JATIMTIMES - Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim), Abdul Halim, terus mengawal rencana peluncuran koridor baru Trans Jatim di Malang Raya. Halim memastikan, Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya siap diluncurkan pada akhir Oktober ini.
Terkait hal tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) bersama DPRD Jatim telah menyepakati alokasi anggaran sebesar Rp5,6 miliar dari APBD Jatim untuk merangkul para pelaku angkutan umum lokal di Malang. Pengucuran anggaran ini menjadi solusi konkret atas penataan sistem pengumpan (feeder) di Malang.
Ketua Komisi D DPRD Jatim, Abdul Halim, menegaskan bahwa operasional Trans Jatim di Malang Raya memerlukan pendekatan inklusif melalui pelibatan angkutan kota (angkot) agar kehadiran armada bus modern tersebut tidak mematikan piring nasi para sopir lokal.
"Kota Malang ini kan termasuk salah satu kota di Indonesia yang angkutan kotanya masih jalan, sama dengan Bogor. Maka kehadiran Trans Jatim tidak boleh mematikan angkutan lokal, tetapi justru diberdayakan menjadi feeder," ujar Abdul Halim, dikonfirmasi Selasa (6/10/2026).
Legislator Fraksi Partai Gerindra ini menjelaskan, alokasi anggaran pemberdayaan dan penyiapan sistem pengumpan tersebut awalnya direncanakan sebesar Rp3,5 miliar. Namun, setelah melalui serangkaian kajian, koordinasi lapangan, serta komunikasi intensif bersama asosiasi sopir angkutan kota, nilai anggaran disepakati naik menjadi Rp5,6 miliar.
"Awalnya dialokasikan Rp3,5 miliar, tapi setelah dinas melakukan komunikasi dan kajian mendalam bersama asosiasi angkot di Malang, akhirnya disepakati naik menjadi Rp5,6 miliar. Anggaran ini disiapkan untuk fasilitas pemberdayaan, penyiapan rute feeder, hingga pembangunan halte pendukung," paparnya.
Dukungan anggaran feeder ini disiapkan untuk menopang pengembangan tiga koridor Trans Jatim di wilayah Malang Raya. Koridor 1 rute Terminal Hamid Rusdi (Kota Malang) menuju Terminal Batu via Terminal Landungsari telah beroperasi sejak November 2025 dengan tarif Rp5.000 untuk umum dan Rp2.500 untuk pelajar, santri, serta mahasiswa.
Adapun koridor yang siap diluncurkan pada akhir bulan ini adalah Koridor 2 rute Terminal Arjosari – Sulfat – Terminal Madyopuro – Terminal Hamid Rusdi – Gondanglegi – Terminal Talangagung (Kepanjen) sepanjang kurang lebih 49 kilometer. Layanan ini dilengkapi skema bebas tarif lanjutan bagi penumpang yang berpindah antarkoridor dalam kurun waktu di bawah dua jam.
Sementara itu, Koridor 3 yang melayani pengembangan rute wilayah Malang Raya hingga Pasuruan masih dalam tahap persiapan serta perencanaan lanjutan yang ditargetkan mulai dibahas dan dioperasikan pada tahun depan.
Langkah akomodatif dan pengembangan rute ini dinilai sangat krusial mengingat Malang Raya merupakan kawasan aglomerasi penopang utama ekonomi Jatim setelah Surabaya Raya.
"Aglomerasi Malang Raya itu menyumbang sekitar 20 sampai 30 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jawa Timur. Karena itu dinamika transportasi di sana harus diselesaikan secara bijak dan mengedepankan keberlanjutan ekonomi para sopir angkot," jelas Halim.
Dengan tuntasnya formulasi skema pemberdayaan dan kepastian anggaran feeder tersebut, Halim memastikan peluncuran Koridor 2 Trans Jatim di Malang Raya tetap direalisasikan pada bulan ini sebagai kado spesial Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jatim.
"Peluncuran koridor baru ini memang bergeser sedikit dari jadwal semula 12 Oktober karena penuntasan skema pemberdayaan di lapangan. Tapi kami pastikan launching tetap dilaksanakan pada akhir Oktober ini sebagai kado Hari Jadi Provinsi Jawa Timur," tegasnya.
Baca Juga: Kejar Daerah Lain, Ketua Komisi D DPRD Jatim Ungkap Urgensi Transportasi Terintegrasi
Baca Juga: Sopir Angkot Tolak TransJatim, DPRD Kota Malang Dorong Dialog dan Skema Kompensasi