JATIMTIMES - Keinginan mendapatkan kekayaan secara cepat masih membuat pesugihan bertahan di tengah masyarakat modern. Di tengah kemudahan mencari penghasilan melalui teknologi dan media sosial, praktik yang dikaitkan dengan ritual supranatural itu tetap dipercaya sebagian orang sebagai jalan memperoleh harta secara instan.
Dalam perspektif Islam, persoalannya bukan sekadar bagaimana harta tersebut diperoleh, tetapi kepada siapa seseorang menggantungkan pertolongan. Pesugihan yang melibatkan dukun, sihir atau perjanjian dengan makhluk gaib dinilai bertentangan dengan prinsip tauhid ketika pertolongan tersebut ditujukan kepada selain Allah SWT.
Baca Juga : Infaq hingga Rp1 Juta dan Dana PIP Jadi Sorotan, Wali Murid SMPN 1 Tikung Buka Suara
Pendakwah Buya Yahya kemudian meluruskan mitos yang selama ini menyertai praktik tersebut. Salah satu cerita yang beredar menyebut pelaku pesugihan akan menjadi budak setan setelah meninggal dunia.
Menurut Buya Yahya, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh dan menghadapi konsekuensi atas amal serta dosa yang dibawanya.
“Apakah kalau mati akan jadi budak mereka, puja iblis-iblis itu? Jawabnya adalah tidak,” kata Buya Yahya dalam kajian yang dikutip dari kanal YouTube Al Bahjah.
Ia bahkan mempertanyakan logika di balik mitos tersebut ketika dikaitkan dengan ajaran Islam. “Dia mendapatkan siksa di alam barzakh. Kok jadi budaknya iblis?” ujar Buya Yahya.
Baca Juga : Viral di Threads! Video Siswa Bermesraan di Kafe Malang Tuai Komentar Pedas Warganet
Penjelasan itu menempatkan persoalan pesugihan pada perkara yang lebih mendasar. Ancaman dalam praktik tersebut tidak perlu dibangun melalui cerita bahwa seseorang kelak berubah menjadi pelayan makhluk gaib. Ketika praktiknya mengandung kesyirikan, persoalan utamanya terletak pada hubungan manusia dengan Allah dan dosa yang dilakukan selama hidup.
Mitos lain juga berkembang, termasuk cerita bahwa pelaku pesugihan akan berubah menjadi kera setelah meninggal. Buya Yahya menyebut cerita semacam itu memang pernah didengarnya di tengah masyarakat, tetapi narasi tersebut tidak menjadi dasar untuk menetapkan bagaimana keadaan seseorang setelah kematian.