JATIMTIMES - Kopi lokal Malang sedang mencoba keluar dari lingkarannya sendiri. Bukan lagi hanya menyasar mereka yang rutin mendatangi coffee shop atau tergabung dalam komunitas kopi, tetapi memburu konsumen baru yang selama ini mungkin bahkan belum tahu berapa banyak pilihan brand kopi yang lahir dari Kota Malang.
Upaya itu terlihat dalam Pasar Kopi Lokal 2026 yang digelar Kondimen Malang di Transmart Malang Lantai 3, 1-4 Oktober 2026. Sebanyak 23 tenant ambil bagian dalam gelaran tersebut, dengan sekitar 16 di antaranya merupakan brand asal Malang.
Co-Founder Kondimen, Rexi Tegar Pratama mengatakan, pemilihan ruang publik bukan tanpa alasan. Ia melihat acara kopi selama ini cenderung berputar di tempat-tempat yang memang sudah menjadi tujuan para pencinta kopi.
“Semua acara kopi itu biasanya di tempat kopi. Yang datang cuma anak-anak kopian saja. Saya ingin orang-orang yang non-kopian juga datang,” ujar Rexi, Kamis (1/10/2026).
Bagi Rexi, persoalannya bukan semata bagaimana menjual lebih banyak kopi. Tantangannya adalah membuat masyarakat yang tidak memiliki keterikatan dengan komunitas kopi mengetahui bahwa Malang memiliki banyak brand lokal yang produknya layak diperhitungkan.
Masyarakat yang datang ke Transmart untuk berbelanja, menonton film atau sekadar menghabiskan waktu kini memiliki kesempatan menemukan brand-brand tersebut tanpa harus lebih dulu masuk ke ekosistem perkopian.
“Harapannya brand-brand ini punya pasar baru. Orang yang awalnya tidak tahu kalau di Malang itu brand kopinya banyak dan pilihannya banyak, jadi tahu,” ungkapnya.
Pasar Kopi Lokal 2026 mempertemukan 23 tenant. Sekitar 16 di antaranya merupakan brand Malang, sementara sejumlah tenant lainnya datang dari luar kota seperti Surabaya dan Jombang.
Amstirdam Coffee, Brewijaya Coffee, Oirama dan Twee Hander menjadi sebagian dari brand lokal yang ikut mengambil ruang dalam event tersebut.
Komposisi tenant ini menjadi bagian penting dari konsep yang dibawa Kondimen. Sebab, gelaran tersebut tidak hanya menghadirkan produk kopi untuk dicicipi, tetapi juga mempertemukan brand lokal dengan konsumen yang berada di luar lingkaran pelanggan mereka.
Rexi mengakui, salah satu persoalan yang masih dihadapi brand kopi Malang adalah tingkat pengenalan masyarakat. Di tengah menjamurnya kedai dan produk kopi dari berbagai daerah, nama-nama dari luar kota terkadang justru lebih mudah diingat.
“Semangat Kondimen dari awal berdiri itu untuk mempromosikan kopi lokal Malang sendiri yang sebenarnya berpotensi sekali bersaing dengan kopi-kopi lain,” ungkapnya.
Karena itu, Pasar Kopi Lokal diposisikan sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa brand Malang tidak sekadar menjadi penonton di tengah pertumbuhan industri kopi.
“Di sini saya menghadirkan brand Malang yang memang benar-benar pede kalau produk kita sudah oke,” katanya.
Ada satu hal yang coba diputus dari gelaran ini, yakni anggapan bahwa kopi sebatas minuman yang tinggal diminum.
Masing-masing tenant membawa karakter produk sekaligus pengetahuan mengenai kopi. Pengunjung dapat mengetahui asal biji, proses pengolahan, tingkat gilingan hingga metode penyeduhan yang digunakan untuk menghasilkan karakter rasa tertentu.
“Selain pengunjung bisa mencicipi berbagai kopi, pengunjung juga bisa menambah pengetahuan tentang kopi,” tuturnya.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pasar yang dibidik bukan hanya penikmat kopi yang sudah memahami istilah seperti proses pascapanen, roasting atau metode seduh. Orang yang selama ini hanya mengenal kopi instan pun menjadi bagian dari sasaran Pasar Kopi Lokal.
Dengan demikian, transaksi bukan satu-satunya tujuan. Ada upaya membuat konsumen memahami alasan di balik rasa yang mereka temukan dalam secangkir kopi.
Tanggal penyelenggaraan hari pertama juga bertepatan dengan International Coffee Day pada 1 Oktober. Kondimen memanfaatkan momentum tersebut dengan kembali membagikan seduhan kopi gratis kepada masyarakat.
Seduhan diberikan mulai pukul 16.00 hingga 20.00 WIB menggunakan biji kopi pilihan dari Malang dan sekitarnya. Guest brewer Lesmana Radit dan Penunggang akan terlibat langsung dalam penyeduhan.
Namun, Pasar Kopi Lokal tidak hanya menarik massa melalui kopi. Pojok Kudapan Monique’s Sossis, Live Tunes SWA serta agenda lari bersama komunitas “me against me” turut dimasukkan dalam rangkaian acara.
Kehadiran komunitas lari juga menunjukkan upaya penyelenggara mencari irisan dengan kelompok masyarakat yang tidak secara langsung berkaitan dengan kopi.
“Orang lari biasanya juga ngopi. Jadi saya coba masukkan,” imbuhnya.
Agenda lain yang menarik perhatian adalah Tarung Tiga Regional Malang, hasil kolaborasi Kondimen dengan Jakarta Coffee Week atau Jacoweek.
Dalam kompetisi tersebut, peserta tidak bisa mengandalkan nama brand maupun pengetahuan mengenai kopi yang sedang disajikan. Konsep blind tasting membuat tiga seduhan dicicipi tanpa identitas.
Peserta kemudian harus menentukan seduhan yang menurut mereka paling enak. Konsekuensinya cukup menarik karena peserta bisa saja justru tidak memilih kopi yang diseduhnya sendiri.
“Ketika blind test dia sendiri tidak bisa memilih kopi seduhannya sendiri, itu rasanya sakit hati. Padahal aku yang nyeduh, kok aku yang kalah,” jelasnya.
Tiga peserta terbaik dari regional Malang nantinya mendapat kesempatan mewakili Malang dalam Tarung Tiga di Jakarta Coffee Week pada Desember 2026. Babak penyisihan berlangsung pada hari ketiga. Semifinal dan final dilanjutkan pada hari keempat.
Selain itu, terdapat kompetisi Latte Art bersama Master Kopi pada hari kedua. Coffee Bar Experience, community gathering dan hiburan DJ juga menjadi bagian dari rangkaian event.
Perpindahan lokasi ke area yang lebih luas turut membawa target baru. Tahun lalu, Pasar Kopi Lokal mencatat sekitar 2.000 pengunjung selama tiga hari. Tahun ini, Kondimen membidik 3.500 hingga 4.000 pengunjung selama empat hari.
“Karena tempatnya lebih luas, saya harap dua kali lipat. Paling tidak 3.500 atau 4.000 pengunjung,” ucapnya.
Target itu bukan sekadar soal jumlah orang yang datang. Bagi brand lokal, semakin banyak pengunjung dari luar komunitas kopi berarti semakin besar pula peluang produk mereka ditemukan konsumen baru.
Di titik inilah Pasar Kopi Lokal 2026 mencoba menggeser cara brand kopi Malang mencari pasar. Bukan menunggu konsumen datang ke kedai, tetapi membawa produk langsung ke ruang yang setiap hari didatangi masyarakat.
Kopi lokal Malang pun sedang diuji di hadapan konsumen yang lebih luas, termasuk mereka yang sebelumnya mungkin tidak pernah merasa perlu mencari tahu dari mana secangkir kopi berasal.
Baca Juga: Husnul Aqib Ajak Warga Jaga Persatuan dan Toleransi
Baca Juga: Ojol Jadi Mata dan Telinga Polisi di Jalan, Satlantas Banyuwangi Buka Jalur Laporan Jalan Rusak