JATIMTIMES - Nasi tumpeng dan aneka jajanan dibawa warga dari rumah Ketua Pelestari Tradisi Pojhian Hodo (red-Pujian Hodo), Haji Muhammad Hariyono. Bukan untuk pesta biasa, hidangan itu menjadi bekal dalam perjalanan ritual Pojhian Hodo, tradisi leluhur masyarakat Padukuan Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo, yang diwariskan lintas generasi untuk memohon turunnya hujan dan keselamatan.
Pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya, tokoh adat dan masyarakat berkumpul untuk menjalani rangkaian ritual yang membawa mereka menyusuri tiga tempat sakral: Gunung Sanuri atau Goa Masali, mata air, dan Batu Tomang. Di setiap tempat, doa dan pujian Hodo dilantunkan dengan iringan alat musik tradisional, disusul makan bersama sebagai bagian dari kebersamaan warga.
Pojhian Hodo bukan sekadar ritual tahunan. Di balik perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, tersimpan hubungan masyarakat dengan alam, penghormatan kepada leluhur, serta keyakinan bahwa manusia harus senantiasa memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menyusuri jejak leluhur di Goa Mas Ali
(Foto: Kondisi Goa Mas Ali salah satu dari 3 tempat sakral dalam ritual tradisi Hodo Pariopo, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES))
Perjalanan ritual dimulai dari rumah ketua Pelestari Tradisi Hodo. Warga membawa nasi tumpeng dan makanan yang telah disiapkan untuk dibawa menuju lokasi-lokasi pelaksanaan ritual. Hidangan tersebut bukan hanya bekal perjalanan, tetapi juga menjadi bagian dari kebersamaan yang mewarnai setiap tahapan Pojhian Hodo.
Tujuan pertama adalah Gunung Sanuri atau Goa Mas Ali, lokasi yang memiliki arti penting bagi masyarakat Pariopo karena terdapat makam leluhur mereka. Di tempat ini, tokoh adat dan warga berkumpul untuk memanjatkan doa sembari melantunkan pujian atau syair Hodo.
Alunan alat musik tradisional mengiringi lantunan syair yang diwariskan dari generasi ke generasi. Suasana ritual menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenang para pendahulu sekaligus menyampaikan harapan agar hujan segera turun dan kehidupan warga senantiasa diliputi keselamatan.
Usai berdoa dan melantunkan pujian Hodo, warga makan bersama. Tumpeng dan makanan yang dibawa dari rumah ketua tradisi dinikmati bersama oleh peserta. Tidak ada sekat yang memisahkan warga dalam kebersamaan tersebut. Tradisi ini sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Pariopo dalam menjaga warisan leluhur.
Dari makam leluhur menuju sumber kehidupan
(Foto: Ritual berdoa di Sumber Mata Air Secap-cap, Salah satu dari 3 tempat sakral dalam ritual tradisi Hodo Pariopo, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES))
Perjalanan kemudian berlanjut menuju mata air atau sumber air yang warga setempat sebut dengan sumber Secap-cap, air yang menetes dan keluar dari sela-sela tebing batu dan akar beringin berusia ratusan tahun membentuk pancuran air yang cukup deras.
Menariknya lokasi mata air ini tepat berada di lereng/kaki gunung Sanuri tempat dimana leluhur warga Pariopo dikebumikan.
Di lokasi ini, doa kembali dipanjatkan dan pujian Hodo dilantunkan dengan iringan alat musik tradisional tepat dibawah akar pohon beringin yang disela-selanya muncul ratusan tetesan air yang tidak pernah kering walau dimusim kemarau panjang sekalipun.
Mata air menjadi bagian penting dalam rangkaian perjalanan tersebut. Jika di Gunung Sanuri masyarakat mengenang leluhur, di sumber air mereka melanjutkan doa dan harapan yang berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan.
Di sini menariknya, percaya atau tidak, kebetulan atau tidak, saat doa dan pujian dilantunkan suasana berubah drastis dari yang sebelumnya cuaca terik kemudian mendadak mendung, awan berkumpul keabu-abuan berkumpul tepat di atas lokasi ritual dilaksanakan.
Kebersamaan yang terulang di setiap lokasi memperlihatkan bahwa Pojhian Hodo bukan hanya tentang rangkaian doa, melainkan juga tentang menjaga hubungan sosial dan rasa persaudaraan di antara masyarakat.
Batu Tomang, tiga batu yang menyimpan makna tradisi
(Foto: Tempat sakral terakhir, Batu Tomang Pedukuan Pariopo, dalam ritual tradisi Hodo, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES))
Dari mata air, perjalanan berlanjut menuju Batu Tomang. Tempat ini memiliki ciri khas berupa tiga batu yang membentuk susunan menyerupai tungku yang biasa digunakan warga desa memasak.
Batu Tomang bukan hanya sekedar batu tapi memiliki makna bagaimana tungku menjadi simbol keberlangsungan hidup warga pedesaan. Selama tungku menyala berarti masih ada yang bisa dimasak untuk dimakan demi menyambung hidup.
Di lokasi tersebut, masyarakat kembali melaksanakan ritual dengan rangkaian yang serupa, memanjatkan doa agar Tuhan senantiasa melencarkan rejeki bagi masyarakat setempat, kemudian melantunkan pujian Hodo, dan menikmati makanan bersama. Tiga tempat yang disinggahi itu menjadi bagian dari satu kesatuan perjalanan adat yang dipertahankan masyarakat Pariopo.
Pengulangan doa dan pujian di setiap lokasi menjadi penanda bahwa ritual Hodo dijalankan melalui tahapan yang diwariskan. Warga tidak sekadar berpindah tempat, tetapi mengikuti rangkaian tradisi yang menghubungkan ruang-ruang penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Usai menyelesaikan ritual di Batu Tomang, seluruh rangkaian perjalanan berlanjut kembali menuju rumah Ketua Tradisi. Di tempat inilah masyarakat menutup kegiatan dengan doa dan syukuran atas kelancaran pelaksanaan tradisi.
Tradisi yang bertahan di tengah perubahan zaman
(Foto: Ketua Tradisi Pojhian Hodo Pariopo, Haji Muhammad Hariyono, usai pelaksanaan upacara tradisi Hodo. (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES))
Ketua Pelestari Tradisi Hodo, Haji Muhammad Hariyono, mengaku sebagai generasi ketujuh yang meneruskan tradisi tersebut. Berdasarkan cerita para sesepuh, ia memperkirakan Hodo telah ada sejak sekitar 1800-an.
“Kami ini sudah turunan ketujuh. Kemungkinan tradisi ini sudah ada sejak tahun 1800-an. Jadi, kami tinggal meneruskan keberadaan Hodo agar tradisi ini tidak hilang,” ungkap Hariyono.
Ia menegaskan, ritual Hodo tetap dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 10 Oktober meskipun dukungan anggaran pemerintah masih terbatas. Selama ini, masyarakat mengandalkan swadaya untuk menjaga agar tradisi tersebut tetap berlangsung.
“Setiap tahun memang rutin dilaksanakan. Tanggal 10 bulan 10 ini sudah ditetapkan. Ada atau tidak ada dukungan pihak luar, masyarakat tetap melaksanakan secara swadaya. Swadaya masyarakat di sini memang luar biasa,” ujarnya.
Hariyono menyebut terdapat 17 orang yang menjadi anggota pelaksana inti ritual. Jumlah tersebut dipertahankan sesuai ketentuan adat yang diwariskan, dan pelaksana inti berasal dari masyarakat Pariopo sendiri.
Bagi masyarakat setempat, mempertahankan Hodo berarti menjaga kesinambungan warisan leluhur. Tradisi ini juga memiliki tujuan utama memohon hujan dan keselamatan bagi masyarakat serta wilayah di sekitarnya.
“Tujuannya satu, meminta hujan. Kedua, memohon agar hujan itu membawa keselamatan bagi masyarakat dan wilayah-wilayah di sekitar sini,” tutur Hariyono.
Pojhian Hodo, perpaduan doa dan budaya lokal
(Foto: Camat Asembagus, Faishol Afandi didampingi Ketua Tradisi Hodo dalam ritual tradisi Hodo Pariopo, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES))
Pojhian Hodo juga menyimpan makna filosofis yang dikaitkan dengan ungkapan bahasa Madura, “Do Hodo”, yang dimaknai bahwa di atas langit masih ada langit. Ungkapan ini mengandung pesan bahwa di atas segala usaha manusia terdapat kekuatan yang lebih tinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam pelaksanaannya, tradisi tersebut mempertemukan unsur keislaman dengan kebudayaan lokal Jawa dan Madura. Pembacaan selawat serta doa-doa Islami berpadu dengan tembang, tarian, syair, dan musik tradisional yang menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat.
Pojhian Hodo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019. Pengakuan tersebut menjadi salah satu pijakan penting untuk menjaga keberlangsungannya sekaligus memperkenalkan tradisi masyarakat Pariopo kepada khalayak yang lebih luas.
Camat Asembagus, Faishol Afandi, mengatakan bahwa pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional harus diikuti dengan upaya pelestarian yang berkelanjutan. Menurutnya, Hodo tidak cukup hanya tercatat secara administratif, tetapi perlu terus diperkenalkan agar dikenal oleh masyarakat di luar Situbondo.
“Sayang sekali kalau masyarakat sudah ikut melestarikan, tetapi sebagian masyarakat yang lain justru apatis. Kebudayaan ini tidak cukup hanya terdaftar, tetapi harus terus digaungkan dan dikenal, tidak hanya oleh masyarakat Situbondo, melainkan juga masyarakat luar,” ujarnya.
Faishol menyampaikan bahwa pemerintah kecamatan telah mengalokasikan anggaran meskipun jumlahnya terbatas. Pihaknya juga membuka peluang untuk mengembangkan kegiatan pendukung agar tradisi Hodo semakin dikenal, termasuk melalui agenda kebudayaan di tingkat kecamatan maupun Desa Bantal.
Baginya, keterlibatan pemerintah, pegiat budaya, dan masyarakat menjadi kunci agar warisan tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan ritual tahunan. Generasi muda juga diharapkan mengenal sejarah, memahami makna, dan ikut menjaga keberlangsungan tradisi.
(Foto: Anggota ritual inti Pojhian Hodo Pariopo, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES))
Di Pariopo, Pojhian Hodo tetap hidup bukan hanya melalui syair yang dilantunkan atau makanan yang dibagikan, tetapi juga melalui langkah masyarakat yang terus mengulang tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah perubahan zaman, mereka menjaga doa, kebersamaan, dan harapan akan hujan sebagai bagian dari warisan budaya yang tak ingin mereka lepaskan.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Bioskop Tayang Awal Oktober 2026, Ada Horor hingga Drama
Baca Juga: Vinoqi Entertainment Jadi Langganan Wedding Orang Have, Ternyata Ini Rahasianya