JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Perkuat Ekosistem Tenun Gedog, Pemprov dan DPRD Jatim Bedah Kesiapan Desa Wisata Baru di Tuban

Reporter: Muhammad Choirul Anwar • Editor: Yunan Helmy
📅 9 Oktober 2026, 15:05 WIB • ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) bersama DPRD Jatim membedah langkah strategis penguatan ekosistem kriya warisan budaya khas Tuban, yakni batik tulis tenun gedog, agar semakin memiliki dampak berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui kolaborasi lintas sektor, dua desa produsen utama di Kecamatan Kerek—yakni Desa Margorejo dan Desa Kedungrejo—yang telah berstatus sebagai Desa Devisa sejak 2022, kini tengah disiapkan untuk bertransformasi menjadi kawasan Desa Wisata.

Batik tulis tenun gedog Tuban merupakan salah satu wastra Nusantara yang memiliki keunikan tersendiri, karena menggabungkan teknik pembuatan tenun dan batik tulis secara beriringan. Proses pembuatannya terbilang sangat khas dan alami, dimulai dari penanaman hingga pemintalan benang dari kapas lowo asli Tuban.

Tradisi kriya yang diperkirakan telah mengakar sejak era Kerajaan Majapahit ini juga telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum sebagai bentuk perlindungan hak cipta dan legitimasi keaslian asal daerah. 

Keunggulan kualitas dan keunikan motifnya telah membawa tenun gedog menembus pasar internasional, mengantarkan Desa Margorejo dan Kedungrejo menyandang status Desa Devisa sekaligus penopang utama ekonomi masyarakat lokal.

Meski aktivitas ekspor telah mendatangkan devisa dan menggerakkan ekonomi perajin, Pemprov dan DPRD Jatim mendorong perluasan dampak ekonomi melalui pengembangan sektor pariwisata berbasis pengalaman.

Anggota Komisi B DPRD Jatim yang juga Ketua Dekranasda Kabupaten Tuban, Aulia Hany Mustikasari, menegaskan pentingnya penyiapan ekosistem yang matang agar pengembangan Desa Wisata tidak bersifat sementara atau sekadar mengikuti tren musiman.

"Desa Wisata ini diharapkan berkelanjutan, tidak hanya sekadar mengikuti — bahasa anak-anak sekarang itu FOMO — yang cuman satu kali datang terus nanti tidak mau datang lagi," tegas Mbak Hany, sapaan akrabnya, dalam Podcast NGODE yang disiarkan di kanal YouTube JTNTV milik JatimTIMES. 

Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda dan sinergi subsektor ekonomi kreatif menjadi pilar kunci dalam membangun keberlanjutan tersebut. Menurutnya, potensi kriya ini perlu dikenalkan secara utuh agar tumbuh rasa bangga dan penghargaan terhadap tradisi lokal.

"Kami berharap ini bukan hanya sekadar produknya saja, tapi ada value lain. Prosesnya kita kenalkan untuk menjadi sebuah ekosistem. Kita juga menarik minat teman-teman muda menghargai bahwa budaya ini juga ada di Kabupaten Tuban dan ini menghasilkan devisa untuk Kabupaten Tuban dan Jawa Timur," tambahnya.

Mbak Hany juga menyoroti pentingnya pengawasan anggaran dan efektivitas program di lapangan. Pihaknya di Komisi B DPRD Jatim terus mengawal agar alokasi program tidak menguap pada kegiatan yang sekadar seremonial semata.

"Penekanan kami di komisi bagaimana anggaran ini bukan cuman bersifat seremonial tapi memang bisa dirasakan langsung. Pelatihan pun bukan cuman sekedar teori, tapi dari dinas juga memberikan stimulus alat. Jadi tidak menguaplah bahasanya pelatihan ini," tutur legislator muda Fraksi Partai Golkar tersebut.

Dukungan dari legislatif tersebut diamini oleh pihak eksekutif. Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekraf Disbudpar Jatim, Ali Afandi, menjelaskan, pengembangan Desa Wisata membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif dan menyeluruh.

"Kalau di Desa Wisata ini wisatawan harus mengalami. Nanti orang yang berkunjung di sana itu bukan hanya beli kain, tapi bisa merasakan bagaimana aktivitas ketika menenun atau memberikan pewarnaan. Storytelling-nya harus diperkuat bahwa ini mulai zaman Majapahit, dan itu perlu pembinaan," jelas Ali Afandi.

Disbudpar Jatim mendorong pembentukan kesadaran kolektif warga melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna, termasuk kesiapan standar pelayanan serta kebersihan homestay. Potensi wisata ini juga akan dipadukan dengan daya tarik lokal lainnya di Tuban, mulai dari kekayaan kuliner khas seperti Nasi Becek, hingga integrasi rute perjalanan (travel pattern) menuju objek wisata alam sekitar seperti Goa Ngerong di Rengel.

Melalui langkah bersinergi antara legislatif, eksekutif, dan masyarakat lokal ini, Desa Margorejo dan Kedungrejo diharapkan siap tampil sebagai destinasi unggulan baru di Jatim yang mandiri, menghidupkan ekonomi warga, serta berdaya saing global.


Baca Juga: Dispendukcapil Kabupaten Blitar Gandeng Inspektorat Cegah Gratifikasi, Tegaskan Layanan Gratis

Baca Juga: Dorong Kemandirian UMKM Perempuan, Ning Ita Ingin Ekonomi Masyarakat Meningkat

Topik Terkait
# Tenun gedog# Tuban# DPRD Jatim# Pemprov Jatim# desa wisata

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap