JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Heboh Pes Peru Dicurigai Jadi Penyebab Peneliti Rusia Meninggal, Ini Faktanya

Reporter: Binti Nikmatur • Editor: Yunan Helmy
📅 5 Oktober 2026, 16:23 WIB • ⏱️ 3 menit baca

JATIMTIMES - Kematian seorang pekerja di lembaga penelitian antipes Rusia tengah menuai sorotan. Bahkan muncul dugaan bahwa kematiannya dikaitkan dengan penyakit pes peru.

Namun fakta terbaru menyebutkan perempuan berusia 28 tahun itu meninggal setelah mengalami pneumonia yang penyebabnya belum diketahui.

Sebelumnya, kabar kematian peneliti itu viral beredar di media sosial. Salah satunya akun Threads @/yapolo**** yang mengunggah informasi terkait bakal adanya pandemi gegara kematian peneliti tersebut. 

"YA TUHANNNN PANDEM! 2 IS COMING! SIAP2 LOCKDOWN LAGI! Seorang perempuan dilaporkan meninggal akibat penyakit pes (plague) di Rusia. Sekitar 200 orang yg pernah kontak dengannya sedang dalam pengawasan medis, dan fasilitas terkait dikunci sementara. Katanya ini penyebaran lebih akan massive dan cepat menyebar dari copid 19. Apakah ini “PANDEMI” lagi yg di gunakan utk memusnahkan kita. sudahlah hidup berat, kita pun akan di vaksin dan buat sakit lagi. SIAP2! JANGAN TRAVEL KE LN DULU," tulis akun tersebut. 

Sontak unggahan itu pun menuai beragam respons dari warganet. Banyak warganet yang mulai khawatir dengan kabar tersebut. 

Sebagai informasi, korban bekerja di Irkutsk Anti-Plague Research Institute di Shelekhov, wilayah Irkutsk, Siberia. Kabar soal dugaan pes paru muncul setelah sejumlah laporan mengaitkan kematiannya dengan kemungkinan insiden di laboratorium. Penyakit yang dicurigai adalah pes paru, salah satu bentuk infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis.

Namun sampai sekarang, pes paru belum terbukti sebagai penyebab kematian korban. Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan korban didiagnosis mengalami "pneumonia of unknown etiology" atau pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

Pemeriksaan sampel kemudian diperluas. Hasilnya, tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan korban di laboratorium.

Rospotrebnadzor juga menyatakan kondisi epidemiologi di Irkutsk dan Shelekhov masih stabil.

Mengapa Pes Paru Sempat Dicurigai?

Dugaan penyakit pes peru muncul karena korban bekerja di lembaga yang memang menangani penelitian penyakit pes. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut ada kemungkinan terjadi kecelakaan laboratorium yang melibatkan bahan biologis berbahaya. Namun informasi mengenai kecelakaan tersebut belum terkonfirmasi secara resmi.

Kepala wilayah Buryatia Alexei Tsydenov sebelumnya mengatakan korban kemungkinan meninggal karena pes. Di sisi lain, dia menegaskan tidak ada wabah pes di Buryatia.

Hingga saat ini, orang-orang yang diketahui melakukan kontak dengan korban juga dipantau. Dilansir dari laporan sejumlah media Internasional menyebut jumlahnya hampir 200 orang.

Gubernur Irkutsk Igor Kobzev mengatakan orang-orang yang sudah teridentifikasi sebagai kontak ditempatkan dalam pengawasan medis. Sejauh ini tidak ditemukan gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium mereka dilaporkan negatif.

Sejumlah laporan juga menyebut adanya langkah pencegahan di beberapa fasilitas kesehatan di Irkutsk. Pabrik aluminium di Shelekhov bahkan meminta pekerjanya menggunakan masker.

Langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran yang muncul setelah kematian pekerja laboratorium tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti pneumonia yang dialami korban masih belum diketahui. Pemerintah Rusia juga menyatakan kondisi epidemiologi di wilayah Irkutsk dan Shelekhov tetap stabil.

Pes paru sendiri memang termasuk bentuk pes yang serius. Penyakit ini menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan dari saluran pernapasan. Bakteri penyebabnya adalah Yersinia pestis.

Penyakit tersebut bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Namun pes dapat diobati dengan antibiotik jika pengobatan diberikan sedini mungkin.

Baca Juga: Media Israel Sindir Prabowo usai Teriak “Free Palestine”, Setahun Lalu "Shalom"

Baca Juga: Raja Norwegia Harald V Meninggal Dunia, Sempat Dirawat karena Anemia Hemolitik

Topik Terkait
# Pes peru# peneliti Rusia meninggal

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap