JATIMTIMES – Di tengah pesatnya pertumbuhan gerai makanan cepat saji dan jajanan modern kekinian, eksistensi penjual makanan tradisional polo pendem di Kota Batu tetap berdiri kokoh. Jajanan rebusan dan kukusan alami seperti singkong, ubi jalar, jagung, kacang tanah, sukun, hingga pisang kukus ini masih terus diminati sebagai opsi sarapan dan camilan sehat warga lokal.
Keistimewaan polo pendem terletak pada cara pengolahan yang sangat sederhana tanpa melalui proses penggorengan, pengawet, maupun penyedap berlebihan.
Baca Juga : Jejak Umar bin Khattab Hidupkan Kembali Masjid Al-Aqsa, dari Salat Pertama hingga Perjalanan Panjangnya
Cita rasa alami yang kaya nutrisi serta diolah secara higienis dan disajikan hangat membuat jajanan umbi-umbian ini selalu diserbu pembeli dari berbagai kalangan.
Di Kota Batu, terdapat sejumlah lokasi utama yang menjadi rujukan warga untuk berburu kuliner polo pendem hangat dengan harga terjangkau.
1. Polo Pendem Imam Bonjol
Lokasi pertama yakni Lapak Polo Pendem Imam Bonjol milik Maulidya di Kelurahan Sisir. Berjualan sejak 2023, lapak ini menyajikan sepuluh varian rebusan mulai dari sukun, kentang, hingga labu kuning dengan paket seharga Rp5 ribu hingga Rp10 ribu yang selalu ramai sejak pagi.
2. Rebusan Jalan Ahmad Yani Ngaglik
Lokasi favorit kedua berada di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Ngaglik, tepat di depan Polsek Batu. Dijajakan menggunakan gerobak setiap pagi, lapak ini menyajikan aneka kukusan hangat yang sangat cocok dijadikan pendamping minum teh atau sarapan sebelum beraktivitas.
3. CFD Mbatu Sae
Baca Juga : 9 Benda yang Sebaiknya Tidak Diletakkan di Bawah Kasur Menurut Feng Shui, Nomor 5 Sering Dilakukan
Sementara pilihan ketiga dapat ditemukan di arena Car Free Day (CFD) Stadion Gelora Brantas setiap akhir pekan. Lapak milik Nisa Siregar, pelaku UMKM asal Bumiaji, berhasil menarik perhatian pengunjung olahraga yang mencari alternatif jajanan rendah kolesterol di tengah gempuran kuliner berbahan tepung dan gorengan.
Bertahannya deretan pedagang polo pendem ini membuktikan bahwa makanan tradisional berbasis kearifan lokal tetap memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat Kota Batu.