burung tersebut telah empat kali meraih hadiah sepeda motor dalam berbagai gelaran lomba berskala nasional. Ia juga menyebut sejumlah event yang menjadi bagian dari perjalanan prestasi Cenil, di antaranya Prasasti, Galuh Pati, dan Anniversary Sumber Rejeki.
Prestasi tersebut turut membuat Cenil pernah mendapatkan tawaran pembelian dengan nilai yang disebut Sinchan mencapai tiga digit. Meski demikian, ia belum bersedia melepas burung yang dirawatnya sendiri itu.
“Pernah ditawar tiga digit, cuma enggak dilepas,” kata Sinchan.
Keputusan mempertahankan Cenil didasarkan pada kedekatan emosional sekaligus pertimbangan mengenai karakter burung yang sudah dipahaminya. Menurut dia, mendapatkan burung lain dengan karakter dan kemampuan serupa bukan perkara mudah, meskipun memiliki dana untuk membeli pengganti.
"Masih eman (sayang). Kalau cuma soal uang, mungkin bisa beli lagi, tetapi belum tentu dapat yang speknya seperti ini,” tuturnya.
Sinchan juga menangani sendiri perawatan dan pelatihan Cenil tanpa bergantung pada pemilik atau perawat lain. Ia menjelaskan bahwa di rumahnya hanya ada satu murai batu, sedangkan burung lain yang turut dipersiapkan untuk perlombaan berada di rumah berbeda dan dibawa oleh rekan-rekannya.
“Saya sendiri yang merawat, melatih sendiri,” ujarnya.
Ia memilih fokus pada murai batu dan tidak merawat jenis burung lain. Pola tersebut membuat perhatian terhadap karakter, kebiasaan, dan kondisi burung dapat dilakukan secara lebih terarah.
Lanjut Sinchan, kemenangan Cenil di kelas utama menjadi tambahan prestasi sebelum burung tersebut memasuki masa mabung. Ia berencana menunggu proses pergantian bulu selesai sebelum kembali mempersiapkannya untuk berlaga dalam kompetisi berikutnya.
Sementara itu, tingginya minat peserta pada kelas murai batu menjadi salah satu tantangan penyelenggaraan festival. Ketua Panitia Festival Lomba Burung Berkicau Piala Bakorwil III Malang, Bowo Las, menyebut kelas murai batu menjadi salah satu kategori dengan antusiasme paling tinggi dari kalangan kicau mania.
Menurut Bowo, sesi murai batu dari A hingga I telah terisi. Ia merinci sejumlah kelas yang ditawarkan, mulai dari sesi A dengan tiket Rp55 ribu, sesi B Rp120 ribu, sesi C Rp220 ribu, hingga sesi D dan E masing-masing Rp150 ribu. Pada sesi F dan G, masing-masing tersedia 75 tiket dengan harga Rp1 juta.
“Kalau murai batu ini, antusias kicau mania rata-rata memang ramai. Sesi A sampai dengan I sudah terisi, tiketnya terjual,” kata Bowo.
Tingginya peminat murai batu juga terlihat dari keberlanjutan kegiatan di Gantangan Wijaya Kusuma. Bowo mengatakan arena tersebut telah menarik perhatian komunitas kicau mania sejak pertama kali diluncurkan. Kegiatan perlombaan bahkan rutin digelar setiap Minggu.
Peserta yang datang tidak hanya berasal dari Malang Raya. Bowo menyebut komunitas dari berbagai daerah, termasuk Banyuwangi, Sidoarjo, Gresik, hingga Jakarta, pernah mengikuti kegiatan di arena tersebut.
Untuk menjaga minat peserta, pengelola juga menyiapkan agenda lain di luar jadwal rutin. Bowo menyebut rencana lomba bersama pada 25 Oktober disiapkan agar peserta tidak jenuh dan kegiatan komunitas tetap memiliki variasi.
Selain jumlah peserta, Bowo menyoroti aspek penjurian sebagai faktor yang memengaruhi kepercayaan penghobi terhadap sebuah arena lomba. Menurutnya, kondisi gantangan yang terbuka dan pandangan juri yang jelas terhadap burung membantu proses penilaian berlangsung lebih terukur.
“Kalau melihat gantangan ini, orang-orang bilang enak dan kelihatan terang. Pandangan ke burung mantap,” ujarnya.
Bowo mengklaim selama gelaran berlangsung tidak ada peserta yang menyampaikan protes terhadap hasil penjurian. Ia menilai kejelasan pandangan dan koordinasi antarpihak menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran kompetisi.
Pengaturan juri dilakukan dengan sistem rotasi. Bowo menyebut terdapat 11 juri yang bertugas di lingkungan Jaya Besu dan Gantangan Wijaya Kusuma. Penempatan mereka diatur bergantian, dengan koordinasi antara dirinya dan Muslimin Nyoni selaku pengelola sekaligus penyelenggara di Gantangan Wijaya Kusuma.
“Juri kita rolling. Jadi, hari ini bergantian, supaya penilaian tetap berjalan dengan baik,” katanya.
Mekanisme penilaian dilakukan dengan membagi arena ke dalam sejumlah blok. Setiap blok memuat enam burung yang diamati oleh juri sesuai wilayah tugasnya. Burung-burung yang dinilai memiliki performa terbaik kemudian diajukan ke tahap nominasi.
Bowo menjelaskan jumlah burung yang masuk nominasi dapat berkisar lima hingga tujuh ekor. Namun, masuk nominasi tidak otomatis menjamin kemenangan karena panitia tetap menetapkan lima burung sebagai pemenang dalam kategori yang menggunakan mekanisme tersebut.
“Burung yang masuk nominasi belum tentu juara, karena kejuaraannya kita ambil lima,” jelasnya.
Ia mengatakan ruang nominasi yang lebih luas diberikan agar juri dapat menilai performa burung tanpa merasa terbebani ketika banyak peserta menunjukkan kualitas yang relatif berimbang. Sebelum lomba dimulai, koordinasi juga dilakukan untuk menyamakan pemahaman mengenai mekanisme penilaian.
Baca Juga: Gempa di Jatim Pada Awal Oktober Didominasi Dangkal, Guncangan Magnitudo 4,4 Terjadi di Pacitan