JATIMTIMES – Aspirasi yang masuk melalui Kanal Sapa Mas Wali berbuah kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin menyambut 27 siswa baru yang bergabung dengan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar, Senin (28/9/2026).
Kehadiran mereka menambah jumlah siswa Sekolah Rakyat menjadi sekitar 217 anak. Dari 27 siswa baru tersebut, tujuh berasal dari Kota Blitar dan 20 lainnya dari Kabupaten Blitar. Khusus 20 anak asal Kabupaten Blitar, orang tua mereka sebelumnya menyampaikan harapan melalui Kanal Sapa Mas Wali agar putra-putrinya mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat.
Baca Juga : Tak Ingin Kasus SMPN 18 Terulang, Pemkot Malang Dorong Sekolah Bentuk Satgas Anti-Kekerasan
Mas Ibin mengatakan, penambahan siswa secara bertahap memang menjadi bagian dari desain Sekolah Rakyat. Sistem pendidikan berasrama memungkinkan anak yang bergabung belakangan tetap mengejar proses pembelajaran karena waktu belajar dan pendampingan lebih panjang.
“Sekitar 27 siswa masuk. Sekolah ini memang didesain untuk masuk secara bertahap. Karena sekolah asrama, jam belajarnya lebih banyak daripada sekolah nonasrama. Jadi, meskipun masuk agak akhir, tidak perlu khawatir ketinggalan pelajaran,” kata Mas Ibin.
Sapa Mas Wali Jadi Jembatan Akses Pendidikan
Masuknya siswa baru menunjukkan fungsi Sapa Mas Wali berkembang lebih luas dari sekadar kanal pengaduan layanan publik. Kanal komunikasi Pemerintah Kota Blitar itu juga menjadi jembatan bagi warga untuk menyampaikan persoalan sosial dan kebutuhan pendidikan kepada pemerintah.
Sapa Mas Wali diluncurkan Pemkot Blitar sebagai kanal komunikasi dua arah untuk menampung aspirasi, aduan, maupun pertanyaan masyarakat. Laporan yang masuk diverifikasi sebelum diteruskan kepada perangkat daerah terkait untuk ditindaklanjuti. Masyarakat dapat mengakses layanan tersebut melalui WhatsApp di nomor 0821-4672-6600.
Mas Ibin mengatakan sebagian siswa baru kali ini berangkat dari aspirasi yang disampaikan melalui Sapa Mas Wali. Pemkot kemudian mengecek kondisi calon siswa untuk memastikan program tepat sasaran.
“Sebagian besar memang ada yang mengusulkan melalui Kanal Sapa Mas Wali. Bahkan beberapa dari luar Kota Blitar juga kami cek. Kalau kondisinya memang memungkinkan dan memenuhi untuk Sekolah Rakyat, kami berikan kesempatan,” ujarnya.
Kepala Dinas Sosial Kota Blitar Eka Atikah menjelaskan, 20 siswa asal Kabupaten Blitar tersebut seluruhnya berproses setelah orang tua mereka menyampaikan aspirasi melalui Sapa Mas Wali. Kondisi keluarga kemudian diperiksa, termasuk kesesuaiannya dengan desil yang menjadi persyaratan program.
“Yang masuk hari ini dari kabupaten seluruhnya melalui Kanal Sapa Mas Wali. Orang tuanya berharap anaknya bisa bersekolah di Sekolah Rakyat. Dengan berbagai kondisi permasalahan keluarga, kemudian kami cek desilnya dan semuanya memenuhi syarat,” kata Eka.
Menurut Eka, proses tersebut tetap melewati tahapan administrasi. Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten memproses calon siswa melalui sistem yang tersedia. Data selanjutnya diverifikasi, dibahas dalam pleno, hingga ditetapkan melalui keputusan Wali Kota.
“Prosesnya melalui pendamping PKH Kabupaten. Setelah itu kami verifikasi, kalau memenuhi syarat kemudian kami plenokan dan selanjutnya ditetapkan melalui SK Wali Kota,” kata Eka.
Pendidikan Anak, Keluarga Ikut Diberdayakan
Mas Ibin menegaskan Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi keluarga yang benar-benar membutuhkan. Selama kuota masih tersedia, pemerintah berupaya memastikan fasilitas yang telah disiapkan negara dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai tujuan pendirian Sekolah Rakyat oleh Kementerian Sosial.
Pemkot Blitar juga tidak ingin intervensi berhenti setelah anak masuk sekolah. Mas Ibin meminta Dinas Sosial mengecek kondisi keluarga siswa asal Kota Blitar. Bila memenuhi persyaratan, keluarga dapat dihubungkan dengan program perbaikan rumah maupun pemberdayaan ekonomi.
“Kalau warga Kota Blitar, tolong dicek rumahnya. Nanti bisa difasilitasi bedah rumah dan fasilitas pemberdayaan ekonomi juga akan kami berikan kepada keluarga yang anaknya disekolahkan di Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Baca Juga : Wali Kota Blitar Bekali Pengurus OSIS Wawasan Kebangsaan, Siapkan Generasi Emas 2045
Pendekatan itu menempatkan pendidikan sebagai pintu masuk untuk memutus rantai persoalan sosial keluarga. Anak memperoleh pendidikan, pengasuhan, tempat tinggal, dan ruang pengembangan potensi, sementara kondisi sosial-ekonomi keluarganya turut menjadi perhatian pemerintah.
Eka berharap warga Kota Blitar yang memenuhi persyaratan memanfaatkan kuota yang masih tersedia. Menurut dia, perkembangan anak-anak yang telah lebih dahulu tinggal di Sekolah Rakyat mulai terlihat. Mereka tidak hanya mengikuti pembelajaran akademik, tetapi juga mendapat ruang luas untuk mengembangkan bakat.
“Kami berharap warga Kota Blitar sedapat mungkin memanfaatkan peluang ini. Baru sekitar sebulan saja perkembangannya sudah luar biasa. Anak-anak mulai terlatih berbahasa Inggris. Kemarin juga ada tiga anak yang mengikuti kejuaraan silat, ada yang meraih juara satu dan juara dua,” kata Eka.
Sekolah Rakyat juga menyediakan lebih dari 20 pilihan kegiatan ekstrakurikuler yang disesuaikan dengan jenjang SD, SMP, dan SMA. Keragaman kegiatan tersebut diarahkan untuk menemukan sekaligus mengembangkan minat dan potensi masing-masing anak.
Dampingi Siswa Baru Melewati Masa Adaptasi
Di hadapan 27 siswa baru, Mas Ibin turut memberi perhatian pada masa adaptasi kehidupan berasrama. Ia memahami anak yang baru berpisah dari keluarga berpotensi mengalami homesick. Kondisi tersebut, menurut dia, merupakan fase yang wajar.
Mas Ibin bahkan meminta siswa yang sudah lebih dahulu tinggal dan mulai betah di Sekolah Rakyat membantu teman-teman barunya beradaptasi.
“Mereka mungkin akan homesick dulu, kangen keluarga. Saya minta teman-teman yang sudah kerasan di sini ikut menghibur. Itu wajar pada awal-awal. Insyaallah setelah beberapa hari atau beberapa minggu mereka mulai kerasan,” katanya.
Ia menunjuk perkembangan Afrilia Ayu Agustin atau April sebagai salah satu contoh. April merupakan siswa yang sebelumnya dijemput langsung Mas Ibin dari rumahnya untuk kembali melanjutkan pendidikan. Setelah sekitar dua pekan tinggal di Sekolah Rakyat, Mas Ibin melihat April telah mampu beradaptasi dan berbaur dengan teman-temannya.
“Saya lihat anak-anak yang sudah sekitar satu setengah bulan di sini sudah kerasan. Bahkan April yang baru masuk dua minggu sekarang sudah terlihat cerah dan kerasan bersama teman-temannya. Jadi orang tua tidak perlu khawatir anaknya bersekolah di Sekolah Rakyat,” kata Mas Ibin.
Pengalaman siswa yang telah lebih dahulu masuk itu diharapkan mengurangi kekhawatiran orang tua. Menurut Mas Ibin, kehidupan berasrama justru memberikan ruang pembentukan kemandirian, disiplin, dan karakter secara lebih intensif.
Dengan total siswa kini sekitar 217 anak dari kapasitas 270 siswa, penerimaan Sekolah Rakyat masih terbuka. Masih tersedia sekitar 53 tempat bagi calon siswa yang memenuhi persyaratan. Mas Ibin pun mengajak keluarga, terutama warga Kota Blitar, memanfaatkan kesempatan tersebut.
“Kuotanya masih ada. Bagi warga Kota Blitar yang anaknya sudah diundang dan sudah disurvei, masukkan saja ke Sekolah Rakyat. Anak-anak di sini senang. Kami ingin Sekolah Rakyat ini betul-betul dimanfaatkan masyarakat yang sangat membutuhkan,” pungkas Mas Ibin.