JATIMTIMES – Sebanyak 25 perupa mengolah cerita rakyat (folklor) dan ingatan kolektif warga Kota Batu menjadi karya seni instalasi interaktif. Karya-karya tersebut dipamerkan dalam pameran bertajuk "Panen Tiga Jalan: Temuan, Ramuan, Jamuan" di sebuah vila kawasan Jalan Terusan Bejo, Kelurahan Sisir, hingga 24 September.
Pameran imersif yang digagas oleh kolektif seni Pemuda Bandel berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) ini telah berlangsung sejak 12 September. Seluruh sudut vila disulap menjadi ruang pamer interaktif yang menghadirkan pengalaman sensori berbeda bagi setiap pengunjung.
Baca Juga : Seleksi Direksi 5 BUMD Surabaya Diperpanjang, Ini Syarat dan Posisi yang Dibuka
Pengunjung diajak menyusuri tujuh ruang bertema khusus melalui permainan cahaya, tata suara, penggunaan sensor, hingga instalasi bergerak yang merespons kehadiran manusia.
Isu sosial yang diangkat pun cukup mendalam, mulai dari narasi penuntasan kasus pembunuhan pegiat HAM Munir Said Thalib, hingga dilema petani lokal yang menghadapi tekanan ekologis dan modernisasi.
Perupa Taufiq Rochman mengungkapkan bahwa seluruh karya yang disajikan merupakan buah dari riset lapangan selama tiga bulan di Kota Batu. Riset tersebut memfokuskan pada pengarsipan cerita tutur, mitos, dan ingatan warga yang selama ini belum banyak terkurasi.
"Konsep awalnya kami pengin mengarsip folklor yang ada di Kota Batu, folklor yang enggak populer. Karena kalau keliling, kita sering ketemu cerita-cerita yang belum ada yang ngumpulin. Lewat riset tiga bulan dan sebar angket, akhirnya dijadikan karya seni instalasi," ujarnya saat ditemui JatimTIMES, belum lama ini.
Taufiq menjelaskan bahwa tujuh ruangan vila menyajikan narasi visual yang beragam, di antaranya Redam Alam, Pagar Kasat Mata, Matsari Box (mystery box), Bayang-Bayang Misteri, Wingit, hingga Ruang Duka yang mengeksplorasi kontrol sosial masyarakat.
Baca Juga : Bukan Sekadar Jajanan: Usai Jadi WBTB, Ladu Kota Batu Disiapkan Jadi Sajian Wisatawan
Pemilihan lokasi pameran di area vila nonkonvensional dinilai memberikan keleluasaan bagi para perupa untuk merespons karakter tiap sudut bangunan secara lebih teratur dibandingkan galeri biasa.
"Kalau galeri konvensional kan konsepnya seperti hall atau aula, jadi kita kesulitan kalau misal merespons jadi per ruangan. Kebetulan ketemu di sini dan cocok, ruangannya bisa kita respons masing-masing untuk memberi warna baru pameran di Kota Batu," pungkas Taufiq.